Langsung ke konten utama

Waktu Tanpa Janji ( Part 3 )

Pagi ini hujan, tidak seperti biasanya. Bahkan saat ini sudah memasuki bulan ramadhan. Apa kabar teman-teman sekalian ?? Apa kabar readers ?? Apa kabar kamu ?? Apa kabar impian ?? Masihkah kamu disana ?? Tunggulah beberapa saat lagi, tunggulah sedikit lebih lama...
Masih inget dong sama Deva Herian?? Ada yang penasaran sama kelanjutan ceritanya? langsung aja ini dia kelanjutan Waktu Tanpa Janji Part 3 ...
Happy Reading guys ...
Waktu Tanpa Janji
(Duniapun mengetahuinya, kau dan aku)

Pagi ini, seperti biasa ia melewatkan sarapan paginya. Menunggu bus dengan santai. Berhenti di halte selanjutnya. Berjalan hingga perempatan jalan. Menunggu dengan sabar lampu lalu lintas berhenti. Seperti itu. Setiap harinya. Tidak ada yang berbeda. Melakukan rapat dipagi hari. Menghabiskan waktunya di ruang siaran. pergi keluar hanya untuk makan. Dan sisanya, ia lebih sering berpikir akan gadis yang ditemuinya waktu itu.
“Ada berapa email yang masuk pagi ini?” tanyanya sambil menghampiri Ismi di ruang kerjanya. Yang ditanya sibuk mengetik sesuatu di komputernya. Deva masih menunggu.
“Kau tadi menanyakan apa Dev? Maaf aku tidak terlalu mendengarkan,” ucapnya.
“Ada berapa email yang masuk pagi ini?” Deva mengulang pertanyaannya.
“Aku sudah memilih beberapa yang awal, aku akan kirimkan ke emailmu. Tunggu saja diruangan siaran, sebentar lagi aku selesai.” Deva mengangguk. Kembali keruangan siaran, pagi ini ia tidak terlalu semangat untuk melakukan siaran. Sudah dua kali ia ditegur atasannya karna tidak menjaga moodnya. Untuk seorang penyiar, mood itu sangat penting. Karna bisa mengontrol emosi-emosi yang lainnya saat siaran.
Tidak lama dari ruangan kerjanya Ismi, Ia sudah menerima beberapa email. Dan matanya terbuka lebar saat melihat email pertama dari gadis yang mengirimkan cerita beberapa hari yang lalu. Senyumnya kembali mengembang. Sepertinya moodnya sudah kembali. Ia dengan sigap memakai headphone, melirik jam dinding, dan menekan beberapa tombol didepannya. OnAir.

            “Selamat siang para pendengar setia semuanya, bagaimana kabar hari ini? Cuaca hari ini seperti biasanya, cerah sekali. Semoga yang sedang bepergian hari ini selamat sampai tujuan, yang rindu keluarga karna kesibukan semoga hari ini bisa bertemu, dan untuk mereka yang sedang menanti akan sesuatu, semoga apa yang dinantikannya datang. Kembali lagi di 99,8FM. Bersama dengan saya Deva Herian, kali ini akan saya bacakan email pertama dari seorang gadis, penasaran dengan ceritanya? Langsung saja akan saya bacakan. Jangan kemana-mana tetap di 99,8FM.”
            Deva melirik Ismi yang mengintip dari balik kaca jendela ruang siaran. memasang dua jempol pada Deva. Senyuman dengan barisan gigi yang putih dan rapih. Siapapun akan menyukainya. Tidak lama ia memulai kembali siarannya. Ia mendekat kearah mic. Siap untuk membacakan email seperti biasa.
            “Hari itu aku bertemu dengannya kembali. Seperti biasa. Dihalte tempatku menunggu bus untuk berangkat menuju sekolah. Entah mengapa hari ini cukup cerah dari biasanya. Kemacetan terjadi dimana-mana. Kebetulan hari itu juga halte tidak terlalu ramai. Para pekerja kantoran lebih memilih menggunakan mobil pribadi. Malas untuk bermacet-macetan, tapi tidak denganku. Hanya ada beberapa orang saja yang menunggu, termasuk dia. Seseorang yang sama. Ia lebih memilih berdiri padahal jelas sekali bangku halte kosong, hanya aku yang duduk disana. Kalau saja ia lebih memilih duduk saat itu, mungkin aku akan mengucapkan terima kasih padanya.
            Raut wajah Deva terlihat kecewa. Kalau saja aku duduk waktu itu mungkin aku bisa dekat dengannya.. desisnya dalam hati. Deva menggelengkan kepalanya, mengembuskan napas. Kembali melanjutkan.
            “Ia seperti biasa mengenakan seragam sekolahnya, saat bus datang aku memilih bangku ketiga dekat jendela. Ia duduk tepat dibelakangku. Diam-diam memerhatikanku, bukan karna percaya diriku, melainkan aku bisa melihat semuanya melalui bayangannya dikaca jendela. aku turun dihalte selanjutnya. Memilih untuk melanjutkan jalan kaki sebentar, ia turun dihalte yang sama. Berjalan tepat dibelakangku. Bahkan aku bisa melihat jelas bayangan tubuhnya. Entah mengapa aku tidak takut sama sekali, hanya saja…
            “Aku merasa nyaman dengan itu…
“Untuk kamu, siapapun namamu, dimanapun kamu sekarang, semoga esok kita bisa bertemu.”

