Langsung ke konten utama

Sunset Terakhir part 1



Jogyakarta, 2005
Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana.
Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri belum tau. Aku sendiri belum pasti. Ya, kaulah yang membuat aku suka pantai. Sejak pertama kita bertemu, sejak pertama kau memberiku sebuah batu karang yang menurutku  terlihat biasa saja bahkan tidak ada artinya. Tapi, setelah itu. Setelah persahabatan kita terjalin aku tau, arti semuanya. arti persahabatan yang nyata, arti menunggumu dan kesetiaan.

Lamunanku terbuyar saat kau datang menghampiriku, duduk di sampingku. Seperti biasanya kita melakukannya. Terlihat indah. Bahkan jauh lebih indah. Kau datang lagi, ya datang disaatku membutuhkanmu. Joe duduk di sampingku sambil memberikan sepucuk surat untuk ku baca. Keningnya berkerut dan matanya menyipit melihat lekat-lekat ponsel yang terdapat di tangannya saat itu. Ia menggigit bibir dan sesekali melihatku yang sedang membaca surat darinya.
Aku melihatnya, ia memutar pandangan ke arah pantai. Aku tau betul tatapan matanya, seakan berbicara bahwa ia tidak ingin pergi dan meninggalkan tempat ini. Langit sudah gelap. Ya, aku lihat sunset itu untuk yang kesekian kalinya. Dia yang pertama kali mengajakku untuk melihat sunset. Katanya melihat sunset sama saja dengan melatih kesabaran untuk menunggu. Menunggu hingga benar-benar terbenam. Ia melirik jam tangan dan mendesah. Ia mengajakku untuk pulang.
“Aku akan berangkat ke Jerman setelah perpisahan nanti”
“Kau akan tinggal disana?”
“Sepertinya begitu, aku tidak ingin meninggalkanmu dan semua kenangan tentang kita”
            Aku terdiam, sesekali mendongak ke langit-langit untuk menahan air mataku yang akan jatuh. Aku tidak ingin Joe tau kalau aku menangis. Lagi pula Joe hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Sejak setahun yang lalu aku merasakan sebuah perasaan yang berbeda. Entah siapa yang memulai kontak mata lebih dulu. Tapi aku merasa nyaman dengan itu. Ya, aku tau Joe tidak akan melirikku. Joe tipe orang yang teliti bahkan super teliti. Untuk masalah masa depan dia pasti akan memikirkannya dengan matang-matang. Dia merupakan salah satunya anak cowok yang begitu di gemari oleh teman-temannya. Dia baik, sopan, pintar. Dan selalu menjaga perasaannya terhadap orang lain. Dan aku suka itu.
“Aku juga akan melanjutkan studiku di Jepang”
            Dia memandangiku begitu dalam dan tak biasa.
“Kau terima beasiswa itu?”
“Ya, aku akan mengambilnya.”
“Bagaimana dengan persahabatan kita?”
“Kau bisa mengirimkan email untukku, atau chat aku jika kau sedang On dan aku pun bisa menanyakan kabarmu. Ya sesekali.”
            Aku tertawa, Joe terlihat bingung. Perubahan ekspresi wajahku begitu cepat. Joe mendesah “Memang kau ini cewek yang sangat aneh, bahkan sangat aneh.”
            Aku mengerutkan kening, melihat wajahnya yang benar-benar santai.
Ya tuhan, inikah wajah yang dahulu datang menemuiku ? Apakah inikah jawaban atas semua pertanyaanku ? Apa ini adalah jawaban juga yang tidak boleh aku dapatkan ? Apa semua cerita indah hanya dalam mimpi ? Apakah bersalah mencintai orang yang sama sekali tidak  mencintai kita ? Haruskah aku mencintainya dalam diam ? Hingga saatnya dan hingga akhirnya jawaban apa yang akan aku dapatkan ? Aku mencintainya secara diam-diam atau hingga pada akhirnya dia bahagia atas pilihannya ? entahlah, kisah ini belum berakhir. Aku pun belum menemukan ending dari ceritanya ..
Joe mengangkat kepala dan tersenyum kepadaku. Hari jumat adalah hari yang ia sukai. Mengapa begitu ? karna hari jumat adalah awal akhir pekan yang ditunggu-tunggu. Tapi hari ini sepertinya dia sedang tidak bersemangat. Bahkan melihat surat yang ku baca tadi bahwa dia diterima di salah satu Universitas di Jerman pun dia tidak bahagia.
