Langsung ke konten utama

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November ....
Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe
Ada yg kangen sama saya? Haha *pede
Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D
Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara.......


Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita


            Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..
            Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..
            Kata apa yang paling bermakna yang akan kau ucap untukku??
            Punyakah kau kemudian akan sebuah jawaban rindu??
            Saat persahabatan menjadi cinta yang tersimpan di perut bumi..
            Saat ketidaksempurnaan melenyapkan segala mimpi..
            Hingga setelahnya sejumput harapan kembali berdiri..
            Cinta tidak memerlukan fisik yang sempurna untuk memandang..
            Karena mencintaimu memberikanku keyakinan untuk tetap bertahan..
            Mencintaimu tak membutakan hatiku, tak membuatku lupa..
            Karena…
            Aku punya cinta dari seseorang yang mencintaiku dengan sempurna..
            (aku, catatan senja yang berpuisi.)
* * *
“Ternyata selama ini…”
Riri belum selesai mengeluarkan huruf-huruf dari mulutnya. Terpaku melihat pacarnya sedang duduk berdua ditaman dengan wanita lain. Satu hal yang ia sadari, kini pacarnya tidak lagi mencintainya seperti dulu. Kini orang yang selalu ia bangga-banggakan didepan Alfa adalah orang yang haus akan cinta dari orang lain. Apakah tidak cukup dengan mencintainya dirinya saja?
“Toni!” Riri menarik lengan pacarnya menjauh dari wanita yang ia tidak kenal sama sekali itu. Belum sempat ia menarik jauh lengan pacarnya, entah apa yang ia rasakan saat itu, kini pipinya sudah memerah. Mungkin sudah tergambar jelas telapak tangan pacarnya disana. Satu hal yang ia tidak bisa lupa. Ia masih mencintainya. Sampai saat ini.
* * *
“Belum tidur? Sudah malam, tidurlah.” Alfa masuk tiba-tiba keruangan kamar Riri. Padahal ia mengetahui bahwa jam besuk sudah lewat. “Ah, sudah makan?” ia bahkan kini lupa mengucapkan pertanyaan yang ia sudah urutkan dari luar tadi. “Apa kau masih tidak ingin bicara denganku? Apa kau ingin aku meminta Toni untuk datang?”
Berhenti sampai disana. Pertanyaan terakhir dari seorang Alfa. Riri mencari-cari sesuatu diatas meja. Hingga tangannya meraih vas bunga lalu melemparkannya ke sembarang arah. Suara dentingan kaca yang bergesekan dengan lantai terdengar lebih menakutkan. Hingga setelahnya Riri melemparkan semua yang ada disana. “Tenanglah. Tenanglah Ri! Riri!” Alfa mendekap Riri dengan erat tanpa ia sadari tangannya tergores pecahan vas bunga.
“Pergi Alfa! Pergi! Jangan temui aku lagi! Aku sudah tidak berguna lagi sekalipun harus hidup.. jadi lebih baik aku mati saja!” Riri masih memberontak, meminta Alfa untuk pergi meninggalkannya. Bukan Ri, bukan itu yang mau aku dengar dari kamu. Bukan itu. Kini tangisannya semakin menjadi. Dibawah dekapannya Alfa, Riri menangis. Menumpahkan segala sesuatunya disana. Bukan kata-kata melainkan air mata. Alfa mengetahui itu.
“Secinta itukah kamu sama Toni? Dia sudah menghianati kamu Ri, kamu harus sadar itu.” Suara Alfa melemah. Kini tangisannya berhenti. “Kamu masih punya aku Ri, aku…” aku sayang kamu Ri bahkan sebelum dia datang.