* * *

“Gita, apa kau sudah selesai? Bisa kau ikut sebentar? Ada yang ingin aku jelaskan.” Mbak Dewi memanggilnya. Ia salah satu seniornya di kantor penerbitan. Sekaligus menjadi pembimbing Novelnya selama ini. Bahkan ia juga yang mengatur segala keperluan ataupun kegiatan yang Gita lakukan selama ini.
“Untuk Novelmu yang akan terbit beberapa hari ini, bisa kita bicarakan sekarang?” ia mengangguk, mengiyakan. Setelah beberapa saat ia membereskan meja kerjanya. Ia membawa buku catatan ditangan kanannya. Masuk ke ruangan meeting. Seniornya sudah menunggu disana. Dengan beberapa berkas yang menumpuk diatas meja. Ia lebih memilih duduk didepannya. Kini mereka berdua duduk berhadapan.
“Novelmu akan terbit beberapa hari ini, respon yang kuterima juga cukup mengagumkan. Lebih banyak dari peluncuran Novelmu 2 tahun lalu. Banyak permintaan untuk mengadakan peluncuran buku secara khusus, sebenarnya banyak yang menginginkan mengadakan launching, share book, atau talkshow. Tapi setelah kupikir lagi, aku merasa ini memang layak diadakan setelah 10 tahun debutmu didunia literasi. Dan aku harap kamu mengerti itu, walaupun aku juga tidak bisa memaksakan apa yang tidak kamu ingin lakukan. Jadi kurasa kau bisa memikirkannya lagi untuk beberapa hari ini, lagi pula kudengar kau sudah menyetujui untuk wawancara ekslusif di radio. Apa itu benar?”
Ia masih terdiam disana, belum membuka suara sedikitpun. Sebenarnya ia ingin sekali untuk mengadakan acara-acara seperti itu. Dan ia juga berpikir bahwa Novel yang akan terbit kali ini cukup spesial untuknya, hampir lebih dari 5 tahun ia mempersiapkan semuanya. Bahkan saat peluncuran Novelnya 2 tahun lalu, ia masih berkutat dengan Novelnya yang satu ini. Mungkin pemikiran seniornya ini cukup tepat. Dan ini juga sudah 10 tahun sejak debut pertamanya saat awal SMA. Mungkin ini bisa menjadi kesan yang baik untuk selanjutnya.
Bola matanya tidak bisa diam, berkali-kali ia mengembuskan napas. Rasanya seperti berat sekali untuk berkata sedikit katapun. Kini, ia menatap seniornya.
“Apa menurutmu ini baik-baik saja untuk kedepannya? Aku tidak ingin ada sesuatu yang terjadi kedepannya,” kata-katanya terdengar gemetar. Siapapun yang melihatnya akan mengatakan bahwa kini ia ragu. Seniornya hanya mengangguk. Lebih tepatnya memberikan jawaban pasti.
“Kau tenang saja, aku bahkan sudah mengatur semuanya dengan tim yang lain. Untuk pemesanan PO bertanda tanganmu, aku melebihkan jumlahnya dari 2 tahun yang lalu. Apa kau tidak keberatan?” tanya seniornya hati-hati. Takut-takut salah mengambil tindakan yang kurang tepat. Kini ia langsung mengangguk.
“Mungkin beberapa minggu bahkan bulan-bulan ini kau akan sibuk. Launching dan wawancara lainnya, jadi aku meminta seseorang menemanimu. Aku sudah meminta pada Rafa untuk mencarikan seseorang yang akan nyaman denganmu, dan kau tenang saja. Tidak laki-laki.” Ia mengangguk lagi. Kini ia menuliskan sesuatu disana. Dibuku catatannya yang selalu ia bawa. Setelah beberapa saat keduanya keluar dari ruang meeting. Tidak jauh darinya, Rafa sedang sibuk kesana kemari. Mengatur ini dan itu. Wajar saja ia asisten editor yang baru. Kerjanya cukup bagus. Lebih tepatnya menganggumkan. Walaupun gayanya terlihat seperti wanita.
Ponselnya bergetar. Pesan masuk. Nisa.
Kau dimana?
Dengan santai ia duduk dan membalas pesan dari temannya itu.
Aku dikantor.
Ia lebih memilih sedikit santai, karena beberapa jam lagi ia harus mengedit naskah yang akan diterbitkan. Tidak mudah mengerjakan hal-hal secara bersamaan. Ia sempat berpikir untuk menyerah karena mengalami masa-masa yang sulit diawal debutnya. Tapi sekarang sudah tidak lagi.
Ponselnya kembali bergetar.
Baiklah, sempatkan waktumu sepulang kerja. Aku akan mentraktirmu.
Kini ia tersenyum. Terkadang temannya yang satu ini memang menyebalkan, melakukan hal-hal yang tidak disukai olehnya. Tapi entah mengapa ia selalu tertawa saat bersamanya. Mungkin untuk awal saat kejadian itu, ia bingung harus melakukan apa. atau lebih tepatnya bagaimana caranya. Tapi semakin hari ia tidak memikirkannya. Ia selalu sama. Sampai hari ini.

