Langsung ke konten utama

Waktu Tanpa Janji ( Part 1 )

Sudah bulan April aja nih hehe apa kabar readers? Wah udah cukup lama juga yah nggak posting, tapi tenang, hari ini saya akan posting :D
Siapa yang tidak terpesona dengan suara penyiar yang satu ini? Siapa yang tidak mengenalnya? Wah kalau belum kenal, sok atuh kenalan dulu dengan Deva Herian. Atau siapa yang suka menulis beberapa catatan? Membaca Novel? atau apapun itu? Juga kenalan dengan penulis terkenal dulu nih, Langsung aja deh ya, silahkan dibaca sampai akhir, jangan diloncat-loncat yah hehe

Waktu Tanpa Janji
(Duniapun mengetahuinya, kau dan aku)

Kamu, selalu jadi tempat dimana aku ingin pulang..
Lelah karena sesuatu, ditengah hiruk pikuknya malam yang panjang..
Kamu, selalu jadi tempat dimana aku ingin selalu bersamamu..
Ditengah gemparnya dunia yang tidak menginginkan kehadiranku..
Bagai ombak menerjang karang, bagai angin menerpa wajah hingga kusam..
Apakah kau percaya bahwa takdir lebih penting dari waktu?
Jika aku tau waktu itu, waktu tanpa janji yang telah diketahui..
Setelah waktu telah lama berlalu, meskipun keabadian menghilang..
Takdir..
Hingga kau bertemu kembali..
Ia masih tetap milikmu seorang..

