Langsung ke konten utama

Melodi dan Gema

Alhamdulillah bertemu lagi dengan bulan ramadhan hehe masih pada semangat kan puasanya? Atau jangan-jangan udah ada yang batal lagi? Semoga aja tetap semangat menjalankan ibadah puasanya.. Bulan ini saya akan memposting cerita seperti biasanya, semoga cerita ini bisa menginspirasi bahwa jangan pernah menyerah untuk meraih mimpi. Bahwa ada seseorang yang ditakdirkan untuk berada disisimu untuk menjaga mimpi-mimpimu .. 
Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam menggapai mimpinya. Selama kita pandai menjaga mimpi-mimpi itu dan terus berusaha serta diiringi dengan doa maka tuhan akan melihat seberapa keras usaha kita untuk menggapai mimpi ..
Baiklah gausah banyak omong lagi, langsung aja dibaca hehe



Melodi dan Gema

            “Jangan memainkan lagu seperti itu lagi. Aku tidak ingin mendengar.” Ucap Melodi yang sedang membuat syal. Mata Gema terbelalak saat mendengar suara Melodi. Menghentikan jari-jarinya yang sedang menari di atas tuts piano. Mengusap dahinya yang berkeringat. Ia menoleh. Mengangkat alis seolah tidak mengetahui apa yang baru saja di katakan Melodi.
            “Sudah ku katakan jangan pernah memainkan lagu itu lagi. Kau tidak dengar apa yang baru saja ku katakan?” Melodi menghentikan gerak tangannya lagi. Menaruh sisa-sisa benang di atas tikar. Gema masih memusatkan perhatian seutuhnya pada Melodi. Entah apa yang di pikirkannya. Tidak mengerti apa yang di katakan Melodi atau ia tidak mendengar. Yang jelas jari-jari tangannya masih mengetuk-ngetuk tuts piano. Sibuk berpikir jauh. Matanya fokus. Menatap ke arah Melodi tapi entah kenapa tidak menjawab perkataan Melodi tadi. Melodi kesal. Mengerang. Menarik kembali benang dan merajut syal.
            Gema menghela napas panjang. Melepaskan jari-jari tangannya dari atas tuts. Mulai berdiri. Menghampiri Melodi yang sedang sibuk merajut syal. Kali ini ia sudah berada di hadapan temannya-Melodi. Menatap lamat-lamat. Yang di tatap sibuk menarik-narik benang. Tidak memedulikan. “Ini sudah kesekian kalinya aku belajar piano untuk menyanyikan lagu untukmu. Apa kau tidak tau seberapa kerasnya aku belajar lagu ini?” Melodi yang asik dengan dunianya tiba-tiba jari tangannya terhenti saat mendengar perkataan Gema. Ia mendongak. Kali ini belum angkat bicara. Perlahan ia menaruh syal kembali. Ia menyadari bahwa air matanya akan tumpah. “Aku tau.” Ucapnya sambil memegangi tangan Gema. “Aku tau itu. Tapi berhentilah untuk bermain lagu tadi. Aku sungguh tidak suka.”