Joe menggigit bibir dan mengangguk lemah. Ia kembali melirik ponselnya. Mungkin sedang menghitung berapa jam lagi dia akan pergi meninggalkan tempat ini. Ia mendengus “Lupakan saja.” Katanya tegas. Lebih kepada dirinya sendiri. Dengan gerakan acuk tak acuh ia memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
“Lucy, ayo kita pulang sekarang,” katanya. “Mengasihi diri sendiri juga tidak ada artinya.”
            Aku menatapnya lemah dengan bingung. “Yang mengasihi diri sendiri itu siapa?”
* * *
Lima belas menit kemudian, aku sudah berada di kamar. Besok perpisahan. Benar-benar tidak sanggup untuk datang. Bunyi denting halus membuyarkan lamunanku. Ayah dan ibu sudah siap untuk besok. Bahkan aku saja belum siap sama sekali untuk perpisahan besok. Adikku, Sebastian. Sangat sibuk sekali memilih jas yang akan di kenakannya.
“Kak aku lebih pantas pakai yang ini atau yang ini?”
“Ya terserah kau saja bas,” jawabku agak malas.
“Menurut kakak aku pakai yang hitam terlalu tua tidak?”
            Dia menanyakannya kembali di saatku sedang pusing begini. Sudah kelas 3 SMP. Kelakuannya seperti anak SD saja. Dengan malas aku hanya mengangguk. Dan akhirnya dia berhenti bertanya padaku. Pernah waktu itu ada tugas Matematika. Dia memintaku untuk mengerjakannya. Aku mengiyakan. Dan ternyata dia bawa teman-temannya untuk dikerjakan juga. Ya ampun. Sungguh keterlaluan dia itu. Tidak melihat kakaknya sedang lelah karna banyak tugas.
            Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan Joe karna menganggap cowok itu hanya orang asing yang belum bisa berbahasa jawa. Tapi aku salah. Bahasa jawanya Tak ada cela dan aku langsung kagum, apalagi setelah aku tau bahwa dia tidak hanya pandai berbahasa Indonesia dan jawa. Cowok itu menguasai bahasa inggris. Sedangkan bahasa inggrisku tidak terlalu buruk juga. Saat itu dia menganggapku sebagai sahabatnya, tidak lebih. Ah buat apa aku terlalu sering memikirkannya. Bahkan dia pun tidak memikirkanku. Jelas-jelas dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Stop Lucy ! jangan memikirkannya terus. Lagi pula sahabatku di sekolah, Gisela. Sangat suka padanya dari kelas sepuluh. Tapi kasihan sekali, Joe tidak menanggapinya. Joe hanya ingin berteman. Dan aku pun tidak ingin merebut Joe dari Gisela.
            Ya, Gisela. Sahabatku di sekolah, satu bangku denganku. Dan setiap hari tiada henti tanpa membicarakan tentang Joe padaku. Dan yang membuatku sedikit kecewa. Dia akan melanjutkan studinya bersama Joe. Di Jerman. Ya aku hanya berharap dua sahabatku itu bisa bersatu. Setidaknya aku bisa melihat mereka tetap bersama. Dan aku akan bahagia pula. Ya, sesederhana itu.
            Jadilah orang yang dewasa meski harus berpura-pura. Tiap orang memang apa adanya mereka. Tapi hanya manusia dewasalah yang mampu menjadi orang yang bukan dirinya. Bersabarlah Lucy. Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik untukmu. Tidak ada yang tidak mungkin. Untuk sekarang focus dengan belajarmu, raih cita-citamu dan bahagiakan orang yang berada di sekelilingmu. Jika ia benar jodohmu dia akan datang padamu. Karna cinta tak akan pernah tersesat. Ia tau kemana dan dimana harus berlabuh. Tidak perlu melupakannya. Tetaplah jadi sahabat terbaik untuknya. Nikmati masa-masa saat ini. Karna kamu tidak akan bisa kembali ke masa lalu dan kamu juga tidak tau masa depan apa yang tengah menantimu. Setidaknya kamu masih tetap memikirkannya tanpa harus melupakannya ...




* * *
            Jogyakarta, 15 Juni 2008
            Hari ini, tibalah kita pada saat bahagia. Saat-saat perpisahan tiba. Saat dunia nyata tepat di depan mata. Saat masa dewasa mulai tiba. Saat kenangan mulai pudar. Saat aku dan kamu menjadi kita. Masihkan ada seberkas ingatan dalam hatimu ? ingatan yang tercipta kala kita bersama dahulu. Saat kita lalui bersama. Saat canda tawa menghiasi ruangan kelas. Saat masa-masa jatuh cinta semakin membara. Saat masalah mulai tiba. Ya tentang kita. Lelah tak akan berarti bagiku teman, karna kebersamaan hapuskan semuanya. kini yang tersisa hanya seberkas ingatan dalam memori. Mungkinkah akan aku temukan kembali ? ya, masa-masa indah ini. Tak akan pernah aku biarkan ombak menghapus kenangan kita. Meski buih-buih kecil itu telah melampaui masa. Namun semua kenangan kita akan menjadi separuh nyawaku. Dan aku yakin suatu saat akan kau dapatkan jalanmu untuk hidupmu. Namun, berjanjilah teman kepadaku. Bahwa semuanya tak akan melupakan kenangan tentang kita..