Apa kau percaya bahwa takdir lebih penting dari waktu? Sebelum aku pergi, ada cahaya gemerlap dihatinya. Musim semi, musim gugur, musim panas, dan musim dingin aku melewati musim-musim itu selama satu dekade dalam kegelapan. Aku masih bisa melihat tatapan miliknya dengan jelas didepan mataku. Pasti ada jalan untukku bisa bertemu dengan cahaya gemerlap itu lagi. Hidup sehari-hari seperti ini tergantung atas keuletan garis hidupku. Datanglah untuk mengetahuinya. Hanya jika aku menyerah pada mataku lebih cepat, hanya jika aku tau waktu itu, waktu tanpa janji yang telah diketahui. Setelah waktu telah lama berlalu, meskipun keabadian menghilang. Takdir.. Hingga kau bertemu kembali. Ia masih tetap milikmu seorang
“Dev, kamu keren sekali hari ini.”
Suara gadis disampingnya terdengar akrab dan ramah, wajar saja selama ini ia yang selalu menemaninya kemana-mana. Deva menyebutnya partner. Mulai dari partner kerja, traveling, bahkan ke acara formal maupun nonformal. Hidup dengan kesendirian memang tidak mudah. Untuk seseorang seperti Deva yang mempunyai segudang kesibukan. Memilih meninggalkan keluargaya demi mengejar impiannya sebagai penyiar radio. Baginya memilih pekerjaan sebagai penyiar adalah hal yang ia suka. Ia menyadari tidak sepintar teman-teman lainnya yang lebih memilih kuliah dengan jurusan teknik, bisnis, manajemen atau segudang ilmu kedokteran yang menurutnya itu tidak penting dan masuk akal. Dengan modal nekat ia menamatkan gelar sarjana ilmu komunikasi dikampusnya dengan nilai yang menurutnya tidak parah-parah amat. Dan kalau ada yang menanyakan tentang pekerjaannya, ia akan menjawab “This is my life, who you care?” ah, ini tidak seperti yang orang duga. Dengan wajah yang super tampan.
“Selamat siang para pendengar setia semuanya, bagaimana kabar hari ini? Kembali lagi di 99,8FM. Bersama dengan saya Deva Herian, kali ini kita akan siarkan, siaran yang paling ditunggu-tunggu semua pendengar sekalian. Email pertama yang akan saya bacakan kali ini adalah email dari seorang diluar sana yang bernama…”
Mulut yang super bawel itu terdengar lebih bersahabat jika sedang siaran. Siapa yang tidak kenal Deva? Deva si penyiar tampan yang dijumpai banyak fans di tempat kerjanya. Tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makan siang karena akan ada fansnya yang akan memberinya. Memang benar jika mempunyai tampang oke akan lebih menikmati hidup. Menurutnya seperti itu, tapi tidak dengan orang lain.
* * *
“Haje, apa kau pulang lebih awal?”
Gadis dengan mata bulat dan alis tebal, membalikkan tubuhnya, mencari asal suara yang didengarnya. Senyumnya mengembang saat melihat wajah yang ia kenal. “Iya seperti itulah. Hari ini aku sedang ada acara untuk persiapan Novelku. Ada apa?” perlahan, langkah kaki itu semakin dekat. Hingga jarak diantaranya semakin rapat. Kini, mata bertemu mata. Dunia yang tidak ingin ia masuki. Dunia dimana akan bercerita seutuhnya. Bukan hanya sesaat tetapi selamanya. “Ada apa? ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?” tanyanya kembali. Membuyarkan lamunan keduanya. Kini tanpa berkata-kata keduanya tertawa. Entah apa yang ditertawakannya. Sesuatu yang lucukah? Entahlah, hanya mereka yang mengetahuinya.
Seniornya yang satu ini membawanya ke kafe untuk bersantai sebentar.
“Kau ingin aku wawancara di radio?” tanyanya. Wajah Haje berubah, entah itu ekspresi macam apa. Jika kau melihatnya langsung kedalam mata bulatnya itu kau akan mengerti. Senang? Tidak ingin? Atau apa? hanya dirinya yang jelas mengerti. Haje menimang-nimang permintaan Seniornya itu. “Ayolah, kau hanya perlu untuk wawancara setengah jam saja, setelah itu aku akan pastikan kau langsung pulang. Atau bagaimana kalau aku yang akan mentraktirmu makan malamnya? Setuju?”
Seniornya yang satu ini memang dekat dengan Haje. Sekaligus sudah dianggapnya sebagai kakak. Permintaan yang satu ini sungguh membuat Haje pusing. “Aku akan memikirkannya,” jawabnya. “Hubungi aku jika kau ingin melakukannya, aku sungguh berharap padamu kali ini. Banyak penggemarmu yang mengirimkan email, meminta wawancara ekslusif. Bantulah aku kali ini, Haje aku menyayangimu.”
Memang benar, jika ada maunya seniornya itu bertingkah kekanak-kanakan, mengatakan kata-kata yang membuat telinganya geli setengah mati saat mendengarnya. Membuat pose hati dengan kedua tangannya. Benar-benar memalukan sekali. Ah senyumnya yang paling membuatnya gila.
* * *
“Kau tidak keluar untuk makan?”
Suara gadis yang dikenalnya. Untuk 3 tahun terakhir selama ia bekerja di kantor siaran, dialah yang dengan suka rela menemaninya kemana pun. Tanpa menolak. Deva tersenyum. Melepaskan headphone dari telingannya. Menekan tombol off. “Haruskah kita pergi keluar? Kudengar cuaca hari ini cukup cerah. Kau ingin makan apa?” tanyanya. Deva sudah hapal dengan kebiasaan Ismi. Ia penggemar fanatik mie. Entah mie apapun itu. Yang membuat Deva heran dengan berat badannya yang tidak gemuk. Cukup ideal untuk seorang gadis seumurannya. “Haruskah? Baiklah, ditempat biasa.” Keduanya tertawa.
            “Tempat ini memang yang terbaik. Rasanya tidak berubah sedikitpun.” Deva berkomentar dengan mulut penuh mie. Ismi hanya tertawa. Sudah biasa dengan komentar yang sama setiap kali makan ditempat itu. “Ah iya Dev, sudah bertemu dengan seseorang yang akan kita wawancarai untuk minggu depan?” tanya Ismi dengan tiba-tiba. Deva mengambil gelas airnya. Meneguk dalam sekali tegukkan. “Aku belum mendengar tentang itu, minggu depan bagian siapa yang akan siaran? Ah benar, Fahmi minta tukar denganku untuk siaran minggu depan.”
