Buat yg sudah menunggu lama postingan saya, apa kabar semuanya? :D hehe
Ada yg pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya? Jatuh cinta dengan seseorang yg mempunyai kekurangan dalam fisiknya. Jatuh cinta dengan seseorang yg membuat hatinya berdebar setiap kali berpapasan dengannya. Bersemu merah. Keringat bercucuran. Dan seolah hanya bisa melihat dan mendengar suaranya saja. Tapi kali ini berbeda. Alex mencintai Amelia yg bahkan tidak bisa berbicara sama sekali, tapi suatu hari Alex tersadar bahwa cinta bukan hanya sekedar berbicara saja. Untuk lebih lanjut, silahkan dibaca saja :D
Chocolate Love
Kalau saja
kau yang tak memberinya lebih dulu..
Kalau saja
kau yang tak memulainya lebih dulu..
Mungkin
semua itu tidak akan terjadi..
Salju pertama jatuh. Membentuk bekas
putih di sekitar jalan. Membuat setiap orang yang lewat menutupi kepalanya
dengan penutup kepala. Memasukan kedua tangan ke dalam saku. Merapatkan jaket
tebal yang menutupi bagian tubuh. Sibuk melangkah cepat. Tidak terkecuali
seorang gadis yang duduk di bangku taman itu. Berdiam diri tanpa memakai
penutup kepala ataupun telinga. Seperti menikmati musim gugur yang indah. Tidak
bergerak sedikitpun. Matanya hanya sibuk menatap binar langkah kaki orang-orang
yang berlalu lalang. Hingga seorang temannya datang menghampirinya.
“Maaf membuatmu menunggu terlalu
lama. Kenapa tidak menunggu di kafe saja? Di sini dingin sekali.” Ucap Alex
sibuk mengusap-usap kedua tangannya. Amelia menuliskan sesuatu di lembar kertas
yang di pegangnya sedari tadi. Menunjukkan tulisannya pada Alex. Alex
tersenyum. Mengangguk mengerti. Menyadari bahwa Amelia tidak mengenakan penutup
kepala. “Oh?” gumamnya terkejut. Alex tertawa lalu melepaskan penutup kepalanya
dan memakaikannya pada Amelia. Gadis yang berada di hadapannya kini tersenyum
lebar-seperti biasanya.
“Lain kali kalau kau mengajakku keluar
pakailah pakaian yang tebal. Penutup kepala dan telinga jangan di tinggalkan
begitu saja. Mengerti?”
Alex menggenggam tangan Amelia. Yang
di genggam terlihat nyaman. Tidak berhenti untuk tersenyum. Sesekali Amelia
menatap wajah Alex. Mendongakan kepalanya. Tidak peduli musim gugur atau dingin
sekalipun. Baginya Alex adalah orang yang di harapkannya kini. Baginya kalau
saja hari itu tidak ada Alex mungkin ia takkan bisa mendapatkan tiket konser
pertunjukkan untuk adiknya. Baginya kalau saja hari itu ia tidak bertemu dengan
Alex mungkin selama ini ia hidup tanpa seorang teman. Menjalani hari-harinya
sendiri. Tidak terkecuali adiknya yang sangat menyayanginya. Semuanya berawal
di sini.
* * *
Brukk..
Terdengar
suara seseorang yang jatuh. Orang-orang hanya memandangi saja. Tidak membantu
apapun. Saling bertatap. Sibuk menanyakan satu sama lain. Ada apa? Apa terjadi
sesuatu? Seorang pria tengah baya dengan suara tinggi menyumpah-nyumpahi.
“Dasar tidak tau malu! Pergi sana! Dapatkan tiket konser dari yang lain! Jangan
pernah ke sini lagi!” Alex yang saat itu juga sedang mengantri tiket konser
melihat kejadian yang tidak seharusnya terjadi langsung membantu gadis tersebut.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil membantu berdiri gadis tersebut. Gadis itu
mengangguk.
Setelah lima belas menit bersikeras
membantah ini itu, akhirnya pria tengah baya itu meminta maaf pada Alex.
“Seharusnya kau meminta maaf padanya bukan padaku! Minta maaflah padanya.”
Sahut Alex yang membenarkan tasnya. Alex membawa gadis tersebut keluar.
Meninggalkan ruangan.
“Siapa namamu? Apa kau ingin membeli
tiket konser pertunjukkan itu?” tanya Alex sambil memberikan minuman. Lagi-lagi
gadis itu hanya mengangguk. Menundukkan kepalanya. Tidak menatap wajah Alex
sedikitpun sejak di ruangan tadi. Gadis itu menuliskan sesuatu di lembar
kertasnya. Menunjukkan pada Alex. “Oh jadi kau tidak bisa berbicara? Baiklah
tunggu sebentar.” Alex meninggalkan Amelia duduk sendiri di luar. Kembali ke
ruangan. Mengantri seperti tadi layaknya ia mendapatkan tiket konser
pertunjukkan.