Bukan! Bukan itu. “Aku sahabat kamu Ri.” Alfa sadar, bahkan untuk 3 bulan lamanya Riri berada dirumah sakit ia tau kalau Riri belum bisa menerima kenyataan pahit itu. Bukan hanya Riri yang menderita selama ini. Tapi juga Alfa. Ia meninggalkan pekerjaannya selama 3 bulan terkahir hanya untuk menemani Riri dirumah sakit. Sejak kejadian itu Alfa sadar bahwa Riri memerlukan dirinya tanpa ia meminta atau mengatakan.
3 bulan ia kehilangan penglihatannya. 3 bulan ia seperti orang yang memiliki penyakit mental. 3 bulan juga Alfa mencari pendonor untuknya. Seperti itulah 3 bulan masa-masa sulit untuk Riri dan dirinya. Malam ini ia memutuskan untuk menemani Riri. Besok ia akan berbicara dengan Dokter yang merawat Riri selama ini.
* * *
“Fa? Alfa?” suara Riri masih lemah. Mencari-cari sosok sahabatnya itu. Alfa terbangun dari malam-malam panjangnya. “Iya Ri? Sudah bangun? Mau minum?” tanyanya sambil menuangkan segelas air. “Aku mau pulang Fa.” Raut wajahnya yang setengah sadar terlihat melelahkan bagi siapapun yang melihatnya. “Nanti aku tanya Dokter dulu ya Ri.”
Alfa keluar menutup pintu ruangan. Dengan hati yang setengah tidak yakin ia berjalan menuju ruangan disudut sana. Ruangan yang terlihat rapi dan sepi. Setelah sejam lamanya ia duduk disana. Kini ia keluar dengan raut wajah berbeda. Terlihat lebih menyegarkan. Ia berlari hingga ujung ruangan. Memeluk Riri disana yang sedang duduk menyandar ditempatnya. “Ri minggu depan kamu bisa operasi.Dokter sudah menemukan pendonor untukmu.” Kini ia tidak tau harus berkata apa didepan Riri. Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya. Kini ia bisa melihat senyum itu lagi. Mataharinya telah bersinar terang seperti dulu. Matahari yang membuatnya bertahan. Mataharinya telah kembali.
“Benarkah? Alfa? Terima kasih.”
Alfa hanya mengangguk pelan. “Setelah itu kau bisa terus melanjutkan hidupmu. Kembali menjadi Ariny yang kuat, yang tegar, yang selalu tersenyum. Jangan hanya memikirkan Toni. Ia bahkan tidak menjengukmu sama sekali selama ini. Kau tau? Aku ini seorang Dokter. Aku bahkan tidak mendapat gajiku selama 3 bulan terakhir. Jadi, kalau kau sudah sehat kembali kau harus menggajiku 5x lipat. Bagaimana? Setuju? Aku akan menganggap ini persetujuan.”
Kini Riri tertawa. Alfa bahagia. Bahagia yang tak terhingga. Hingga rasanya ia tak sanggup menahan air matanya yang akan tumpah. “Ri, cinta itu bukan hanya soal fisik saja. Melainkan disana ada hati juga. Mungkin ia tidak terlihat tapi ia benar-benar merasakan. Kalau saja kau malu karena tidak bisa melihat, maka kau salah. Karena kau masih punya mata hatimu. Bahkan jauh lebih indah dari apa yang kau tau. Tuhan, bukan tidak mendengar doa-doa kita melainkan karena tuhan tau apa yang terbaik untuk kita. Kau tanya apa aku akan membencimu setelah keadaanmu seperti ini? Tidak. Bahkan suatu saat nanti kalau kau berubah pikiran. Datanglah padaku. Aku akan menunggumu, bahkan aku berusaha untuk menyembuhkan setiap luka-lukamu.”  Kali ini Alfa benar-benar menahan setiap katanya. Menggigit bibirnya. Menahan nada suaranya yang saat ini terdengar seperti orang yang habis menangis berhari-hari.
“Sampai lukaku benar-benar sembuh, bisakah kau menungguku?”
Alfa menggenggam tangan Riri. “Aku bisa menunggu lebih lama Ri.”

