Langsung ke konten utama

EVERLASTING FRIENDSHIP

Ini salah satu cerita yang dibuat berdasarkan kenyataan salah seorang sahabat dengan sahabatnya.Tentang waktu yang dihabiskan bersama, tentang cinta apa adanya, dan tentang mereka yang berbagi cerita dan pengalaman. Dan cerita ini adalah cerita nyata tentang "trio curut" cerita tentang persahabatan murid-murid saya, dan saya begitu bangga dengan mereka...
Happy reading guys ..

EVERLASTING FRIENDSHIP
OLEH : WILDA FAJAR GUSTI AYU

Kalau bukan disini, lalu dimana aku …
Kalau bukan dengan mereka, lalu dengan siapa aku …
Kalau bukan sekarang, lalu kapan aku …
Tak peduli dulu atau saat ini …
Hanya tau bahwa ini adalah ceritaku juga sesuatu yang kuinginkan dalam hidup
* * *
Adel sedang berjalan menyusuri koridor sekolah sambil membawa tumpukan buku yang disimpannya dalam paper bag. Beberapa saat kemudian ia sudah duduk di depan kelasnya. Hingga seketika ia menemukan suara yang dikenalnya.
“Adel!” salah seorang memanggil namanya dengan suara sedikit serak. ia menoleh, mencari sumber suara yang dikenalnya. Benar. Itulah temannya. Suara yang cukup besar untuk seorang perempuan dengan ciri khasnya yang serak.
            Matanya langsung tertuju pada sesuatu yang dipegang oleh temannya itu. Ya itulah selembar foto polaroid yang dibawa oleh temannya. Selembar foto yang menjelaskan kebahagian tanpa beban sedikitpun. Tidak bagus memang, tapi setidaknya itu foto terbaik yang ditunjukan anak SMP yang sedang tersenyum di atas ranjang tidurnya bergambarkan hello kitty.
            “Lihat, bagus bukan?”
            Ditunjukannya selembar foto tersebut di depan wajah Adel. Wajahnya masih tersenyum seperti biasanya orang yang sedang bahagia.
            “Oh!” wajah Adel sedikit terkejut saat menatap foto tersebut. “Bukankah ini foto saat kita berada di rumah Ghina?” tanyanya, sambil berusaha mengingat.
            Lutfi tersenyum kecil. “Memang betul,”
            “Untukku saja.” Adel berusaha menarik selembar foto tersebut dari tangan Lutfi.
            “Dari pada ribut tidak jelas, lebih baik untukku saja.”
            Adel dan Lutfi menatap Ghina dengan heran. Tiba-tiba saja salah seorang temannya itu ikut bergabung dan merebut selembar foto tersebut dari mereka berdua. Jelas saja mereka heran bukan main. Ketiganya masih diam, Adel dan Lutfi masih menjaga raut wajahnya tetap datar. Tetapi sepertinya Ghina bisa menebak apa yang dipikirkan kedua temannya itu. Sebelum akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.
            “Kantin yuk!” ajak Lutfi.
            “Ayoooo..”
            Mereka bertiga berjalan bersama. Sejajar. Tidak ada yang mendahului ataupun tertinggal. Jika ada yang ingin bertanya bagaimana ketiganya bisa akrab, maka hari ini ia akan sedikit menceritakan kepada kalian. Inilah cerita tentang mereka yang dikenal dengan sebutan “Trio wek-wek atau trio curut
* * *
Sekolah menjadi tempat yang paling sering dikunjungi setelah rumah. Bertemu teman menjadi salah satu alasan untuk bersemangat setiap harinya. Tugas yang numpuk akan terasa ringan dan menyenangkan apabila dikerjakan bersama. Mungkin bagi sebagian orang cerita ini akan terlihat sedikit berlebihan, tapi percayalah ini cerita apa adanya yang tengah mereka rasakan. Gejolak saling merindukan juga perdebatan yang sering kali hadir ditengahnya. dan inilah kisah kami.
Namanya Siti Lutfiah, biasa dipanggil Lutfi. Remaja kelahiran Serang, 2 September 2003 ini dikenal dengan sebagai sosok teman yang menyenangkan. Bagaimana tidak, mungkin sepanjang hidupnya ia hanya bisa tersenyum dan tertawa bahkan membuat keributan yang dimana semua teman sekelasnya tertawa. Ia mempunyai hobbi makan, menyukai warna merah muda, dan hal yang paling ia sukai adalah menyanyi. Mungkin itu adalah sedikit perkenalan yang didapatkan ketika masa ospek.
“Adel bagi minumnya dong!” ucap Lutfi yang masih menguyah makananya dimulut. Pipinya tersumpal penuh dengan makanan.
Adel meletakkan botol minumnya didepan Lutfi. Saat ini mereka bertiga sedang duduk bersama di ruang kelas. Membawa bekal mungkin sudah menjadi kebiasaan mereka setiap harinya. Atau mungkin juga yang membawa bekal hanya satu dan yang lainnya akan ikutan makan bersama. Tidak masalah untuknya.
“Sepulang sekolah mau main kerumahku tidak?” tanya Ghina yang sedang membersihkan mulutnya dengan sapu tangan.
Lutfi mengangguk.
“Boleh, tapi sekalian mengerjakan tugas ya” timpal Adel.
“Yah, nggak seru tau kalau mengerjakan tugas! Tugasnya nanti saja!”
Adel melirik kearah Lutfi. Masih memerhatikan temannya itu. Disaat mulutnya tersumpal makanan penuh tapi masih sempat-sempatnya angkat bicara.
“Habiskan dulu makananmu,” sahut Ghina
Mungkin diantara ketiganya memiliki karakter yang berbeda. Lutfi yang selalu ceria dan selalu protes setiap kali ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Atau Ghina yang lemah lembut dalam berbicara. Juga Adel yang sering sekali membicarakan sesuatu hingga tuntas. Lahir di bulan yang sama membuat mereka bertiga memiliki suatu kesamaan. Yaitu sama-sama penasaran akan sesuatu.
Siapa yang sangka bahwa takdir akan menyatukan mereka bertiga. Bermula dari perkenalan yang biasa-biasa saja dan bahkan tidak akrab. Adel mulai mengenal Ghina dan Lutfi sewaktu kelas 8, dan awalnya mereka memang biasa saja bahkan tidak sedekat sekarang. Tapi waktu mengubah cara pandang mereka perlahan. Sedikit demi sedikit, satu per satu semuanya mulai terbuka. Seperti magis yang ditemukan pada kupu-kupu hingga bermetamorfosa menjadi sempurna. Ya seperti itulah persahabatan mereka. Tidak instan tidak terjadi begitu saja. Semuanya butuh proses.
Karena sering ke kantin bersama dan sering menanyakan tentang pelajaran ini dan itu kedekatan mereka semakin menjadi. Dan sampailah sekarang dikelas 9 mereka bersahabat bersama. Terkadang sesuatu yang besar itu datangnya tidak terduga, seperti menebak langit abu-abu.
Dan kedekatan Adel dengan Ghina diawali saat mereka berdua di delegasikan untuk mengikuti Olimpiade Fisika. Hingga akhirnya tunas-tunas baru telah muncul dari cabang yang lainnya. Begitu juga kedekatan Adel dengan Lutfi.

