Ini salah satu cerita yang dibuat berdasarkan kenyataan salah seorang sahabat dengan sahabatnya.Tentang waktu yang dihabiskan bersama, tentang cinta apa adanya, dan tentang mereka yang berbagi cerita dan pengalaman. Dan cerita ini adalah cerita nyata tentang "trio curut" cerita tentang persahabatan murid-murid saya, dan saya begitu bangga dengan mereka...
Happy reading guys ..
Happy reading guys ..
EVERLASTING
FRIENDSHIP
OLEH
: WILDA FAJAR GUSTI AYU
Kalau
bukan disini, lalu dimana aku …
Kalau
bukan dengan mereka, lalu dengan siapa aku …
Kalau
bukan sekarang, lalu kapan aku …
Tak
peduli dulu atau saat ini …
Hanya
tau bahwa ini adalah ceritaku juga sesuatu yang kuinginkan dalam hidup
Adel
sedang berjalan menyusuri koridor sekolah sambil membawa tumpukan buku yang
disimpannya dalam paper bag. Beberapa
saat kemudian ia sudah duduk di depan kelasnya. Hingga seketika ia menemukan
suara yang dikenalnya.
“Adel!”
salah seorang memanggil namanya dengan suara sedikit serak. ia menoleh, mencari
sumber suara yang dikenalnya. Benar. Itulah temannya. Suara yang cukup besar
untuk seorang perempuan dengan ciri khasnya yang serak.
Matanya langsung tertuju pada
sesuatu yang dipegang oleh temannya itu. Ya itulah selembar foto polaroid yang
dibawa oleh temannya. Selembar foto yang menjelaskan kebahagian tanpa beban
sedikitpun. Tidak bagus memang, tapi setidaknya itu foto terbaik yang
ditunjukan anak SMP yang sedang tersenyum di atas ranjang tidurnya bergambarkan
hello kitty.
“Lihat,
bagus bukan?”
Ditunjukannya
selembar foto tersebut di depan wajah Adel. Wajahnya masih tersenyum seperti
biasanya orang yang sedang bahagia.
“Oh!”
wajah Adel sedikit terkejut saat menatap foto tersebut. “Bukankah ini foto saat
kita berada di rumah Ghina?” tanyanya, sambil berusaha mengingat.
Lutfi
tersenyum kecil. “Memang betul,”
“Untukku
saja.” Adel berusaha menarik selembar foto tersebut dari tangan Lutfi.
“Dari
pada ribut tidak jelas, lebih baik untukku saja.”
Adel
dan Lutfi menatap Ghina dengan heran. Tiba-tiba saja salah seorang temannya itu
ikut bergabung dan merebut selembar foto tersebut dari mereka berdua. Jelas
saja mereka heran bukan main. Ketiganya masih diam, Adel dan Lutfi masih
menjaga raut wajahnya tetap datar. Tetapi sepertinya Ghina bisa menebak apa
yang dipikirkan kedua temannya itu. Sebelum akhirnya mereka bertiga tertawa
bersama.
“Kantin
yuk!” ajak Lutfi.
“Ayoooo..”
Mereka
bertiga berjalan bersama. Sejajar. Tidak ada yang mendahului ataupun tertinggal.
Jika ada yang ingin bertanya bagaimana ketiganya bisa akrab, maka hari ini ia
akan sedikit menceritakan kepada kalian. Inilah cerita tentang mereka yang
dikenal dengan sebutan “Trio wek-wek atau
trio curut”
* * *
Sekolah menjadi
tempat yang paling sering dikunjungi setelah rumah. Bertemu teman menjadi salah
satu alasan untuk bersemangat setiap harinya. Tugas yang numpuk akan terasa
ringan dan menyenangkan apabila dikerjakan bersama. Mungkin bagi sebagian orang
cerita ini akan terlihat sedikit berlebihan, tapi percayalah ini cerita apa adanya
yang tengah mereka rasakan. Gejolak saling merindukan juga perdebatan yang
sering kali hadir ditengahnya. dan inilah kisah kami.
Namanya Siti
Lutfiah, biasa dipanggil Lutfi. Remaja kelahiran Serang, 2 September 2003 ini
dikenal dengan sebagai sosok teman yang menyenangkan. Bagaimana tidak, mungkin
sepanjang hidupnya ia hanya bisa tersenyum dan tertawa bahkan membuat keributan
yang dimana semua teman sekelasnya tertawa. Ia mempunyai hobbi makan, menyukai warna
merah muda, dan hal yang paling ia sukai adalah menyanyi. Mungkin itu adalah
sedikit perkenalan yang didapatkan ketika masa ospek.
“Adel bagi
minumnya dong!” ucap Lutfi yang masih menguyah makananya dimulut. Pipinya
tersumpal penuh dengan makanan.
Adel meletakkan
botol minumnya didepan Lutfi. Saat ini mereka bertiga sedang duduk bersama di
ruang kelas. Membawa bekal mungkin sudah menjadi kebiasaan mereka setiap
harinya. Atau mungkin juga yang membawa bekal hanya satu dan yang lainnya akan
ikutan makan bersama. Tidak masalah untuknya.
“Sepulang
sekolah mau main kerumahku tidak?” tanya Ghina yang sedang membersihkan
mulutnya dengan sapu tangan.
Lutfi
mengangguk.
“Boleh, tapi sekalian
mengerjakan tugas ya” timpal Adel.
“Yah, nggak seru
tau kalau mengerjakan tugas! Tugasnya nanti saja!”
