Langsung ke konten utama

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe
Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ...
Happy Reading guys :)
Waktu Tanpa Janji
(Duniapun mengetahuinya, kau dan aku)

Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu.
Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’.
Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah kurasa kau akan datang.
Apa aku harus menjemputmu? Dengan siap aku akan datang 30 menit lagi.
Kau tidak mengangkat panggilanku! Atau jangan katakan padaku kau menolak untuk di wawancarai? Kau membuatku frustasi..
Jika kau tidak datang aku akan katakan pada semua orang bahwa kita berhubungan!

Ini seperti mimpi buruk untuknya. Wah bagaimana bisa seniornya begitu menyebalkan sejak ia membuka matanya. Sepertinya hari ini akan menjadi hari terpanjangnya. Ponselnya berdering lagi. Satu panggilan masuk. Senior.
“Oh. Iya.. Jemput aku 30 menit lagi, aku akan bersiap-siap.. tenang saja.. kau punya hutang denganku untuk wawancara ini.. baiklah..”
Tanpa berpikir panjang ia segera membersihkan wajahnya yang tampak kusut sejak tadi. Bahkan sepertinya yang ada dipikirannya sejak membuka mata adalah bagaimana cara untuk melalui hari terpanjangnya seperti hari ini. Ponselnya berdering kembali. Panggilan masuk. Nisa.
“Aku mengerti.. baiklah sampai bertemu malam nanti..”
Ia menutup flap ponselnya. Bagaimana bisa banyak sekali orang-orang yang mengganggunya di waktu libur. Apa ia tidak bisa hanya bermalas-malasan saja? Ia terus menggerutu dalam hatinya. Hingga 30 menit berlalu dengan cepat. Suara klakson mobil seniornya cukup mengganggu. Saat ia menuruni anak tangga melihat tingkah seniornya yang benar-benar aneh menurutnya. Lihatlah wajah seniornya yang bersinar terang pagi ini membuatnya gila. Benar-benar hanya memikirkan pekerjaannya sendiri.
“Wah kau cantik sekali pagi ini.”
Ini bukan sapaan yang ia harapkan, tapi mau bagaimana pun cukup terhibur. “Sepertinya kau cukup senang sekali, senior.” Balasnya sambil memakai safety belt.
            Seniornya ini memang lucu sekali, untuk urusan menggoda wanita mungkin dia ahlinya. Bahkan nama dengan karakter wajah ataupun sifatnya berbeda jauh. Namanya lebih cocok untuk menjadi seorang pelawak atau apapun itu. Fahmi. Tentu saja hanya satu kata namanya. Singkat, jelas dan padat.
“Tentu saja!” jawabnya antusias. “Bagaimana bisa aku tidak senang? Ketika salah satu penulis terkenal bersedia meluangkan waktunya untuk wawancara di tempat siaranku. Benar begitu Haje?”
Yang ditanya hanya bisa tersenyum. “Aku akan sedikit meluruskan, senior. Aku bukan meluangkan waktuku untuk siaran semacam ini. Hanya saja kau yang sedikit memaksaku untuk wawancara, bukan begitu senior?”
Obrolan semacam ini yang ia tunggu-tunggu. Sedikit berdebat dan bergurau. Hanya dengan seniornya itu ia bisa seperti orang yang bebas. “Ah! Baiklah-baiklah. Aku memang sedikit memaksamu, tapi kau juga menginginkannya. Ayo jalan!”
Tidak disangka, hujan turun saat mereka berdua tiba di gedung siaran. bukan halangan untuk tidak wawancara, lagi pula ia sudah menyetujuinya. Beberapa orang yang bahkan mengenalnya tersenyum ramah. Sambutan yang bagus. Itu yang dipikirkannya.
“Bukankah mereka terlihat ramah?” bisik seniornya. Ia hanya mengangguk. Kembali menyapa.
* * *
“Hallo.. Wah ini benar-benar hadiah bagus untukku, aku senang sekali bisa mewawancarai langsung penulis terkenal sekaligus penggemarku ini.”
Seharusnya Ismi libur hari ini, karena seniornya memintanya untuk masuk dan mengetahui bahwa yang akan di wawancarai penulis terkenal sekaligus penulis yang ia kagumi. Tanpa berpikir 2 kali ia langsung menyetujui dan datang ke tempat siaran. Kini seniornya yang akan langsung mewawancarai dan beberapa pertanyaan yang akan Ismi ajukan untuknya.