            Mungkin tak akan ada lagi masa-masa putih abu-abu. Mungkin tak akan ada lagi masa-masa jatuh cinta. Mungkin saat ini hanya ada masa depan yang berada di depan mata. Semuanya menjadi jelas. Yang abu-abu menjadi putih. Ketika kita harus menentukan jalan hidup yang sebenarnya maka saat itu kita mulai di tuntut untuk bisa menjalani pahit dan manis kehidupan sendiri.
            Dan saat ini, saat kelulusan tiba maka saat ini juga kita baru merasakan persahabatan yang sangat berharga. .
“Lucy..”
            Gisela memelukku hingga membuatku sedikit ribet karna kebaya yang ku kenakan. Terlihat dari jauh sosok Joe yang begitu gagah dengan jas hitam yang di kenakannya.
“Hey, kok diam saja sih? Aku bakal kangen aja nih nanti sama kamu,”
            Aku tersenyum, seolah mataku tak ingin berpaling dari sosok itu.
“Kamu jadi ke Jerman?” Tanyaku pada Gisela.
            Ia hanya mengangguk, sosok itu. Ya, Joe tersenyum manis sekali. Terlihat lebih dewasa dan Gisela terlihat sangat cantik dengan kebaya berwarna biru muda. Pas sekali dengan warna kulitnya.
            Aku menghampiri teman-temanku yang sedang berbincang dengan yang lain. Seperti baru kemarin aku MOS sudah lulus saja. Ini perjalanan awalku untuk mendapatkan semuanya. memulai kehidupan yang nyata. Dan hingga saatnya pembawa acara untuk memulai acara yang hikmat ini. Hening. Ya, semuanya hening. Tanpa suara sedikitpun. Ketika lagu Indonesia raya di nyanyikan dengan tim paduan suara yang sangat bagus. Aku merasa bulu kudukku berdiri semua.
            Saat yang di tunggu-tunggu untuk pengumuman kelulusan dan perolehan nilai tertinggi. Aku sangat berharap bisa menepatkan posisiku pada 3 besar. Semuanya sudah tidak sabar dan benar saja Joe menempatkan posisinya di pertama dengan nilai yang hampir mendekati sempurna, dan tidak ku sangka aku menempatkan posisi kedua. Dan Gisela menempatkan posisinya di ketiga. Ini hasil yang telah ku tanam selama 3 tahun belajar. Akan ku gapai cita-citaku dan akan ku buktikan pada dunia bahwa aku bisa..
Pukul 13.00
Hiburan dari adik kelas dan tidak ketinggalan salah satu band angkatanku membawakan lagu Bondan & fade 2 black – kita selamanya. Teman-temanku terbawa suasana harus bercampur gembira. Aku duduk di urutan ke tiga dari depan. Joe tepat di sampingku. Mataku tak bisa berhenti beralih pandangan. Tatapan itu seakan ingin menyampaikan pesan yang tidak bisa di ucapkan. Dan air mata Joe jatuh tepat di lenganku. Musik klasik yang di bawakan temanku membuatku semakin tak bisa jauh darinya di tambah lagi dengan puisi yang di ucapkan dengan sentuhan nada yang haru.
Sebaris embun, sekilau warna, secerah mentari. Saat semuanya tersimpul pada senyummu. Menandai dimulainya kehidupan indah hari ini. Kamu adalah lembaran hidupku. Dengan tetes rindu yang menghapus setiap sunyi, setiap saat kata-kata ini bicara apa adanya mengenai sebuah isyarat yang di rahasiakan bunga-bunga. Ketika pagi melepaskan dari malam yang pekat. Dan kita adalah sebuah belahan hati. Yang tak bisa kutulisi sendiri tanpa kamu maknai. Tak bisa ku gambar sendiri tanpa kamu warnai. Seperti huruf-huruf cinta yang berkilauan. Di setiap bunga, di setiap embun yang meresap ke dalam kalbu ..
“Ini hari terakhir kita bertemu,”
Ia mengulurkan tangan ke arahku. Merentangkan jari-jarinya tepat di jariku. Lalu mengusapnya dengan penuh kelembutan.
“Aku akan berangkat ke Jepang besok siang.” Ucapku.
