Alhamdulillah masih dikasih kesempatan buat ngepost lg hehe
Apa kabar teman semuanya? Semoga selalu sehat. Amiin. Ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Saat kalian penasaran akan seseorang yang terus terlihat dimata kalian. Seseorang yang bahkan kalian tidak pernah mengenalnya. Tapi ada sesuatu yang salah dengan hati kalian. Rasa penasaran. Inilah yg terjadi dengan Fira dalam ceritanya, ketika ia penasaran akan seseorang yg terus ia lihat selama ini,. Tanpa ada pendekatan apapun. Hingga setelahnya?? Wah ternyata ia sudah saling memerhatikan sejak lama ...
Langsung aja deh happy reading guys :)
Apa kabar teman semuanya? Semoga selalu sehat. Amiin. Ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Saat kalian penasaran akan seseorang yang terus terlihat dimata kalian. Seseorang yang bahkan kalian tidak pernah mengenalnya. Tapi ada sesuatu yang salah dengan hati kalian. Rasa penasaran. Inilah yg terjadi dengan Fira dalam ceritanya, ketika ia penasaran akan seseorang yg terus ia lihat selama ini,. Tanpa ada pendekatan apapun. Hingga setelahnya?? Wah ternyata ia sudah saling memerhatikan sejak lama ...
Langsung aja deh happy reading guys :)
When
will you come?
(Kenyataannya
kita saling memerhatikan)
Sejenak melupakan akan kisah masa
lalu. Sejenak menenangkan pikiran dari hal-hal yang membosankan. Sejenak ia
selalu menghabiskan waktu senjanya disana. Sendiri. Apa yang ia lihat disana?
Apa yang ia harapkan? Apa yang ia nanti? Entahlah. Remaja dengan rambut hitam
yang pendek dengan poni yang menutupi dahi. Mata yang sayu seakan sedang
dirundung kesedihan yang mendalam. Kemeja hitam dengan jaket yang menutupi bajunya. Selalu begitu. Hingga seorang
wanita menghampiri dan menjemputnya jika waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
“Siapa dia? Kau mengenalnya?” tanya
Erin penasaran. Berusaha melirik wajah cowok itu dan teman di sebelahnya
bergantian. “Jadi dia yang membuatmu setiap sore datang kemari? Hanya karena dia?
Bah! Kau lihat baik-baik sudah jelas ia seperti orang gila yang hanya menatapi
air laut dari atas jembatan. Otakmu sudah gila atau…”
“Ssssttt… diamlah sebentar. Tunggu
disini dan jangan kemana-mana. Dan awas dengan kameramu yang berisik itu.” Fira
menunjuk-nunjuk jarinya kearah wajah temannya itu. Tatapannya seakan ingin
membunuh. “Baiklah-baiklah. Sana pergi! Dasar keras kepala!” timpal Erin dengan
cepat.
Suara hentakan pintu mobil membuat cowok
itu sedikit melirik, seakan mencari sumber suara. Jaraknya hanya dua meter dari
tempat ia berdiri. Berdiri memunggungi sinar matahari. Hingga pantulannya
memancar ke air. Erin terus menertawai dari dalam mobil karena Fira ragu-ragu
untuk menghampirinya. Hingga mata Erin beradu dengan dia. Cowok yang
diolok-oloknya tadi. Astaga ia tidak bisa meletakkan jari-jarinya dengan benar.
Bahkan ia tidak sanggup membidik gambar cowok tersebut.
“Gila! Ini tidak benar! Sungguh tidak
benar! Bagaimana mungkin ia setampan itu..” mulut Erin masih menganga, terbuka
dan bingung harus bagaimana. Lihat temannya berhasil menghampiri cowok itu.
Kini Erin hanya duduk di dalam mobil memegangi kameranya. Seolah dunianya
berhenti sampai disitu.
* * *
“Sedang apa?
Menunggu seseorang?” tidak ada jawaban apapun dari cowok itu. Tatapannya masih
tetap mengarah kearah air. “Namaku Fira. Aku sudah beberapa kali melihatmu
berdiri di jembatan ini. Apa orang yang kau nanti tidak datang? Ah, aku lupa.
Namamu siapa?” tanganya masih melebar berharap akan dapat respon dari cowok
itu. Ia menoleh. Menatap lamat-lamat sebelum akhirnya menerima jabatan tangan
Fira. ”Bram. Bramantyo.” Hanya itu yang ia ucapkan. Tanpa embel-embel apapun.
Sesaat terdengar deru mesin mobil berhenti. Pintu mobil terbuka. Terlihat
seorang wanita dengan kemeja biru lengkap dengan sepatu hak tingginya. Ia
tersenyum ke arah Fira.