“Untukmu.
Kau bilang untuk adikmu kan? Aku belikan dua. Untukmu juga. Namaku Alex. Alex
Fernand. Kau bisa memanggilku Alex saja.”
Untuk yang
pertama kali sejak kejadian tadi Amelia mendongakkan kepalanya. Perlahan.
Menatap wajah Alex. Enggan untuk mengambil tiket konser yang diberikan Alex.
Alex tetap memaksa untuk memberinya. Amelia tersenyum. Menuliskan sesuatu
kembali di kertasnya. Alex mengangguk.
Sejak saat
itu Amelia tidak lagi sendirian. Alex sering mengunjungi apartemennya. Membawakan
sesuatu untuk Amelia dan adiknya. Amelia sangat senang mempunyai teman seperti
Alex. Walaupun Alex mengetahui kalau Amelia tidak bisa berbicara. Alex tidak
mempermasalahkan. Hingga seminggu menjelang konser pertunjukkan. Alex menjemput
Amelia dan adiknya. Tertawa lepas saat pertunjukkan telah di mulai. Sibuk
saling bersitatap satu sama lain. Hingga terlalu cepat Amelia merasakan sesuatu
yang aneh dalam hatinya.
Alex
memberikan perhatian yang lebih pada Amelia. Sibuk bercerita ini itu hanya
ingin membuat Amelia tersenyum. Hingga musim dingin tahun lalu Alex memberikan
sesuatu pada Amelia. Sekotak cokelat. Alex mengetahui kalau Amelia fanatik
sekali dengan cokelat. Dan pada saat itulah Alex memberanikan diri untuk
menyatakan perasaannya pada Amelia di saat salju pertama.
“Mungkin ini
terlalu cepat untuk di rasakan. Tapi sungguh ini perasaanku yang sesungguhnya
padamu. Pertama bertemu di ruangan untuk membeli tiket konser, menonton
pertunjukkan yang luar biasa, pergi ke taman hiburan, membeli banyak cokelat
dan es krim, hingga banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang membuatku selalu
ingin berada di dekatmu.” Jelas Alex sambil memegangi tangan Amelia. Amelia
masih diam. Tidak menuliskan sesuatu di lembar kertasnya. Alex lanjut
menambahkan. “Aku menyukaimu. Bagaimana denganmu?”
Alex masih
menanti jawaban Amelia. Melepaskan genggamannya. Amelia beranjak berdiri dari
bangku taman. Meninggalkan lembaran kertas yang biasa di bawanya di bangku
taman tadi. Alex yang menyadari bahwa lembaran kertas Amelia tertinggal
langsung mengambilnya. Berdiri memegangi dengan erat. Alex mengurungkan langkah
kakinya. Membiarkan Amelia berjalan sendiri. Sibuk membuka lembar demi lembar.
Hingga sampailah di lembar terakhir yang membuatnya begitu terkejut saat
membacanya.
‘Hari ini
aku bertemu dengan seorang pria yang baik. Ia menolongku saat aku hendak
membelikan tiket konser untuk adikku. Saat itu aku tidak ingin melihat wajahnya
karena aku takut ia bukan orang yang baik. Namun aku salah. Ia memberikan dua
tiket konser untukku dan adikku. Membelikanku sebuah minuman. Mengajakku
berkenalan. Bercerita ini itu. Walaupun ia tau kalau aku tidak bisa berbicara.
‘Seminggu
dari pertemuanku dengannya. Ia menjemputku di apartemen untuk menonton konser
pertunjukkan bersama. Ia tertawa lepas. Matanya fokus pada orang-orang yang
berada di atas panggung. Sibuk bertepuk tangan. Ia mengibaskan rambutnya yang
mengenai matanya. Ia menguap. Air matanya keluar begitu saja. Ia mengusapkan
dengan kedua tangannya. Tertawa kembali.
‘Ia sering
mengunjungi apartemenku. Membawakan ini itu untuk adikku. Mengajakku pergi ke
taman hiburan hingga membeli cokelat dan es krim.
‘Ia sering
memakai penutup telinga. Terbiasa memakai syal berwarna hitam yang melilit di
lehernya. Ia suka bercerita tentang apapun yang membuatnya tertawa. Ia tidak
suka melihat anak kecil menangis. Ia baik. Ia banyak membantuku dan
kehidupanku.
‘Tapi hari
ini, aku merasakan ada yang berbeda dari dalam diriku. Aku sibuk merangkai
kata-kata yang membuat hatiku senang. Sibuk bertanya ini itu pada adikku. Aku
juga merasakan hal-hal yang aneh. Tidak seperti biasanya.