“Selamat siang para pendengar setia semuanya, bagaimana kabar hari ini? Cuaca hari ini sepertinya tidak bersahabat. Hujan turun lebih cepat dari perkiraan cuaca. Buat kamu yang lagi beraktifitas di pagi ini, semoga berjalan dengan baik dan lancar. Kembali lagi di 99,8FM. Bersama dengan saya Roger. Pasti tau dong siapa Roger? Hari ini merupakan hari spesial karena kita kedatangan seorang penulis terkenal yang karya-karyanya banyak ditunggu semua kalangan. Dan sebuah acara yang pastinya buat kamu semakin semangat! Ya, seperti biasa satu jam kedepan akan ada hal-hal menarik yang patut untuk ditunggu. Penasaran dong apa saja yang akan kita bahas hari ini? Jangan kemana-mana tetap di 99,8FM. Satu lagu buat kalian semua dari American Authors - Best Day of My Life.”
Setelah commercial break, obrolan dilanjutkan kembali. Kurang lebih 10 menit, ia sudah terlihat lebih santai dari pertama kali datang. Ismi banyak membantunya, terlebih saat break tadi.
“Masih bersama saya Roger dan teman saya Ismi yang akan mewawancarai pagi ini. Kali ini kita akan membahas tentang Novel yang akan rilis minggu ini. Ada yang tau dong Novel apa saja yang akan terpajang di toko buku kalian semua? Kali ini kita hadirkan langsung penulis terkenalnya yang membuat para readers menangis bahkan tertawa dalam waktu bersamaan. Langsung saja ini dia Gita Hendrawan!”
Kini tiba saatnya untuk Ismi yang akan memulai siaran, seniornya memberikan kode untuk memulai. Ia tersenyum.
“Hallo semuanya, kali ini saya akan mewawancarai penulis terkenal yang bernama Gita Hendrawan. Wah saya harus memanggil dengan sebutan apa ini?” Ismi tertawa, bahkan ia tertawa karena dirinya sendiri yang terlihat kaku didepan penulis yang ia kagumi itu.
“Apa kabar Gita? Kelihatannya cukup serius sekali ya? Saya mau tanya-tanya tentang Novel kamu yang akan rilis minggu ini. Saya dengar judulnya ‘Waktu Tanpa Janji’ apa itu benar?”
Ini saatnya untuk menjawab. Bahkan kini ia terlihat lebih tenang dari Ismi yang mengajukan pertanyaan untuknya. Ia bersiap. Mengambil napas sebelum menjawab.
            “Iya seperti kelihatannya saat ini, cukup baik. Ya untuk Novel lanjutan seri berikutnya berjudul Waktu Tanpa Janji”.
Suaranya terdengar parau. Bahkan untuk seumuran gadis seumurannya yang masih muda, bisa dikatakan ia sukses. Walaupun diawal karirnya sempat mengalami kesulitan.
“Bisa sedikit diceritakan dong tentang Novelnya ini? Wah saya rasa pendengar semuanya tidak sabar untuk menantikan acara yang spesial ini.”
Seniornya tidak bisa menahan senyum yang mengembang di wajahnya. Sesekali ia melirik ke rekan juniornya. Yang dilirik juga terlihat santai. Untuk pertama kali ia bersedia untuk diwawancarai. Kalau bukan karena seniornya yang sudah dianggapnya kakak sendiri mungkin ia akan menolaknya.
“Saya tidak bisa menjelaskan secara detail tentang isi dari Novelnya, tapi yang pasti ini Novel yang sudah saya siapkan sejak 5 tahun yang lalu. Bahkan Novel ketiga dan keempat sudah rilis beberapa tahun yang lalu. Yang pasti ini Novel yang spesial menurut saya. Saya tidak tau bagaimana mereka para readers yang benar-benar antusias sekali untuk menunggu kelanjutan cerita dari seri keempat ini.”
Jawabnya penuh yakin. Bisa terlihat dari cara ia menjawab dan respon senyuman yang dilemparkannya pada Ismi yang menanyakannya. Ismi seperti memenangkan penghargaan, bisa dilihat raut wajahnya yang tidak sabar untuk mengajukan beberapa pertanyaan penting.
“Saya disini bertanya sebagai penyiar sekaligus penggemar berat dari semua Novel-Novel yang sudah dirilis. Apa ada bagian yang paling benar-benar ditunggu para readers? Seperti quote yang meluluhlantahkan perasaan para readers?”
Ia tidak mengira kalau ada pertanyaan seperti ini, kini ia semakin tertarik. Terbawa oleh alur cerita yang menyenangkan. “Ada beberapa quote yang membuat orang terbawa oleh perasaannya sendiri ketika membaca, itu ada di halaman awal sekitar 56. Kalau penasaran bisa langsung pesan melalui web resmi atau bisa kunjungi toko-toko buku terdekat.”
Kini ketiganya tertawa bukan main. Kebahagiaan yang sederhana. Ia yang awalnya menolak untuk wawancara sampai ia yang sekarang sepertinya ingin waktu lebih banyak lagi untuk diwawancarai. Setelah lebih dari 30 menit berlalu, dan menjawab lebih dari 10 pertanyaan yang diajukan. Kini saatnya untuk closing.