* * *
1 tahun berlalu..
“Bisa bertemu dengan Dokter Alfarizky?” tanya Riri pada salah seorang staf receptionist. “Tunggu sebentar bu,” Riri berharap cemas. Karena selama ini Alfa tidak bisa dihubungi. Kesibukkan yang menyita waktunya baru sempat untuk mendatangi Alfa ke Rumah Sakit dimana ia bertugas. “Tidak ada bu, Dokter Alfa sudah tidak bekerja disini lagi sejak setahun yang lalu.”
Raut wajahnya berubah. Cemas bukan main saat mendengar perkataan seorang tadi. Riri berjalan tergesa hingga berpapasan dengan Dokter yang menanganinya waktu operasi.
Hening.
Mungkin saat itu ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Tidak. Bukan hanya itu, kini ia merasakan wajahnya memanas seperti dialiri listrik. Ia tidak bisa berpikir cepat. Kini ia terjatuh dalam pikirannya sendiri.
“Lalu Alfa kemana Dok?” tanya Riri ingin tau. Ia sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Dokter Fras. Ia sudah menduga ada yang tidak beres selama ini. Alfa yang tidak menghubunginya. Alfa yang tidak datang kerumahnya. Bahkan Alfa yang tidak mengantarnya pulang saat itu. Dan kini Alfa menghilang.
“Orang yang menjadi pendonor untukmu itu Alfa, Ri. Tapi ia berusaha memintaku untuk tetap merahasiakannya. Ia tidak ingin kau tau Ri. Melihatmu yang begitu menderita waktu itu membuatnya bersikukuh untuk menjadi pendonor. Hingga operasi berjalan lancar. Waktu itu ia sudah memutuskan untuk berhenti. Terakhir kali kulihat ia sekarang bekerja di kafe dekat persimpangan jalan.”
“Terima kasih Dok!” Riri berteriak sambil setengah berlari. Keluar dari ruangan Dokter Fras. Ia ingin bertemu Alfa. Sekarang juga. Orang yang ia ingin lihat adalah Alfa. Bukan yang lain. Hingga kakinya berhenti didepan kafe dekat persimpangan jalan. Alfa. Ia melihat Alfa. Memakai kacamata hitam dan alat bantu untuk berjalan.
“Alfa! Alfa! Alfa!” panggilnya.
Ia berlari menuju Alfa. Langsung mendekap erat orang yang ia tunggu-tunggu. “Maaf Alfa, aku sedikit terlambat.” Ucapnya lirih.” Alfa mengusap air mata Riri. Tersenyum manis. “Aku tau kau akan datang mencariku. Sayang kau datang sedikit terlambat. Kau tau? Aku bisa menunggumu sedikit lebih lama lagi sampai luka itu benar-benar sembuh.” Riri masih menangis. Kini ia melihat orang yang menjadi pendonor untuknya. Mewujudkan kembali mimpi-mimpinya. Kini ia sadar bahwa selama ini ia mendapatkan cinta yang sempurna dari seorang Alfa. “Aku mungkin tidak sempurna, tapi karena cintamu aku merasa menjadi orang yang paling sempurna, Alfa. Kau benar, cinta itu bukan hanya soal fisik saja, tapi disana juga ada hati.” Riri menangis sejadi-jadinya di pelukan Alfa.
“Lihat, sekarang kau menyempurnakanku dengan cintamu. Aku mungkin tidak bisa melihat wajahmu tapi aku bisa melihat ketulusan hatimu Ri, terima kasih.”
“Fa, mungkin selama ini aku salah mengartikan cintamu. Karena aku tidak tau dan bahkan belum tau cara mencintai dengan sederhana dan dewasa. Setidaknya kini saat aku bersamamu, aku mengerti. Bukan berpikir siapa yang akan kucinta melainkan siapa yang akan mencintaiku dengan cintanya yang luar biasa.”
Kini senja akan menjadi saksi dua insan yang saling mencintai segala kekurangan dan kelebihannya. Kini angin akan menjadi saksi betapa kuatnya cinta dengan mencintai segala kekurangannya. Tidak perlu khawatir, karena setidaknya mereka masih bisa saling memerhatikan dibawah kolong langit yang sama. Tidak perlu fisik yang sempurna untuk bisa mencintai. Karena kau tau? Betapapun fisik yang sempurna tidak bisa menjanjikan kebahagiaan yang sempurna.

Kau tau? Kapanpun ketika payungmu digunakan untuk memayungi orang lain tapi ingatlah akan selalu ada payungku untuk melindungimu. Bahkan ketika kau butuh waktu untuk menangisi apapun, menangislah sekerasnya. Aku akan ada disitu bersama bahuku. Jangan biarkan waktu menertawakanmu tapi buatlah waktu menyembuhkan setiap luka-lukamu. Apapun yang terjadi semuanya akan baik-baik saja.
_ Alfarizky

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...