* * *

Senja kini tertutup. Langit semakin gelap. Jalanan malam ini terlihat ramai. Tidak biasanya. Nisa sudah berdiri disana. Menunggunya dengan setia. Melambai-lambaikan tangannya. Kau tau ini lebih terasa bahagia dari apapun. Jauh lebih hebat dari apapun. Kedua tersenyum sesaat.
“Wah kau senang sekali sepertinya, ada sesuatu yang baik terjadi hari ini? Atau jangan-jangan kau sudah menerima pesan dari penyiar tampan itu?” Nisa menyeringai, lalu mengangguk malu. Benar. Temannya ini akan membayar makan jika sesuatu yang baik telah terjadi.
 “Tapi ada sesuatu yang lebih bahagia dari itu, walaupun kutau mendapatkan pesan dari penyiar itu membuatku tidak bisa bernapas.”
Permainan katanya muncul ke permukaan. Keduanya tidak bisa menahan tawa. “Apa itu?” ia bertanya karena penasaran. Kini keduanya terdiam sesaat.
“Aku mendapatkan tawaran untuk menjadi asisten seorang penulis terkenal, lebih tepatnya aku hanya menemaninya beberapa saat saja. Aku juga meminta ijin pada atasanku untuk cuti beberapa minggu dan yang lebih hebatnya ia tiba-tiba mengijinkan begitu saja. Sepertinya ia sedang tidak beres.” Nisa tertawa.
“Wah itu hebat sekali! Siapa dia? Apa aku boleh minta tanda tangannya? Tentu saja kau yang akan melakukannya untukku?” tanpa sadar ia sudah membuka suara.
“Kau.” Raut wajah yang tadinya tertawa kini berubah 360 derajat. Nisa tertawa. “Penulis yang kumaksud itu kau, Gita.” Ia masih belum mengerti dengan ucapan Nisa.    “Maksudmu itu aku?” ia bahkan bertanya hati-hati, untuk memastikan bahwa temannya ini tidak sedang bercanda.
“Iya penulis terkenal dengan kisah-kisah Novelnya yang romantis dan tentu saja berakhir tragis. Gita Hendrawan. Aku yang akan menjadi asistenmu untuk beberapa saat. Tolong perlakukanku dengan baik.”
Sebenarnya ia tau bahwa Nisa tidak pandai untuk berbicara serius. Tentang apapun. Lihat, sekarang saja wajahnya sudah ingin tertawa. Benar saja kan, dia tidak bisa serius untuk hal apapun.
“Kau tidak bilang padaku!” kini nada bicaranya meninggi. Nisa hanya menyeringai. Memasang pose hati seperti kebiasaannya.
“Ah sudah-sudah aku akan terima itu. Jangan membuat pose hati seperti itu lagi, aku tidak tahan.”
Nisa hanya mengangguk. Setelah beberapa menit waktu yang ia habiskan untuk bercerita pada Gita, kini saatnya untuk menghabiskan mie kesukaannya. Gita yang saat ini duduk tepat di hadapan Nisa terlihat resah. Hanya dirinya yang jelas paham apa yang ia rasakan saat itu. Dengan berani ia langsung membuka pembicaraan. Ia sadar bahwa apa yang ia lakukan saat itu tidak sopan, bukan. Lebih tepatnya tidak patut untuk dilakukan. Menatap temannya dengan wajah yang tak biasa membuat Nisa semakin mengerti akan situasinya.
“Aku tau itu. Jadi tenanglah, jangan berpikir untuk meminta maaf padaku. Aku mengenalmu jauh lebih lama dari yang lain, dan aku juga mengerti mengapa kau melakukan itu. Jadi, untuk saat ini aku ingin kau baik-baik saja. Jangan pikirkan hal apapun yang membuatmu pusing sendiri.”
Raut wajahnya kini berubah. Apa Nisa mengetahui semuanya? Desisnya dalam hati. Baru saja ia membuka setengah mulutnya, Nisa sudah mengambil alih lebih dulu.
“Oh! Aku tau, pasti itu kerjaanmu! Maka dari itu kalau kau butuh bantuanku, minta tolonglah padaku! Jangan melakukannya sendiri! Jangan berpikir untuk melarikan diri sendiri! Jangan pernah sendiri lagi! Kalau ada sesuatu yang ingin kau tau, tanyakanlah! Bodoh!”