Adel melirik
kearah Lutfi. Masih memerhatikan temannya itu. Disaat mulutnya tersumpal
makanan penuh tapi masih sempat-sempatnya angkat bicara.
“Habiskan dulu
makananmu,” sahut Ghina
Mungkin diantara
ketiganya memiliki karakter yang berbeda. Lutfi yang selalu ceria dan selalu
protes setiap kali ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Atau Ghina
yang lemah lembut dalam berbicara. Juga Adel yang sering sekali membicarakan
sesuatu hingga tuntas. Lahir di bulan yang sama membuat mereka bertiga memiliki
suatu kesamaan. Yaitu sama-sama penasaran akan sesuatu.
Siapa yang
sangka bahwa takdir akan menyatukan mereka bertiga. Bermula dari perkenalan
yang biasa-biasa saja dan bahkan tidak akrab. Adel mulai mengenal Ghina dan
Lutfi sewaktu kelas 8, dan awalnya mereka memang biasa saja bahkan tidak
sedekat sekarang. Tapi waktu mengubah cara pandang mereka perlahan. Sedikit
demi sedikit, satu per satu semuanya mulai terbuka. Seperti magis yang
ditemukan pada kupu-kupu hingga bermetamorfosa menjadi sempurna. Ya seperti
itulah persahabatan mereka. Tidak instan tidak terjadi begitu saja. Semuanya
butuh proses.
Karena sering ke
kantin bersama dan sering menanyakan tentang pelajaran ini dan itu kedekatan
mereka semakin menjadi. Dan sampailah sekarang dikelas 9 mereka bersahabat
bersama. Terkadang sesuatu yang besar itu datangnya tidak terduga, seperti
menebak langit abu-abu.
Dan kedekatan
Adel dengan Ghina diawali saat mereka berdua di delegasikan untuk mengikuti
Olimpiade Fisika. Hingga akhirnya tunas-tunas baru telah muncul dari cabang
yang lainnya. Begitu juga kedekatan Adel dengan Lutfi.
* * *
Sepulang sekolah
Lutfi dan Adel kerumah Ghina. Sesampainya disana seperti biasa yang dilakukan
pertama hanya malas-malasan ditempat tidur lalu foto-foto dengan lampu tumblr. Sudah biasa bagi mereka yang
seperti itu bukan menjadi hal yang aneh lagi namun sudah seperti kebiasaan.
Satu kelas bersama, satu tempat les bersama, bahkan sering satu kelompok tugas
di sekolah namun tidak ada bosannya jika sudah bertemu. Melakukan hal yang
aneh-aneh yang tidak biasa dilakukan oleh kebanyakan orang lain. Tapi seperti
itulah kebahagiaan yang sesungguhnya yang sedang mereka rasakan.
“Del, kalau
sudah besar kamu mau jadi apa?” tanya Ghina pelan.
Lutfi masih
duduk dibawah sementara Ghina sibuk mengeluarkan isi tasnya yang dipenuhi buku
pelajaran. Yang ditanya masih sibuk dengan tugas yang dikerjakan.
“Adel..” panggil
Ghina sekali lagi
Adel menoleh,
belum memberikan jawaban. Seolah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan, sebelum
akhirnya jawaban yang keluar adalah. “Saya ingin jadi guru.”
Seketika
semuanya terdiam. Menoleh ke arah Adel. Sementara yang dilirik sibuk menyatat
tugas.
“Alasannya?”
tanya Lutfi. Kini ia mengambil langkah lebih dekat dengan Adel.
Adel menaruh
pensilnya. Bersiap untuk menjelaskan. Tiba-tiba saja sore itu tidak seperti
biasanya. Mereka lebih memilih percakapan yang berat. Percakapan yang tidak
biasanya mereka bicarakan. Raut wajah ketiganya seolah tegang. Siap
mendengarkan.
“Karena..”
jawabannya terhenti disana.
“Karena guru itu
cita-cita yang mulia dan guru itu tidak jenuh karena kita berinteraksi langsung
dengan siswa dan ingin berbagi apa yang aku dapatkan.”
Lutfi
mengangguk. Entah itu anggukan seperti apa.
“Kalau kamu
Gin?” tanya Lutfi penasaran.
Ghina
membetulkan posisi duduknya. “Hakim.” Jawabnya santai.
“Kenapa?”
tanyanya lagi.
“Alasannya?
Adalah pokoknya rahasia. Tapi aku dari TK ingin sekali jadi Hakim,” ungkapnya.
Mereka bertiga tersenyum untuk suatu alasan yang sama. Kebahagiaan.
Sore
itu menjadi hari terpanjang juga melelahkan. Bukan karena banyaknya tugas hanya
saja waktu bersama jauh lebih meyenangkan dari apapun. Terkadang kita butuh
begini untuk menikmati hidup (pertama kalinya kenal mereka dan akhirnya this is awesome). Karena setidaknya
mereka selalu memberikan canda dan tawa. Dan ketika penat dengan segala
rutinitas sekolah, merekalah yang selalu bersahabat untuk kembali
menyegarkannya. Ada yang bilang pertemuan itu tercipta untuk sebuah perpisahan.
Maka biarkanlah mereka yang memilih untuk pergi sekalipun, Mungkin setelah ada
kepergian baru tau bagaimana arti memiliki, baru tau apa itu kasih sayang dan
baru tau apa itu kehilangan.

Komentar
Posting Komentar