Langsung ke konten utama

SNOW FLOWER


SNOW FLOWER
Oleh : Wilda Fajar Gusti Ayu

            Rumah sakit dengan fasilitas yang sangat canggih dan juga peralatan medis yang begitu memadai. Mulai dari penyakit ringan seperti flu hingga penyakit langka yang membutuhkan banyak obat juga peralatan kemoterapi. Ruangan ini sudah ramai, bisa dikatakan akan tetap ramai. Selama 24 jam orang-orang hilir mudik kesana kemari. Beberapa diantaranya sibuk membawa makanan juga karangan bunga. Bau rumah sakit selalu khas dan tidak mengenakan. Entah sejak kapan laki-laki itu terbiasa dengan bau rumah sakit yang begitu tajam. Beberapa orang mengenakan jas putih sibuk berlarian. Saling berteriak. Mendorong-dorong pasien menuju IGD. Darah dimana-mana juga perawat yang sibuk memegangi gagang telepon. Suara bising menyelimuti ruangan ini.
            Melihat pakaian pasien yang sama juga dengan saluran infus yang menempel di jari tangan bahkan kepala sudah biasa. Melihat mobil ambulan yang tidak berhenti bersirine juga sudah terbiasa. Laki-laki itu tengah duduk di depan ruang pasien. Entah sudah berapa hari laki-laki itu tidak pulang bahkan tidak mengganti pakaiannya. Wajahnya terlihat kusam, bahkan kini pandangannya kosong. Ada yang dipikirkan laki-laki itu.
            Lantai tiga nyaris sepi. Hanya beberapa perawat yang hilir mudik mengantarkan makan juga obat untuk pasien. Detik demi detik, entah mengapa setiap harinya terasa lama untuk laki-laki itu.