“Bram, ayo
pulang sudah malam. Nanti kamu kedinginan kalau disini terus. Besok kita kesini
lagi yah?” suara wanita tersebut terdengar lebih halus dari pada penampilannya.
Ia menurut. Masuk kedalam mobil dan duduk tenang. “Sebentar! Tunggu sebentar!
Ada yang ingin aku tanyakan. Wanita itu menoleh setelah menutup pintu mobilnya.
Berbalik dan menghampiri Fira yang masih berdiri.
“Ada apa?” ucap
wanita tersebut dengan santai. “Apa dia sakit? Atau dia punya penyakit semacam
gangguan mental dan lainnya?” tanyanya lagi kali ini lebih hati-hati. Karena ia
sadar pertanyaan bodoh ini adalah salah. Bagaimana mungkin ia menanyakan
sesuatu kepada seseorang yang bahkan ia tidak mengenalnya. Wanita itu hanya
mengangguk pelan. Fira mengerti bahwa anggukannya sudah menjelaskan cowok tadi
sakit. Dia sakit. Dan kini Fira sangat ingin mengetahui.
“Dia trauma,
dulu saat wisuda dia memberikan tumpangan pada salah seorang adik kelasnya.
Kebetulan dia dapat undangan untuk datang saat itu. Saat itu terjadi hal yang
tidak ia bayangkan seumur hidupnya. Rok adik kelasnya masuk kedalam lingkaran
motor hingga adik kelasnya terjatuh. Dia tidak sadar akan apapun yang terjadi
dengan adik kelasnya. Ia hanya mengatakan bahwa saat itu ia sempat menanyakan
ban motornya terasa berat dan sepertinya butuh angin. Jalanan saat itu lengang.
Saat di lampu merah ada seorang mobil meneriakinya bahwa temannya sudah jatuh
dari 5 meter yang lalu. Kepalanya berada di bawah sedangkan kakinya masih
berada di motor. Betapa paniknya saat itu ia menangis sekeras-kerasnya melihat
adik kelasnya bermandi darah. Hingga seorang mobil lewat memberikan tumpangan
untuk di bawa kerumah sakit. Saat itu adik kelasnya masih sadar dan sempat
berbicara bahkan masih bisa bercanda. Tetapi saat itu juga ia butuh operasi.
Dokter mengatakan bahwa otaknya hancur.”
Wanita itu masih
terus melanjutkan ceritanya walaupun ia tidak kuasa menahan tangis. “Hingga
tubuhnya harus dibedah satu persatu. Otak dikirimkan ke jantung. Dan harus
menyobek bagian pahanya agar bisa dilekatkan ke otak. Sementara punggungnya
harus dibedah. Saat itu ia histeris bukan main dan bahkan ia mengatakan pada
kedua orangtua adik kelasnya jika nanti ia sadar Bram ingin menikahinya. Ia
akan menanggung segala sesuatu yang terjadi dengan adik kelasnya. Bahkan Bram
sampai bersujud di depan orang tua adik kelasnya itu. Ia menemani adik kelasnya
tiap waktu. Tidak pernah pulang kerumah semenjak kejadian itu. Menunggu dengan
sabar. Berharap keajaiban akan terjadi. Dan benar saja ia sadar dan Bram senang
bukan main saat melihatnya. Tapi waktu itu tidak berjalan lama 10 menit dari
kesadarannya ternyata tuhan berkata lain. Adik kelasnya menjerit kesakitan dan
mungkin itu efek dari operasi yang dijalaninya. Dokter mengatakan bahwa otaknya sudah tidak berfungsi lagi. Dan
kalaupun bisa normal ia akan lumpuh seumur hidupnya. Sejak saat itulah Bram
sering menyendiri. Bahkan ia lupa siapa tunangannya. Yang ia pikirkan hanya
Hana. Adik kelasnya yang meninggal karenanya. Itu yang selalu ia katakan. Orang
tua Hana tidak mempersalahkan Bram dan bagaimanapun itu hanya kecelakaan. Sudah
takdirnya. Tapi berbeda dengan Bram yang terus mengatakan bahwa itu
kesalahannya.”
Fira masih
menunggu kelanjutan cerita wanita itu. Bahkan ia juga menangis saat
mendengarnya. Angin malam mulai terasa. Lampu-lampu dijembatan sudah menyala
sejak sejam yang lalu. Warna yang indah untuk siapapun yang melintasi jembatan
ini.
“Pernikahan itu
gagal dan aku harus menerima kenyataan bahwa Bram positif gangguan mental.