‘Saat
bertemu dengannya aku merasa jantungku berhenti sementara dan aku bisa
merasakan napasku sendiri. Aku hanya bisa mendengar suaranya saja walaupun itu
di tengah keramaian. Aku merasa jari-jari tanganku berkeringat setiap kali
berada di dekatnya. Kau tau? Ada apa denganku? Kau bisa menjawabnya? Aku butuh
waktu yang lama untuk melanjutkan cerita-ceritaku ini. Hingga membutuhkan waktu
yang panjang untuk menyakinkan diriku sendiri bahwa aku mulai menyukaimu.
‘Mungkin ini
terdengar aneh olehmu. Tapi memang begini kenyataannya. Tidak seperti ilmu
pasti yang menemukan jawaban yang pasti juga. Aku menjabarkan segala bentuk
keanehan pada diriku sendiri. Sejak kau memberikanku tiket konser pertunjukkan
waktu itu.
‘Saat aku
melihat iklan akan konser pertunjukkan aku teringat padamu, karena kau
memberikanku dua tiket konser pertunjukkan waktu itu. Saat aku melihat taman
hiburan aku teringat padamu, karena kau mengajakku pergi bermain saat itu. Saat
aku melihat cokelat dan es krim aku teringat padamu, karena kau selalu
membelikanku saat aku sedang sendiri.
‘Alex? Aku
menyukaimu. Bagaimana denganmu?
Mata Alex
berhenti di lembar terakhir. Ia dengan cepat menutup lembaran-lembara kertas
itu lalu berlari menuju Amelia. Berteriak di antara banyaknya orang yang
berlalu lalang. Ia menemukan Amelia berbalik menghadap Alex. Terlihat senyumnya
mengembang di antara kerumunan orang. Alex bisa melihat Amelia ada di sana.
“Aku juga
menyukaimu. Itu jawabanku!”
Alex masih berlari mengejar Amelia
yang sudah jauh. Tangannya melambai-lambai seperti orang yang tertinggal bus.
“Amelia! Aku menyukaimu!” Alex terus berlari hingga kehabisan napas. Amelia
kembali melambai-lambaikan tangannya pada Alex. Hingga berhenti di salah satu
kafe cokelat.
Dengan napas
terengah-engah Alex berbicara. Membungkukkan tubuhnya. Memegangi lututnya yang
gemetar. Mendongak dan tersenyum. Menarik tangan Amelia. Mengajaknya masuk ke
dalam kafe cokelat. Kafe yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang
berbentuk cokelat.
“Sejak kapan
kau menyukaiku?” tanya Alex yang memilih kursi di dekat kaca besar. Amelia
meraih lembar kertas yang di pegang Alex. Menuliskan sesuatu di sana. Mata Alex
terkejut saat membaca tulisan Amelia. “Bagaimana mungkin kau tidak tau. Itu
yang di lembar kertasmu?” tanya Alex kembali. Kali ini ia begitu penasaran akan
jawaban dari Amelia.
“Baiklah-baiklah.
Aku tidak akan menanyakannya lagi.”
Seorang
pelayan mengantarkan beberapa macam cokelat. Amelia terkejut saat melihat
banyak sekali cokelat di atas meja. Senyumannya kembali mengembang. Ia tidak
menyangka kalau setelah bertemu dengan Alex hidupnya akan berubah dan kembali
semangat. Alex membawa energi positif untuk Amelia.
“Hidupmu
seperti cokelat. Entah rasa apa yang akan kau dapatkan. Pahit atau manis?
Tergantung bagaimana caramu menilainya. Kau tidak selalu merasakan yang
pahitnya terus menerus dan kau juga tidak selalu mendapatkan yang manisnya
saja. Karena itu hidupmu akan terlihat lebih menyenangkan.” Jelas Alex sambil
menunjuk cokelat-cokelat di atas meja.
Amelia
menuliskan sesuatu di lembar kertasnya lagi. “Chocolate Love.” Alex tersenyum.
Mengangguk. Memberikan cokelat berbentuk hati pada Amelia. Amelia tersenyum.
Setelah hari
itu. Amelia sadar bahwa hidupnya terlalu berarti. Kehadiran Alex membawa
kesenangan tersendiri untuk hatinya. Tidak peduli seberapa keras ia menghadapi
ia akan tetap menghadapinya dengan senyuman. Seseorang akan datang membantumu
entah dengan cara dan jalan apa. Tetapi yang Amelia percaya, bahwa ia akan
datang di waktu dan tempat yang tepat.
Alex? Apa
yang akan kau lakukan setelah ini?
Aku akan
terus bersamamu. Bagaimana denganmu?
Aku akan
menemuimu.
Baiklah
setelah ini mari kita menjadi peristirahatan satu sama lain.
Aku akan
mengingat di mana hari itu kau membantuku.
Amelia? Aku
akan mengingat dunia hari itu saat aku terpesona padamu.

Komentar
Posting Komentar