            Kini perutnya sudah terisi penuh. Semangatnya kembali lagi. Sekarang ia hanya butuh asupan lain untuk mengisi ulang pikirannya. Untuk seseorang yang menunggu cinta pertamanya yang belum jelas. Namanya saja tidak tau, bagaimana bisa ia menyebut bahwa seseorang diluar sana adalah cinta pertamanya? Sungguh tidak masuk akal. Bagaimana seseorang bisa mengatakan bahwa seseorang diluar sana adalah orang yang disukainya padahal jelas sekali bahwa itu hanya cinta sepihak, perasaan suka sepihak. Untuk bisa menyukai seseorang itu wajar-wajar saja. Menunggu cintanya datang juga sah-sah saja. Yang tidak wajar itu menyukai seseorang yang bahkan namanya saja tidak tau, menunggu seseorang yang bahkan tidak datang bisa disebut cinta pertama? Tapi begitulah yang Deva pikirkan tiap saat. Mendengarkan lagu-lagu manis hanya untuk mengingat wajah yang ia akui sebagai cinta pertamanya.
            “Kau sudah selesai bukan? Sudah jam 1. Waktunya kembali siaran.” ucap Ismi mengajak temannya itu. Deva mengangguk, beranjak dari tempatnya ia duduk. Jarak dari tempat biasa ia makan siang dengan kantor siarannya hanya membutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki. Keduanya berjalan santai. “Kau ingin kopi? Aku benar-benar membutuhkan ini untuk menghilangkan rasa kantuk. Aku akan pesan dua. Tunggulah sebentar. Dan jangan kemana-mana.”
            Ismi lebih memilih duduk di kursi depan, tidak masuk kedalam. Kafe kopi disekitar kantornya memang banyak, tapi tempat yang satu ini memang nyaman. Dengan dinding kaca tebal yang membatasi. Hingga lagu-lagu manis yang diputar.
            “Ismi! Sedang apa kau? Menunggu seseorang?”
Ismi langsung menyapa seniornya itu. Satu tingkat diatas Ismi. “Ah, perkenalkan ini Haje, penulis terkenal yang akan kita wawancarai untuk minggu depan. Sebenarnya namanya bukan Haje…”
            “Tidak apa, panggil saja Haje, aku lebih suka dipanggil Haje.” Haje langsung berkomentar. Memperkenalkan diri. Berjabat tangan dan sedikit berbincang dengan Ismi. “Wah benarkah? Kurasa kau memang hebat. Hampir setiap hari email kantor penuh, meminta kau untuk diwawancarai. Aku juga salah satu penggemar beratmu, aku mengikuti semua Novel dari yang pertama berjudul…” belum selesai pembicaraan Ismi, seniornya sudah mengajak Haje untuk pulang.
* * *
“Kau berbincang dengan siapa?” tanya Deva sambil memberikan kopi untuk Ismi. “Ah, kau ini lama sekali! Sudah telat 5 menit! Cepat!” belum sempat Ismi menjawab pertanyaan Deva, ia sudah menggerutu, menunjuk-nunjuk jam tangan yang melingkar di lengannya. “Baiklah baiklah.”
Deva kembali keruangan siaran. memutar beberapa lagu sambil memeriksa email masuk yang akan ia bacakan. Email pertama dari seorang gadis. Dengan santai ia langsung memulai. “Selamat siang para pendengar setia semuanya, bagaimana kabar siang ini? Kembali lagi di 99,8FM. Bersama dengan saya Deva Herian, kali ini akan saya bacakan email pertama dari seorang gadis yang namanya tidak dicantumkan, penasaran dengan ceritanya? Langsung saja akan saya bacakan. Jangan kemana-mana tetap di 99,8FM.” Cara berbicara Deva yang santai dan lembut, membuat pendengar terkesima. Hanya dengan mendengar suaranya saja sudah langsung bisa menebak bahwa itu Deva Herian.
Waktu tanpa janji.”
Deva baru saja membacakan judulnya dan membuat dirinya sendiri merinding setengah mati. Ada apa dengannya kali ini? Begitu aneh. Tapi ia tetap melanjutkan dengan santai.
“Hari itu entah mengapa langit lebih menyakitkan dari biasanya. Hujan deras yang membuat semuanya terlihat basah. Aku berjalan, perlahan, dengan pasti, menunggu bus datang tepat pada waktunya. dan saat itu, jalanan terasa sangat sepi, hanya ada beberapa mobil yang melewati jalan itu. Untuk dia yang saat ini berada dimanapun, semoga mendengar dan aku ingin mengucapan terimakasih untuk beberapa hal.
Deva tertegun, entah mengapa untuk pertama kalinya ia membacakan email saat siaran rasanya menyakitkan sekaligus penasaran. Berhenti disitu untuk beberapa saat, ia menarik napas lalu melanjutkan kembali.
“Hari itu, saat bus tak kunjung datang, saat hujan tak kunjung henti, ia datang. walaupun aku tidak tau dia seperti apa, baik atau jahatkah? Untuk apa ia duduk di halte? Menunggu bus-kah? Atau hanya menunggu hujan berhenti? Untuk pertama kalinya aku merasa tenang, ada seseorang menemaniku. Ketakutanku akan hujan. Semua hal yang kusuka selain hujan. Ia memberikan sapu tangan yang sampai sekarang masih kusimpan. Mungkin ia melihatku dengan tatapan aneh, melihat baju seragamku yang basah kuyup, melihat rambutku yang tidak karuan. Untuk itu, aku berterima kasih. Untuk itu, aku bersyukur. Untuk itu, kali pertama aku merasakan ada seseorang yang merasakan keberadaanku, ditengah gemparnya dunia yang tidak menginginkan kehadiranku. Untuk itu, aku berterima kasih. Untuk kamu yang pertama kali merasakan kehadiranku, semoga esok kita bisa bertemu.
Berhenti disana. Tidak ada lanjutan ceritanya. Deva tertegun. Lebih lama dari yang pertama. Penasaran. Ya, ia penasaran akan kelanjutan ceritanya. Tapi sungguh disayangkan, ceritanya berhenti disana. Tergantung. Tidak ada kepastian. Ini kali pertama ia merasa penasaran dengan email yang dikirimkan ke situs penyiarnnya untuk dibacakan.

* * *

(Duniapun mengetahuinya, kau dan aku)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...