“Kembali lagi dengan saya Roger. Wah sepertinya pembicaraan ini tidak ingin selesai begitu saja yah? Semakin menarik. Sudah hampir 1 jam saya dan bersama rekan saya Ismi serta guest kita yang menarik ini, Gita Hendrawan, menemani kalian semua dipagi yang dingin ini. Besok kita akan kembali lagi dijam yang sama. Sebelum mengakhiri perjumpaan kali ini, ini ada quote yang akan Gita bagikan untuk kalian semua, silahkan Gita.”
Ia tersenyum, sesaat. Mengambil aba-aba.
“Jangan menyerah hanya karena ada seseorang yang tidak menyukaimu dan jadikan itu sebagai alasan untuk tetap berusaha dan berjuang.”
“Ya itu dia quote dari Gita ‘Jangan menyerah hanya karena ada seseorang yang tidak menyukaimu dan jadikan itu sebagai alasan untuk tetap berusaha dan berjuang’ terima kasih untuk kebersamaannya. Saatnya saya, Roger pamit. Dan rekan saya Ismi. Selamat beraktifitas, dan stay tune terus di 99,8FM. Sampai jumpa.
* * *
“Wah kurasa rating dari acara ini akan meningkat!”
Semuanya tertawa. Termasuk dirinya. Entah mengapa ia jadi nyaman dengan tempat ini. Karena sebuah alasan yang ia sendiripun tidak mengerti.
“Tentu saja! Penulis hebat seperti Gita memang layak sekali untuk diperbincangkan.” Ismi menambahkan. Kata-katanya terdengar seperti pidato kepresidenan. Antusias.
“Aku juga senang sekali dan merasa terhormat karena diundang untuk wawancara sekaligus promosi bukuku yang akan segera rilis.” Seniornya menggelengkan kepala. Itu artinya tidak setuju dengan perkataan juniornya.
“Bukankah kau tidak suka datang ketempat seperti ini?”
Ini benar-benar perang yang terjadi setelah siaran. Bahkan ia kehilangan kendali. Suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya.
“Bukankah kau yang memaksaku?” ia tidak kalah menyindir seniornya.
“Wah kurasa kalian berdua memang suka sekali perang mulut seperti ini ya?” kini keduanya terdiam saat Ismi mengatakan sindiran yang lebih mematikan.
“Awas sepertinya kalian berdua akan jatuh cinta secara bersamaan. Senior aku duluan, dan Gita terima kasih banyak untuk wawancara hari ini.”
Ismi bergerak lebih cepat dari tangan Fahmi yang ingin sekali memukul kepalanya. Ismi tersenyum dan melambaikan tangan. Berpamitan. Kini tinggal seniornya dengan Gita.
“Kau ingin pulang sekarang?” tanyanya sambil melihat-lihat sekitar.
“Sepertinya minum kopi enak setelah hujan begini. Dan tentu saja kau yang bayar! Kau punya hutang denganku. Masih ingatkah?” ia kembali menjadi dirinya. Yang mengingat hal-hal kecil.
 “Tentu saja!”
Fahmi merangkul pundak Gita. Mengajak jalan. Yang dirangkul bersikeras ingin melepaskan. Bahkan ia tidak pernah berpikir akan berteman dengan seniornya selama ini. Hanya bermula dari pertemanan biasa yang bahkan tidak terlalu dekat untuk saling berbicara. Awalnya sulit untuknya, tapi dari waktu ke waktu seniornyalah yang lebih dulu untuk menyapa, mengajak ngobrol, membahas hal-hal seputar kampus, mengantar ke toko buku, hingga beberapa kali menonton pertunjukan musikal. Tentu saja sulit.pada awalnya. Ia bahkan sempat tidak mempercayai seniornya itu. Terlebih lagi banyak teman-temannya yang mengatakan bahwa seniornya itu playboy.
Menikmati kopi hangat dalam cuaca dingin begini memang enak. Udara yang sejuk bagi siapapun yang melihat bahkan merasakannya. Untuk waktu yang lama keduanya hanya duduk terpaku. Sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Senior, ada yang ingin aku tanyakan..”
Kini matanya terlihat binar, raut wajahnya mengatakan bahwa kini ia ragu. Lebih tepatnya gelisah. Yang ditanya masih sibuk dengan segelas kopinya.
“Kau ingin menanyakan apa? atau jangan-jangan…”

Ini yang ia butuhkan untuk sekarang. Candaan. Ya candaan seniornya memang terkadang terdengar seperti memalukan, tapi untuk waktu yang berbeda itu terasa lebih seperti obat baginya. Hanya dengan melihat gaya berpakaiannya saja sudah membuatnya tersenyum. Perbincangan mereka terus berlanjut. Duduk didekat kaca besar saat hujan adalah hal yang menyenangkan. Kau tau kenapa? Karena tetes embun akan terlihat jelas di kaca itu lalu kau bisa menuliskan sesuatu disana. Seperti itu
(Duniapun mengetahuinya, kau dan aku)


Sampai bertemu di part selanjutnya, Semangat membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...