            Gema mengangguk. Mengerjapkan mata. “Tolong, sekali saja biarkan aku bermain satu lagu untukmu. Hmm?” Melodi masih menimang-nimang permintaan Gema. Sepanjang hidupnya ia tidak akan pernah lagi bermain piano. Sejak kejadian itu ia bersumpah untuk dirinya sendiri tidak akan bermain piano lagi. Bahkan piano itu sudah ia buang jauh-jauh. Membiarkan tetangganya memiliki jika ingin. Tapi lagi-lagi Gema bertindak cepat. Mengambil kembali piano yang sudah ia berikan untuk tetangganya. Ia menyadari bahwa perbuatannya tidak benar. Tapi kejadian lalu membuatnya sungguh ingin membenci siapapun yang bermain piano di depannya. “Kenapa kau ingin belajar bermain piano?” tanyanya pada Gema. Gema belum berkomentar. Air matanya membuncah. “Hmm. Hanya sekali saja, untukmu.” Melodi melanjutkan.
            Terlihat senyuman yang mengembang dari wajah Gema. Senyuman yang membuat Melodi tertarik pada temannya yang satu ini. Entah apa yang di sukainya saat itu. Ia sadar bahwa Gema adalah orang yang ia suka saat ini. “Aku akan terus berlatih. Untukmu.” Jawab Gema kembali berdiri. Duduk kembali. Menaruh jari-jarinya di atas tuts piano. Seperti ada sesuatu yang menarik dari tuts-tuts piano yang berada di hadapannya. Baginya saat ini piano adalah sahabatnya. Bahkan ia masih ingat betul saat Melodi mengajarkannya bermain piano.
            Melodi tau betul akan temannya yang satu ini. Ia memang menyukai Gema. Tapi Gema tidak kunjung menyatakan perasaannya. Sejak saat ia kehilangan dua jari tangannya. Melodi memutuskan untuk berhenti bermain dan membuang piano yang di berikan ibunya. Ia paham betul bagaimana perasaan Gema yang ingin berlatih. Saat yang ia tunggu-tunggu dalam hidupnya. Menari-nari di atas tuts piano di depan banyak orang. Saat ia menggantungkan impiannya menjadi seorang pianis terkenal. Saat itulah ia memutuskan impiannya. Tidak di sangka orang yang memutuskan harapan dan impiannya selama ini adalah ayahnya sendiri. Ayahnya orang di balik hilangnya dua jari Melodi. Memaksakan masuk lalu menutup kembali hingga ia harus kehilangan dua jarinya. Saat itulah ia sadar bahwa hidupnya tanpa musik akan berhenti sampai di sana. Hingga akhirnya ia bertemu Gema. Teman yang membuatnya bangkit dari keterpurukan itu. Saat ini ia tidak akan bermain piano tapi nanti ia akan mencobanya.
            “Gunakan instingmu. Masukan perasaanmu di dalamnya. Maka kau akan larut dalam alunan nada.”
            Gema menghentikan gerakan jarinya. Mendongak lalu tersenyum. Ia memang tidak bisa melihat tapi ia tau ada Melodi di sana. Melodi yang selalu menemaninya. Duduk manis di atas tikar kesayangannya. Dengan jari-jari lincah merajut syal yang akan di kenakan Gema. Hanya itu yang ia tau. Melodi yang selalu membuatkannya syal dan memakaikannya. Melodi yang marah karenanya memainkan piano. Ia hanya tau itu, tidak tau bagaimana wajah temannya itu. Ia hanya bisa merasakannya saja.
            “Melodi aku akan memainkan lagu ini untukmu.” Ucap Gema kembali menaruh jari-jari tangannya di atas tuts piano. Perlahan suara denting piano mulai terdengar. Malam yang sunyi. Hanya terdengar suara dentingan piano saja yang sedang Gema mainkan. Gema tidak menyadari kalau temannya sudah berada di hadapannya. Bahkan ia tidak menyadari bahwa temannya sedang memerhatikan wajahnya. Wajah yang begitu tenang.
            “Aku memang bukanlah orang yang sempurna. Aku memang bukanlah teman yang selalu bisa menjagamu. Dan aku memang bukanlah orang yang seharusnya berada di dekatmu. Karenamu aku mencoba sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak sama sekali aku sukai. Bermain piano dengan mata tidak melihat adalah hal yang kubenci. Melakukan sesuatu yang tidak bisa kulihat adalah kebencianku. Kebencianku adalah untuk tidak membenci. Tapi aku sadar, bersamamu aku bisa merasakan melodi indah dari dentingan piano ini.” Jelasnya sambil memainkan instrument dengan piano.
            Air mata Melodi kembali buncah saat mendengar perkataan Gema di sela-sela permainan pianonya. Ia sadar sekarang temannya begitu tulus padanya. Tidak peduli bisa melihat atau tidak dia akan tetap berada di sampingnya.
