Langsung ke konten utama

Waktu Tanpa Janji (Part 2)

Apa kabar Mei? Semoga segala sesuatunya semakin membaik ...
Apa kabar kamu? Apa kabar impian? Semoga kamu tetap ada disana, menantiku untuk menjemput semua kebahagiaan :)
Masih inget dong sama Deva?? hihi 
Penyiar Radio yang banyak penggemarnya, langsung aja deh. Ini lanjutan dari Part pertama. 
Happy Reading guys :)


Waktu Tanpa Janji
(Duniapun mengetahuinya, kau dan aku)

“Gita!”
            Seorang gadis yang membawa beberapa buku ditangannya, membalikkan tubuhnya. Tersenyum. Melambaikan tangan ke arah suara tadi. “Dari mana saja? Aku baru melihatmu, kau benar-benar sibuk sekali akhir-akhir ini, wah sampai-sampai kau tidak ada waktu untukku,” kata-katanya terdengar seperti seseorang yang sedang merajuk. Gadis itu hanya tersenyum. Membenarkan posisi tasnya. “Aku sedang ada kerjaan, maaf aku belum sempat memberi kabar padamu. Bagaimana kalau mengobrol sebentar di kafe depan? Kebetulan aku sedang tidak sibuk hari ini, hanya ada beberapa hal saja yang harus kuurus.” Gadis itu menjelaskan dengan santai, mengajak temannya.
            “Kau tau? Aku sudah bertemu dengan penyiar tampan itu, Deva. Ya namanya Deva. Aku bertemu dengannya waktu di kafe saat sepulang kerja. Wah dia juga memintaku untuk mengirimkan beberapa cerita untuk dibacakan saat siaran, dengan senang hati aku menerima. Aku juga sempat meminta foto bersama dengannya. Kau…”
            “Tenanglah Nisa, aku punya waktu luang hari ini, kau bisa bercerita semuanya padaku dan aku akan mendengarkan ceritamu itu. Minumlah.” Gadis itu memilih duduk di sudut kursi. Di dekat kaca jendela yang besar. Sesekali melihat sekeliling. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Mungkin terlihat sedang mendengarkan cerita temannya, tapi tatapan matanya mengatakan berbeda. Hampa. Kosong. Gadis itu tidak sedang mendengarkan, melainkan berpikir sesuatu.
            “Kau mau membantuku kan? Buatlah beberapa cerita untukku, aku ingin mengirimkannya. Kau mau? Kau ini kan jago sekali dalam hal tulis menulis. Atau kau saja yang mengirimkannya? Aku akan senang hati memberikan alamat emailnya padamu.” Temannya membuka flap ponsel dan mengetik sesuatu disana. “Tidak perlu, kau saja yang mengirimkannya, aku akan mengirimkan beberapa cerita padamu melalui email.” Dengan cepat gadis itu mengiyakan permintaan temannya. “Kau tau? Kau yang terbaik!” gadis itu hanya tersenyum setelah melihat temannya membuat pose hati didepannya. Keduanya tertawa.
            “Kau bilang sudah bertemu dengan penyiar itu bukan? Apa dia mengenal namamu? Atau jangan katakan padaku kau lupa memperkenalkan dirimu sendiri. Ah, sudahlah bukan urusanku juga.”
            Nisa mendesah, “Ah, benar. Aku lupa. Aku bernar-benar lupa. Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia tidak mengenaliku? Tapi, nanti dia akan mengetahuinya di alamat emailku, aku baru terpikir.” Jika ada orang lain yang berpikir aneh tentang dua gadis yang duduk di kafe itu sebagai orang yang stress, mereka salah besar, ini bukan tentang stress atau apapun melainkan tentang bagaimana bisa tertawa bersama. Menghabiskan waktu bersama temanmu. Dua teman yang secara tidak sengaja saling menemukan kesamaan satu sama lain saat bersama.
* * *
Pukul 15.00
Setelah selesai membacakan cerita, Deva melepaskan headphone dan meninggalkan ruang siaran. Dengan langkah cepat ia menyempatkan bertemu Ismi diruangan rapat. Membuka pintu tanpa basa basi. Semua mata tertuju padanya. Sedangkan dengan santainya ia membungkukkan tubuhnya, memberikan tanda permintaan maaf. Ismi langsung mengerti, dan segera keluar menemui Deva.
            “Ada apa Dev? Kau tidak lihat aku sedang rapat?” wajah Ismi terlihat sedikit kesal.
“Maaf untuk itu, tapi ini jauh lebih penting dari rapat. Kau tau siapa yang mengirimkan cerita yang baru saja kusiarkan?” pertanyaan cepat yang keluar dari mulut Deva membuat Ismi bingung. Ia sempat berpikir sebelum menjawab pertanyaan Deva. “Kau cari saja dimejaku, buka email masuk. Kalau tidak salah, belum kuhapus beberapa emailnya.” Deva langsung pergi tanpa berkata-kata lagi. Ismi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat temannya itu. Kembali masuk ke ruangan rapat. Melanjutkan beberapa pembicaraan yang sempat tertunda.
