Apa kabar Mei? Semoga segala sesuatunya semakin membaik ...
Apa kabar kamu? Apa kabar impian? Semoga kamu tetap ada disana, menantiku untuk menjemput semua kebahagiaan :)
Masih inget dong sama Deva?? hihi
Penyiar Radio yang banyak penggemarnya, langsung aja deh. Ini lanjutan dari Part pertama.
Happy Reading guys :)
Waktu Tanpa Janji
(Duniapun
mengetahuinya, kau dan aku)
“Gita!”
Seorang gadis yang membawa beberapa
buku ditangannya, membalikkan tubuhnya. Tersenyum. Melambaikan tangan ke arah
suara tadi. “Dari mana saja? Aku baru melihatmu, kau benar-benar sibuk sekali akhir-akhir
ini, wah sampai-sampai kau tidak ada waktu untukku,” kata-katanya terdengar
seperti seseorang yang sedang merajuk. Gadis itu hanya tersenyum. Membenarkan
posisi tasnya. “Aku sedang ada kerjaan, maaf aku belum sempat memberi kabar
padamu. Bagaimana kalau mengobrol sebentar di kafe depan? Kebetulan aku sedang
tidak sibuk hari ini, hanya ada beberapa hal saja yang harus kuurus.” Gadis itu
menjelaskan dengan santai, mengajak temannya.
“Kau tau? Aku sudah bertemu dengan
penyiar tampan itu, Deva. Ya namanya Deva. Aku bertemu dengannya waktu di kafe
saat sepulang kerja. Wah dia juga memintaku untuk mengirimkan beberapa cerita
untuk dibacakan saat siaran, dengan senang hati aku menerima. Aku juga sempat
meminta foto bersama dengannya. Kau…”
“Tenanglah Nisa, aku punya waktu
luang hari ini, kau bisa bercerita semuanya padaku dan aku akan mendengarkan
ceritamu itu. Minumlah.” Gadis itu memilih duduk di sudut kursi. Di dekat kaca
jendela yang besar. Sesekali melihat sekeliling. Entah apa yang sedang
dipikirkan gadis itu. Mungkin terlihat sedang mendengarkan cerita temannya,
tapi tatapan matanya mengatakan berbeda. Hampa. Kosong. Gadis itu tidak sedang
mendengarkan, melainkan berpikir sesuatu.
“Kau mau membantuku kan? Buatlah
beberapa cerita untukku, aku ingin mengirimkannya. Kau mau? Kau ini kan jago
sekali dalam hal tulis menulis. Atau kau saja yang mengirimkannya? Aku akan
senang hati memberikan alamat emailnya padamu.” Temannya membuka flap ponsel
dan mengetik sesuatu disana. “Tidak perlu, kau saja yang mengirimkannya, aku
akan mengirimkan beberapa cerita padamu melalui email.” Dengan cepat gadis itu
mengiyakan permintaan temannya. “Kau tau? Kau yang terbaik!” gadis itu hanya
tersenyum setelah melihat temannya membuat pose hati didepannya. Keduanya
tertawa.
“Kau bilang sudah bertemu dengan
penyiar itu bukan? Apa dia mengenal namamu? Atau jangan katakan padaku kau lupa
memperkenalkan dirimu sendiri. Ah, sudahlah bukan urusanku juga.”
Nisa mendesah, “Ah, benar. Aku lupa.
Aku bernar-benar lupa. Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia tidak mengenaliku?
Tapi, nanti dia akan mengetahuinya di alamat emailku, aku baru terpikir.” Jika
ada orang lain yang berpikir aneh tentang dua gadis yang duduk di kafe itu
sebagai orang yang stress, mereka salah besar, ini bukan tentang stress atau
apapun melainkan tentang bagaimana bisa tertawa bersama. Menghabiskan waktu
bersama temanmu. Dua teman yang secara tidak sengaja saling menemukan kesamaan
satu sama lain saat bersama.
* * *
Pukul
15.00
Setelah selesai
membacakan cerita, Deva melepaskan headphone dan meninggalkan ruang siaran. Dengan
langkah cepat ia menyempatkan bertemu Ismi diruangan rapat. Membuka pintu tanpa
basa basi. Semua mata tertuju padanya. Sedangkan dengan santainya ia membungkukkan
tubuhnya, memberikan tanda permintaan maaf. Ismi langsung mengerti, dan segera
keluar menemui Deva.
“Ada
apa Dev? Kau tidak lihat aku sedang rapat?” wajah Ismi terlihat sedikit kesal.
“Maaf
untuk itu, tapi ini jauh lebih penting dari rapat. Kau tau siapa yang
mengirimkan cerita yang baru saja kusiarkan?” pertanyaan cepat yang keluar dari
mulut Deva membuat Ismi bingung. Ia sempat berpikir sebelum menjawab pertanyaan
Deva. “Kau cari saja dimejaku, buka email masuk. Kalau tidak salah, belum
kuhapus beberapa emailnya.” Deva langsung pergi tanpa berkata-kata lagi. Ismi
hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat temannya itu. Kembali masuk ke
ruangan rapat. Melanjutkan beberapa pembicaraan yang sempat tertunda.
Dengan
gerakan cepat dan lincah, jari-jari Deva membuka komputer yang berada
didepannya dan memeriksa beberapa email masuk. Mata dan tangannya fokus ke
layar komputer didepannya. “Ketemu!” dengan teliti ia membuka alamat emailnya.