            “Melodi? Apa kau mendengar? Aku tidak yakin ini permainan yang baik atau buruk. Bahkan aku tidak tau ini bagus dan pantas tidak jika kumainkan untumu. Ingatkah? Waktu pertama kali kau mengenalku? Di lorong rumah sakit saat kau menangis karena kehilangan dua jarimu dan kau memukul ibumu karena tidak bisa bermain piano lagi. Ingatkah? Kau yang terus menangis hingga ibumu sendiri tidak bisa menghentikan tangismu. Hanya aku yang bisa. Aku sungguh hebat bukan?”
            Melodi menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Ia sengaja menutupi wajahnya agar tidak terdengar oleh Gema kalau ia sedang menangis. Gema masih lihai memainkan tuts-tuts piano. Seolah melihat apa yang sedang di sentuhnya. “Melodi. Nama yang indah. Nama yang keluar dari dentingan piano dan menghasilkan melodi yang indah. Melodi yang membuat siapapun merasa lebih tenang. Membuat siapapun bisa menangis haru karena melodi.” Gema masih belum melanjutkan perkataannya.
            Melodi masih menunggu. Berdiri di hadapan Gema yang saat ini tengah duduk di depan tuts-tuts pianonya.
            “Melodi? Aku menyukaimu.”
            Suara itu terhenti. Menyisakan dentingan piano saja. Mata Melodi terbelalak saat mendengar ucapan Gema. Apa yang baru saja ia katakan? Gema menyukainya? Apa ia tidak salah dengar? Atau hanya kata-kata saja? Matanya masih tertuju pada orang yang tengah memainkan sebuah lagu untuknya. Melodi tau betul lagu yang Gema mainkan. Lagu yang ia sukai seumur hidupnya. Lagu yang membuatnya merasa percaya diri ketika berada di depan piano. Tempatnya menggantungkan mimpinya dulu. Tidak tau dulu atau kini. Ia masih berharap bisa menggantungkan mimpinya menjadi seorang pianis terkenal. Ia masih berdiam diri di sana. Tiba-tiba saja entah apa yang ia rasakan saat ini, Melodi duduk tepat di samping Gema. Jari-jarinya terlihat gemetar. Ini pertama kalinya sejak kejadian itu. Ia mulai merapatkan jari-jari tangannya. Meremas perlahan lalu menyentuh pada tuts-tuts piano yang berada di hadapannya.
            Seperti seseorang yang tengah berpikir. Belum memulai. Ia menghela napas panjang. Lalu memulai memainkan melodi yang sama seperti yang di mainkan Gema. Gema menyadari kalau saat ini Melodi berada di sampingnya. Bermain piano dengannya. Seperti puzzle yang kembali terpasang. Darah musiknya kembali mengalir di dalam tubuhnya. Malam ini ia bersama orang yang di sukanya. Gema.
            Sejak malam itu. Semuanya kembali berubah. Ia tidak lagi takut kehilangan mimpinya. Ia tidak lagi takut karena kekurangan jari-jari tangannya. Yang ia takutkan saat ia tidak bisa menyentuh tuts-tuts piano kesayangannya lagi. Hari ini ia akan mengadakan konser permainan pianonya. Kini ia mendapatkan mimpinya kembali yang telah lama menggantung begitu saja di hadapannya. Tapi saat ini juga ia kehilangan orang yang ia sukai. Gema. Seminggu yang lalu Gema mengalami kecelakaan saat akan berkunjung menemuinya. Saat ia mengetahui matanya yang tidak bisa melihat dan saat ini ia melihat tubuhnya tergelatak begitu saja.
            Baginya Gema tetap orang yang akan ia suka. Gema tetaplah Gema yang mengajarinya banyak hal. Entah sudah berapa banyak syal yang ia buat untuk Gema. Entah sudah berapa banyak waktu yang ia habiskan untuk mengambil mimpinya kembali. Sekarang ia hanya menyadari satu hal, mimpinya adalah untuk tidak berhenti bermimpi. Saat suara tepuk tangan penonton membuat rasa percaya dirinya kembali. Saat jari-jarinya mulai bersentuhan dengan tuts. Menari-nari dengan lihai bak seorang musisi legendaris dengan puluhan album serta ratusan penggemar. Kini Melodi akan menjadi melodi yang akan di nantikan semua orang. Dan Gema, adalah pantulan melodi yang akan ia sampaikan melalui dentingan pianonya.
            Tidak peduli apa yang ia rasakan sekarang, karena ia hanya bisa merasakan satu hal yaitu mimpi. Ia bisa merasakannya. Meski melodi telah berhenti tapi gema akan tetap terdengar setelah musiknya berhenti. Meski dentingan piano tidak terdengar, gema akan tetap terdengar setelah bunyi aslinya. Kini ia telah menjadi melodi yang sesungguhnya. Dan kini Gema akan tetap menjadi bunyi yang terdengar setelah bunyi melodi. Cinta seperti melodi, akan tetap mengalun meskipun telah lama berhenti. Cinta seperti gema, yang akan tetap terdengar setelah bunyi asli dari melodi. Kini cintanya adalah Gema. Melodi yang mencintai Gema. Hanya Gema yang mampu mendengar suara melodi yang indah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...