            Ia hanya diam, tak menjawab. Aku pergi meninggalkannya sendiri, lalu Gisela menghampirinya. Aku berbalik dan tersenyum melihat mereka sedang berbincang. Teman-temanku memintaku untuk memainkan piano. Ya, untuk terakhir aku bermain di depan teman-temanku dan guru-guruku. Aku tidak punya rencana seperti ini, tapi teman-teman memaksaku untuk memainkannya. Katanya permainanku sangat indah. Aku tau betul itu hanya akal-akalan mereka saja membuat skenario yang membuatku mengiyakan. Dan yang tak di sangka Joe dari belakang menyanyikan lagu dengan sangat indah. Dengan sangat senang berada dalam satu tempat yang sama. Cinta memang tidak pernah tersesat. Sesaat setelah itu, Joe memberikan ucapan selamat untukku.
“Sukses ya,”
            Ia mengulurkan tangannya. Dan aku tersenyum.
“Jangan lupa mengirimkan email untukku di Jepang.”
            Aku tertawa, dia hanya tersenyum. Aku pergi meninggalkannya lagi. Aku tak peduli. Hatiku telah melaju kepadamu. Mungkin aku yang salah. Karna ku yakin ini jalan yang terbaik untuk kita. Takdir yang menemukan kita untuk bisa bersama. Ku sadari ku yang salah melakukan ini. Tak seorang pun yang mengerti. Karna saat ini saat-saat aku merasakannya. Hanya aku dan tuhan yang tau.
* * *
            Untuk yang terakhir aku mengunjungi pantai. Aku duduk di temapt biasa. Memandangi ombak yang menerjang batu karang dengan sangat keras. Hembusan angin mengikuti nada perasaanku. Terlihat beberapa perahu para nelayan yang sedang berlayar. Ya, hidup itu memang indah. Ku pejamkan mata dan mulai ku rasakan hidup yang sesungguhnya. Sesekali menghirup udara dengan dalam-dalam. Dan saat ku buka kedua mataku. Joe telah berada di sampingku. Inilah yang tidak enak dalam persahabatan, aku dan dirinya apalagi sudah 3 tahun. Ia tau betul sifatku dan kebiasaanku bahkan tabiat jelekku pun dia tau.
“Sejak kapan kau disini?”
            Aku bingung, dia hanya diam dan sesaat itu menoleh ke arahku. Tapi kali ini aku tidak tau apa yang dia fikirkan dan ia rasakan. Seolah aku berada dalam situasi yang berbeda. Ia mematikan ponselnya dan menghela nafas.
“Sejak kau memejamkan mata. Apa yang kau lakukan?”
“Tidak, hanya ingin disini saja. Melihat ombak yang begitu indah. Dan aku pasti akan merindukan semuanya.”
“Aku juga sama akan rindu sekali dengan suasana seperti ini.”
            Aku diam, memandangi lautan yang luas. Joe menyentuh tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Kali ini matanya berbicara bahwa jangan di lepaskan. Aku menatapnya dengan tajam. Dan tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku nyaman sekali. Entah apa yang di rasakan Joe saat ini. Aku tidak tau.  Seandainya aku bisa merasakan perasaannya saat ini, apakah dia bahagia saat ini atau sebaliknya. Aku hanya meminta dengan penuh harap jangan pernah melupakan semuanya. hari ini. Ijinkan aku berada di sampingmu hingga sunset terbenam. Hingga malam yang pekat datang. Dan hingga pagi kembali datang aku akan berada di Negara orang.
“Apa yang kau tau tentangku?” tanyanya.
“Kau?” aku menoleh.
“Iya aku.”
“Kau baik, kau sahabatku yang terbaik. Kau banyak mengajarkanku banyak hal,”
“Hanya itu?”
            Aku mengangguk. Dia tersenyum. Sunset mulai terbenam dan ini yang aku inginkan. Sunset terakhir sebelum aku dan Joe berpisah.
            Saat sunset mulai terbenam, jangan pernah membenamkan cita-citamu. Biarkan dia tenggelam dalam lautan lepas. Biarkan dia tenggelam hingga malam yang pekat datang. Biarkan dia menggantikan bulan dan bintang bersinar. Saat sunset mulai terbenam, jangan pernah membenamkan perasaanmu. Biarkan dia ungkapkan. Biarkan dia mengalir bersama ombak. Biarkan dia membuat aliran-aliran baru yang membawa perasaanmu entah kemana. Saat sunset mulai terbenam, jangan pernah membenamkan hatimu di dalamnya. Jangan pernah kau biarkan hatimu ikut terbenam ke dalamnya. Biarkan dia tetap seperti itu. Tidak perlu berubah. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...