Dengan gerakan cepat dan lincah, jari-jari Deva membuka komputer yang berada didepannya dan memeriksa beberapa email masuk. Mata dan tangannya fokus ke layar komputer didepannya. “Ketemu!” dengan teliti ia membuka alamat emailnya. “Nisa? Rahmi Annisa? Apakah namanya Rahmi Annisa?” ia terus berdesis dalam hatinya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang mengembang itu. Sesekali ia bertingkah seperti orang strees. Selama 8 tahun terakhir ia baru bisa menemukan nama gadis yang ditemuinya waktu itu. Waktu terasa cepat berlalu jika kau sedang merasa bahagia.
“Aku menemukannya! Aku menemukan namanya!”
Ismi hanya menatap Deva dengan heran. Mendesah dan menggelengkan kepalanya. “Aku akan mentraktirmu makan malam hari ini,” dengan riang Deva berjalan menuju ruang siarannya lagi. Kembali melanjutkan siarannya. Tampak jelas senyum yang mengembang di wajahnya. Belum pernah sebelumnya Ismi melihat Deva seantusias hari ini. Setiap kali senyumnya yang lebar itu mengembang, entah mengapa Ismi merasa nyaman. Ia suka.
* * *
“Ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku? Kulihat kau begitu senang hari ini? Kau menemukannya?”
Ditengah-tengah kesibukan masing-masing, Ismi membuka percakapan ringan. Deva mendongak, menatapnya sesaat lalu membenarkan posisi duduknya. Mengambil beberapa tisu untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel dimulutnya. Ia mengangguk. “Mungkin bagimu ini terdengar begitu aneh, tapi untukku ini lebih dari memenangkan penghargaan di acara televisi.” Ia tertawa lepas, yang diajak ngobrol menatap heran. “Kau tau kan dengan gadis yang selalu aku ceritakan? Yang kutemui saat SMA dulu? Gadis yang tiap saat aku bertemu dengannya saat waktu hujan?” tanyanya pada Ismi. Yang ditanya mengangguk yakin, seolah sudah mengenal jauh lebih lama dari Deva. Deva berdeham, siap untuk bercerita. “Ya gadis itu, aku menyebutnya gadis hujan. Kau tau mengapa aku memanggilnya seperti itu? Karna setiap aku bertemu dengannya, tepat saat hujan turun. Terdengar aneh bukan?” ia kembali tertawa.
“Entah mengapa saat-saat itu terasa menyenangkan untukku. Aku tidak tau apa yang membuatku sesenang itu. Aku tidak berkenalan dengannya, aku tidak tau dia sekolah dimana, tapi aku selalu bertemu dengannya di Halte bus. Mengambil arah yang sama. Aku memilih bangku dibelakang bangku yang ia tempati. Memandanginya melalui kaca jendela, ia selalu mengenakan headsheet. Membawa beberapa buku. Dan ia selalu menatap keluar jendela. Tapi tiap saat hujan turun, aku merasa ada yang aneh. Ada hal yang seolah ingin ia tutupi, yang ingin ia buang jauh-jauh. Lalu ia menutup kaca jendelanya. Memejamkan kedua matanya. Aku tidak tau apa yang dilakukannya, seperti merasa…”
Ismi memasang wajah penasaran, air mukanya berubah. Dengan mata terbuka lebar ia menunggu, perlahan hingga Deva membuka suara kembali. “Ketakutan.” Berhenti disana. Ya, ceritanya berhenti disana. “Selama ini kau tidak mencoba menyapanya? Atau mengajaknya mengobrol?” tanya Ismi penasaran. Deva mengangguk. “Aku pernah memberinya sapu tangan, saat itu baju seragamnya basah kuyup dan rambutnya terlihat acak-acakan. Tapi setelah hari itu, aku tidak menyapanya lagi.” Ismi mengangguk. Lebih memilih menghabiskan mie dihadapannya. Deva masih terdiam. “Apa yang kau pikirkan? Cepat habiskan mie-mu selama belum membengkak.” Ismi tertawa. Deva hanya tersenyum. “Kau tenang saja, jika memang ia cinta sejatimu. Melewati jalan apapun akan tetap bertemu. Menjadi milikmu.” Ismi menambahkan. Deva mengangguk. Baginya Ismi lebih dari seorang teman. Ya, ia menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Karna selama ini, hanya Ismi yang santai meluangkan waktu untuknya, menemaninya, bahkan mendengar semua keluh kesahnya.
Entah mengapa langit malam ini terasa menyakitkan untuknya. Waktu memang cepat berlalu tapi baginya tetap sama seperti 8 tahun yang lalu. Bagaimana selama ini ia bertahan melewati semua hari-harinya, yang penuh tanda tanya, yang penuh pertanyaan. Seperti saat itu, Deva kembali mengingat pertama kali bertemu dengan gadis yang ia sukai. Dihalte, saat hujan turun. Dan saat ini ia sedang mengenang semuanya. Merangkainya sendiri. Lampu-lampu jalan terasa memilukan. Menunggu dengan sabar bus yang datang. jika ia bertemu dengannya lagi, apa yang pertama akan ia katakan?

* * *

Sampai bertemu di part selanjutnya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...