Entah mengapa malam itu ia merasa bahwa dirinya telah mengingat sesuatu yang ia hilangkan dalam hidupnya.
“Karena….” Ucapan Nisa terhenti disana, ia tau bahwa temannya kali ini sedang berbicara serius. Sekali lagi ia mengangguk, dan menunggu kelanjutan ucapan temannya.
“Karena memang begitulah seharusnya teman. Jangan memintanya untuk berhenti pada saat menangis, tapi cobalah untuk mengatakan ‘bahwa masalah apapun itu, tenanglah, karna kau masih punya teman’. Jangan mengatakan padanya bahwa semuanya baik-baik saja, melainkan katakan padanya ‘bahwa aku tau semuanya tidak baik, tapi saat itu kau bisa meminjam bahuku untuk bersandar, karena meskipun aku tidak terlihat olehmu tapi aku akan berusaha untuk tetap mengambil jarak dibelakangmu, jika kau mengalami masa yang sulit, tenanglah. Karena kita akan menghadapinya bersama’ ya seperti itu!”
Kini keduanya terdiam sebelum memutuskan untuk tersenyum. Ini benar-benar pertama kalinya ia mendengar sesuatu seperti itu dari temannya. Mungkin dari apa yang ia lihat selama ini, kelihatannya berbeda. Terlihat lebih tidak peduli. Tapi jika seseorang hanya melihat dari penampilannya saja, lalu bagaimana dengan mereka yang berpenampilan baik bahkan jauh lebih baik ,tapi sebenarnya bahkan jauh dari kata sebenarnya, ia memiliki masa-masa yang sulit. Hanya saja penampilannya menipu, karena diluar ia akan terlihat baik-baik saja. Siapa yang tau itu. Soal perasaan hanya orang tersebutlah yang benar-benar merasakannya.
“Untuk itu, jika kau tidak mengerti apa yang temanmu rasakan jangan katakan bahwa kau mengerti. Karena pada waktu yang akan datang jika kau benar-benar merasakannya, maka barulah katakan ‘maaf untuk menunggu sedikit lebih lama, kali ini aku baru mengerti’ sesuatu seperti itu.”
Siapa sangka mereka yang sedang duduk disana tertawa bersama. Bahkan langit pun menanyakan bagaimana bisa keduanya bersama untuk waktu yang lama? Seseorang yang berbeda dari hal apapun itu. Tapi saat bersama keduanya memiliki kesamaan. Kini keduanya tersenyum untuk suatu alasan.
Nisa memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan yang lebih ringan dan menyenangkan. “Aku mendapatkan balasan email dari penyiar itu, wah rasanya seperti aku dipilih untuk menjadi Presiden.” Nisa tertawa.
“Wah sepertinya cerita yang kau kirimkan untukku benar-benar ampuh sekali. Kalau aku boleh tau, kau bercerita tentang apa?” Nisa melanjutkan, yang ditanya masih berurusan dengan pikirannya.
 “Git, Gita?” tanyanya sekali lagi. Membangunkannya dari diam panjangnya. “Oh! Iya apa Nis?” Nisa hanya menganggukkan kepalanya. Seolah ia tidak yakin pikiran temannya berada disini.
“Sepertinya hanya ragamu yang berada disini pikiranmu sedang melayang jauh.” Nisa menunjuk-nunjuk ke arah langit. Ia tau itu hanya alasan untuk membuatnya tersenyum.
“Kau berkata apa?” sekali lagi ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan apa-apa. Saatnya pulang!” Nisa berteriak seolah ditempat itu hanya miliknya seorang.

Tidak bisa digambarkan bahkan diceritakan bagaimana kedua gadis ini bersama. Langit malam selalu menyedihkan untuk keduanya. Bintang diatas sana tetap bersinar, tidak peduli jika ada orang-ong yang bersedih dibawahnya. Dunia memang sungguh menyedih


(Sampai bertemu di part selanjutnya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...