            “Pulanglah, kau harus mengganti pakaianmu dulu. Setelah itu kau bisa datang kembali. Ah, istirahatlah. Kau tenang saja,”
            Gadis di depannya berusaha untuk membujuk laki-laki itu untuk beranjak pergi. Tersenyum selepas mungkin. Memegangi tangan laki-laki itu. Menatap lamat-lamat. Yang ditatap masih sibuk dengan urusannya. Tidak membuka mulut ataupun merespon sesuatu.
            Laki-laki itu mengangkat kepalanya, tidak berkedip sedetik pun. Gadis itu tersenyum. Mengangguk perlahan. Seolah memberitahu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Laki-laki itu berdiri. Bahkan pergi tanpa sepatah katapun. Tangannya dimasukan ke dalam saku jaketnya yang tebal. Gadis tadi langsung masuk ke ruangan 105. Duduk di sofa, meneguk segelas air putih. Lalu melanjutkan baca buku yang ada di meja.
Gadis itu bosan hanya diam dan duduk menatapi bukunya selama berjam-jam. Ia beranjak menuju kasur putih. Di sisi lain gadis cantik dengan kulit putih juga rambut hitam panjang terbaring disana. Berbagai selang menyelimuti tubuhnya. Dahinya tertutup perban. Wajah cantiknya masih terlihat walaupun sangat jelas untuk melihat luka lebam disana.
Gadis itu sedikit kecewa, memegangi tangan dari gadis yang tertidur lelap itu.
“Kau terlihat jelek sekali bahkan jika tertidur, calonmu tidak mau pulang sebelum kau berbicara padanya. Bangunlah, jelaskan semuanya apa yang sudah terjadi malam itu. Ya tuhan, seharusnya malam itu aku tidak membiarkanmu mengendarai mobil dalam waktu yang selarut itu. Kau harus bertanggung jawab. Dan aku tidak akan membiarkanmu melupakan semuanya. Jadi…”
Tidak sadar, setetes air mata terjatuh tepat di tangan gadis yang tertidur itu. Berkali-kali gadis itu melirik orang yang tertidur di sampingnya.
“Seharusnya kau suruh aku saja untuk mengurus semua keperluan pernikahanmu. Bagaimana bisa kau  sendiri yang langsung memutuskan begitu saja! Apa aku ini bukan temanmu, ya!”
Gadis itu tersenyum getir.
Gadis itu masih setia duduk di samping temannya. Bahkan kini gadis itu merasa bahwa dirinya sudah tidak lagi berharga. Pintu ruangan terbuka. Laki-laki itu sudah kembali dalam waktu dua jam. Dengan wajah yang terlihat lebih segar juga pakaian yang rapih. Laki-laki itu mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru gelap, rambut yang terpangkas rapih juga jam tangan yang melingkar di tangannya. Gagah sekali. Sosok laki-laki idaman wanita.
Seperti yang terjadi saat ini. Gadis itu melirik laki-laki itu berkali-kali. Membiarkan kursinya untuk di tempati laki-laki tadi. Gadis itu berpura-pura ceria, entah kepada siapa ia bercerita atau bersenda gurau. Tidak ada yang menanggapi atau merespon.
“Calonmu sudah datang. Lihat, ia tampan sekali. Ini benar-benar tipemu sekali. Jadi kumohon bangunlah. Oh? Aku akan mentraktirmu makan, tidak-tidak, kalau perlu kita habiskan waktu kita untuk pergi bersama juga belanja. Ya, belanja. Bukankah kau suka sekali dengan belanja?”
Gadis itu terisak, tidak mampu lagi menahan rasa sakit yang kian melebar dan menyebar didalam dadanya. Gadis itu sungguh tidak kuat lagi. Sungguh. Hari ini, gadis itu ingin berpura-pura tidak mengetahui semuanya. Menangis tersedu-sedu duduk di sofa. Menutupi wajahnya dengan buku. Sungguh, ini berat sekali. Bagi siapapun yang melihatnya ini sungguh berat. Dan laki-laki itu begitu setia dengan gadis yang terbaring itu.
Gadis itu memilih keluar ruangan. Duduk di luar mencari udara segar mungkin pilihan terbaik untuknya. Meninggalkan laki-laki tersebut menemani temannya.
“Aku datang, Sa. Kamu masih belum mau bertemu denganku? Sepertinya kau benar-benar lelah, kau tidak ingat? Sudah berapa lama kau terlelap seperti itu?”
Bibir laki-laki itu terlihat gemetar. Juga nada bicaranya yang mulai melemah. Bahkan kini matanya sudah penuh, menatap langit-langit ruangan hanya karena tidak ingin menumpahkan semuanya disini. Di hadapan orang yang ia sayangi.
“Ayolah, bangun. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan sepanjang hari. Atau kita akan naik kapal seperti yang kau inginkan, melihat laut dan sunset bersama. Menyenangkan bukan? Jadi, kuminta bangunlah. Apa kau tidak kasian padaku jika harus hidup sendiri? Pernikahan kita? Aku menunda semuanya, kau benar-benar..”
Sadar akan nada bicaranya yang melemah, laki-laki itu langsung mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Melipat baju kemejanya. Memegangi tangan gadis itu. Sungguh menyedihkan. Laki-laki itu berbicara seolah pada dinding ruangan. Siapa yang peduli dengan obrolan mereka. Ruangan ini benar-benar bagus, dengan fasilitas yang memadai dan lengkap. Gadis itu bahkan sudah tiga bulan terbaring disana. Mereka yang datang hanya mengganti cairan infus atau menyuntikan sesuatu di selang tangannya. Mengganti karangan bunga atau membuka dan menutup gorden.
“Sa? Kamu ingat hari ini? Hari ini hari ulang tahunmu. Wah aku merasa bahwa kita benar-benar bersama. Menikmati semuanya. Kau tidak ingin melihat kado yang akan kuberikan untukmu? Apa kau tidak penasaran? Aku dan juga sahabatmu menyiapkan kejutan yang bagus untukmu, tidak bisakah kau bangun walaupun sebentar?”
Laki-laki tadi mengambil karangan bunga yang dibawanya sepulang dari rumah sakit. Mencium karangan bunga itu dengan rasa sakitnya. Bahkan tangannya tidak terlalu kuat untuk meletakkan di samping gadisnya itu.
Pintu ruangan kembali terbuka. Gadis itu kembali masuk setelah sejam berada diluar. Tersenyum titipis ke arah laki-laki itu. Laki-laki itu hanya mengangguk lemah. Mengusap air matanya.
“Bisakah kau menjaganya sebentar, aku akan keluar.”
Gadis itu mengangguk, duduk di samping temannya. Menatapnya. Yang ditatap seolah tidak peduli masih terpejam erat kedua matanya. Tidak bergerak. Laki-laki tadi menutup ruangan. Berjalan perlahan menyusuri lorong rumah sakit. Menekan tombol lift. Memilih angka terakhir yang berarti laki-laki itu akan sampai di lantai atas rumah sakit. Udara malam terasa menyegarkan juga menyakitkan. Sesak. Ya, hatinya begitu sesak. Lebih sakit dari apapun, saking sakitnya laki-laki itu tidak bisa lagi merasakan rasa sakit yang lainnya.
Laki-laki itu sudah berdiri di dekat tiang pembatas rumah sakit. Membiarkan tubuhnya tertiup angin malam. Sebelum laki-laki itu memutuskan untuk kembali ke ruangan gadis yang dicintainya. Laki-laki itu sudah berdiri sejak sepuluh menit yang lalu. Mengembuskan napas panjang. Lalu berjalan yakin menuju ruangan gadis yang akan ia datangi. Kakinya berhenti didepan pintu ruangan, ragu sejenak sebelum tangannya menyentuh gagang pintu. Gadis yang didalam sudah terbiasa. Laki-laki itu duduk menyiapkan meja kecil diatas kasur yang berarti di hadapan gadis itu. Menaruh lilin di atasnya.
“Selamat ulang tahun sa, aku hanya berharap satu hal malam ini. Kau sadar. Hanya itu. Aku dan juga sahabatmu disini akan selalu setia dengan sangat. Bahwa sejatinya kau masih punya orang-orang yang tulus menemani hidupmu. Jadi kumohon bukalah matamu sebentar saja dan tiup lilin ini juga buat harapanmu.”
Laki-laki itu menahan tangisnya sejak pertama kali datang. Gadis di sampingnya masih belum berbicara apa-apa. lilin hampir habis. Kedua orang itu membiarkan lilin luntur dengan sendirinya. Tiba-tiba saja, mata gadis itu perlahan terbuka. Menatap kedua orang yang berada di samping gadis itu. Laki-laki itu juga temannya tersenyum tipis. Dan entah dari mana asal angin yang datang, Pada saat itu lilin padam begitu saja bersamaan dengan sadarnya gadis itu. Dan cincin manis sudah melingkar di jari manis gadis itu dengan indah.
Mungkin setelah ada kepergian baru tau bagaimana arti memiliki, baru tau apa itu kasih sayang dan baru tau apa itu kehilangan. Sejatinya kesetiaan itu memang ada




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...