* * *
Sepulang sekolah Lutfi dan Adel kerumah Ghina. Sesampainya disana seperti biasa yang dilakukan pertama hanya malas-malasan ditempat tidur lalu foto-foto dengan lampu tumblr. Sudah biasa bagi mereka yang seperti itu bukan menjadi hal yang aneh lagi namun sudah seperti kebiasaan. Satu kelas bersama, satu tempat les bersama, bahkan sering satu kelompok tugas di sekolah namun tidak ada bosannya jika sudah bertemu. Melakukan hal yang aneh-aneh yang tidak biasa dilakukan oleh kebanyakan orang lain. Tapi seperti itulah kebahagiaan yang sesungguhnya yang sedang mereka rasakan.
“Del, kalau sudah besar kamu mau jadi apa?” tanya Ghina pelan.
Lutfi masih duduk dibawah sementara Ghina sibuk mengeluarkan isi tasnya yang dipenuhi buku pelajaran. Yang ditanya masih sibuk dengan tugas yang dikerjakan.
“Adel..” panggil Ghina sekali lagi
Adel menoleh, belum memberikan jawaban. Seolah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan, sebelum akhirnya jawaban yang keluar adalah. “Saya ingin jadi guru.”
Seketika semuanya terdiam. Menoleh ke arah Adel. Sementara yang dilirik sibuk menyatat tugas.
“Alasannya?” tanya Lutfi. Kini ia mengambil langkah lebih dekat dengan Adel.
Adel menaruh pensilnya. Bersiap untuk menjelaskan. Tiba-tiba saja sore itu tidak seperti biasanya. Mereka lebih memilih percakapan yang berat. Percakapan yang tidak biasanya mereka bicarakan. Raut wajah ketiganya seolah tegang. Siap mendengarkan.
“Karena..” jawabannya terhenti disana.
“Karena guru itu cita-cita yang mulia dan guru itu tidak jenuh karena kita berinteraksi langsung dengan siswa dan ingin berbagi apa yang aku dapatkan.”
Lutfi mengangguk. Entah itu anggukan seperti apa.
“Kalau kamu Gin?” tanya Lutfi penasaran.
Ghina membetulkan posisi duduknya. “Hakim.” Jawabnya santai.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Alasannya? Adalah pokoknya rahasia. Tapi aku dari TK ingin sekali jadi Hakim,” ungkapnya. Mereka bertiga tersenyum untuk suatu alasan yang sama. Kebahagiaan.

            Sore itu menjadi hari terpanjang juga melelahkan. Bukan karena banyaknya tugas hanya saja waktu bersama jauh lebih meyenangkan dari apapun. Terkadang kita butuh begini untuk menikmati hidup (pertama kalinya kenal mereka dan akhirnya this is awesome). Karena setidaknya mereka selalu memberikan canda dan tawa. Dan ketika penat dengan segala rutinitas sekolah, merekalah yang selalu bersahabat untuk kembali menyegarkannya. Ada yang bilang pertemuan itu tercipta untuk sebuah perpisahan. Maka biarkanlah mereka yang memilih untuk pergi sekalipun, Mungkin setelah ada kepergian baru tau bagaimana arti memiliki, baru tau apa itu kasih sayang dan baru tau apa itu kehilangan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...