“Nisa? Rahmi Annisa? Apakah namanya Rahmi Annisa?” ia terus berdesis dalam
hatinya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang mengembang itu. Sesekali
ia bertingkah seperti orang strees. Selama 8 tahun terakhir ia baru bisa
menemukan nama gadis yang ditemuinya waktu itu. Waktu terasa cepat berlalu jika
kau sedang merasa bahagia.
“Aku
menemukannya! Aku menemukan namanya!”
Ismi
hanya menatap Deva dengan heran. Mendesah dan menggelengkan kepalanya. “Aku
akan mentraktirmu makan malam hari ini,” dengan riang Deva berjalan menuju
ruang siarannya lagi. Kembali melanjutkan siarannya. Tampak jelas senyum yang
mengembang di wajahnya. Belum pernah sebelumnya Ismi melihat Deva seantusias
hari ini. Setiap kali senyumnya yang lebar itu mengembang, entah mengapa Ismi
merasa nyaman. Ia suka.
* * *
“Ada sesuatu
yang ingin kau ceritakan padaku? Kulihat kau begitu senang hari ini? Kau
menemukannya?”
Ditengah-tengah
kesibukan masing-masing, Ismi membuka percakapan ringan. Deva mendongak,
menatapnya sesaat lalu membenarkan posisi duduknya. Mengambil beberapa tisu
untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel dimulutnya. Ia mengangguk.
“Mungkin bagimu ini terdengar begitu aneh, tapi untukku ini lebih dari
memenangkan penghargaan di acara televisi.” Ia tertawa lepas, yang diajak
ngobrol menatap heran. “Kau tau kan dengan gadis yang selalu aku ceritakan?
Yang kutemui saat SMA dulu? Gadis yang tiap saat aku bertemu dengannya saat
waktu hujan?” tanyanya pada Ismi. Yang ditanya mengangguk yakin, seolah sudah
mengenal jauh lebih lama dari Deva. Deva berdeham, siap untuk bercerita. “Ya gadis
itu, aku menyebutnya gadis hujan. Kau tau mengapa aku memanggilnya seperti itu?
Karna setiap aku bertemu dengannya, tepat saat hujan turun. Terdengar aneh
bukan?” ia kembali tertawa.
“Entah mengapa
saat-saat itu terasa menyenangkan untukku. Aku tidak tau apa yang membuatku
sesenang itu. Aku tidak berkenalan dengannya, aku tidak tau dia sekolah dimana,
tapi aku selalu bertemu dengannya di Halte bus. Mengambil arah yang sama. Aku
memilih bangku dibelakang bangku yang ia tempati. Memandanginya melalui kaca
jendela, ia selalu mengenakan headsheet. Membawa beberapa buku. Dan ia selalu
menatap keluar jendela. Tapi tiap saat hujan turun, aku merasa ada yang aneh. Ada
hal yang seolah ingin ia tutupi, yang ingin ia buang jauh-jauh. Lalu ia menutup
kaca jendelanya. Memejamkan kedua matanya. Aku tidak tau apa yang dilakukannya,
seperti merasa…”
Ismi memasang
wajah penasaran, air mukanya berubah. Dengan mata terbuka lebar ia menunggu,
perlahan hingga Deva membuka suara kembali. “Ketakutan.” Berhenti disana. Ya,
ceritanya berhenti disana. “Selama ini kau tidak mencoba menyapanya? Atau
mengajaknya mengobrol?” tanya Ismi penasaran. Deva mengangguk. “Aku pernah
memberinya sapu tangan, saat itu baju seragamnya basah kuyup dan rambutnya
terlihat acak-acakan. Tapi setelah hari itu, aku tidak menyapanya lagi.” Ismi
mengangguk. Lebih memilih menghabiskan mie dihadapannya. Deva masih terdiam.
“Apa yang kau pikirkan? Cepat habiskan mie-mu selama belum membengkak.” Ismi
tertawa. Deva hanya tersenyum. “Kau tenang saja, jika memang ia cinta sejatimu.
Melewati jalan apapun akan tetap bertemu. Menjadi milikmu.” Ismi menambahkan.
Deva mengangguk. Baginya Ismi lebih dari seorang teman. Ya, ia menganggapnya
sebagai adiknya sendiri. Karna selama ini, hanya Ismi yang santai meluangkan
waktu untuknya, menemaninya, bahkan mendengar semua keluh kesahnya.
Entah mengapa
langit malam ini terasa menyakitkan untuknya. Waktu memang cepat berlalu tapi
baginya tetap sama seperti 8 tahun yang lalu. Bagaimana selama ini ia bertahan
melewati semua hari-harinya, yang penuh tanda tanya, yang penuh pertanyaan.
Seperti saat itu, Deva kembali mengingat pertama kali bertemu dengan gadis yang
ia sukai. Dihalte, saat hujan turun. Dan saat ini ia sedang mengenang semuanya.
Merangkainya sendiri. Lampu-lampu jalan terasa memilukan. Menunggu dengan sabar
bus yang datang. jika ia bertemu dengannya lagi, apa yang pertama akan ia
katakan?
* * *
Sampai bertemu di part selanjutnya :)

Komentar
Posting Komentar