Hanya satu yang bisa menyembuhkannya. Dirinya sendiri dan kemauan kerasnya
untuk sembuh.”
Mata Fira
seketika melebar saat mengetahui wanita yang kini berdiri dihadapannya adalah
tunangannya Bram. Ia sudah bisa menebaknya, setiap kali pukul 7 ia selalu
menjemput Bram untuk pulang. Mungkin itulah alasannya mengapa. “Jadi…” belum
sempat Fira melanjutkan ucapannya wanita itu sudah melanjutkan kembali. “Ya
benar aku tunangannya Bram.” Fira hanya mengangguk pelan. Berharap telinganya
salah mendengar. Berharap matanya tidak melihat wanita itu. Selama ini ia sudah
mulai menyukai Pria yang selalu berdiri diatas jembatan itu. Kini ia salah.
* * *
Fira masih ingin
melihat pria itu. Dan Erin masih dengan setia menemaninya. Mobil melaju dengan
kecepatan sedang hingga berhenti ditempat biasa. “Kau yakin ingin menemuinya?
Ini sudah setahun kau tidak datang. ku kira kau tidak akan datang lagi
untuknya. Dan bukankah kau sudah tau bahwa ia sudah tunangan jadi untuk apa...”
Brukk.. pintu mobil
tertutup ia sudah berjalan menghampiri Bram. Bram sudah mengetahui keberadaan Fira
disana. Ia menoleh. “Setahun ini kau kemana?” astaga ia menyapaku. Apa benar ia menyapaku? “Oh? Itu ada sedikit
urusan di kampus jadi tidak bisa datang kemari. Aku sudah mendengar semuanya.”
Seketika mata sayunya terlihat menenangkan bagi siapapun yang melihatnya. “Terdengar
menyedihkan bukan?” Fira mengangguk lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Dari mana kau dapatkan nomor ponselku? Aku membacanya setiap hari.” Ia
tersenyum walaupun tidak lama.
“Dari
tunanganmu.” Jawab Fira ragu. “Dia bukan lagi tunanganku dia akan menjadi
kakak-ku.” Ia sedikit berpikir. “Dan aku menjalani rehabilitasku selama setahun
terakhir, karena kupikir kau benar-benar tidak akan datang menemuiku.” Jelasnya
menunjukkan pesan yang kukirimkan untuknya. Memalukan.
Fira menyeringai melirik ke arah temannya yang di mobil memberikan kode
oke. Erin hanya tersenyum dari dalam mobil. “Aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?” ucapnya.
“Untuk apa setiap hari kau datang kesini? Berdiri dan hanya melihat air dari
atas jembatan?” tanyaknya hati-hati. “Menunggumu.” Matanya berubah menjadi
besar saat mendengar jawaban Bram. “Apa?” tanyanya ulang berusaha meyakinkan
dirinya sendiri. “Me-nung-gu-mu.” Ejanya dengan pelan.
“Untuk apa?”
Fira menyeringai. “Bukankah kau yang dulu seperti ini? Gadis berambut panjang
dengan rok bunga yang setiap sore datang kemari. Berdiri di atas jembatan.
Melemparkan batu ke air. Dan tersenyum tiap kali lampu jembatan dinyalakan.”
Jelasnya sambil tersenyum. Kali ini ia membenarkan posisinya. Menghadap Fira. Apa benar? Tanyanya dalam hati. Ia
berusaha mengingat. “Astaga kau tidak mengingatnya? Bahkan aku saja ingat betul
kau sering kemari. Aku melihatmu disini. Seperti ini.” Bram mencontohkan apa
yang kulakukan dulu. 10 tahun yang lalu saat usiaku 19 tahun. Memang betul aku
sering kemari. Tapi apakah ia tidak melihat Erin sama sekali? Bahkan Erin juga
sering kemari bersamaku sesekali.
“Aku ingat dan
aku mengingatnya.” Jawab Fira yang menatap air lamat-lamat.
“Bukankah kita
sudah saling memerhatikan untuk waktu yang lama?” tanyanya. Menunggu jawaban
dariku. “Sepertinya.” Hening sejenak sibuk dengan pikira masing-masing. “Jadi
apakah kau menungguku selamanya?” tanya Bram sedikit menggoda. “Jadi apakah kau
akan memerhatikanku tanpa menyapaku?” tanyaku kembali. “Jadi maukah kau terus
bersamaku? Menemaniku? Sampai kapanpun?” Wajah Bram terlihat sedikit menegang.
Menanti jawaban apa yang akan Fira berikan
untuknya. “Jadi maukah kau terus menemaniku pergi kesini setiap waktu? Melihat
air dari atas jembatan? Kalau kau bersedia menemaniku maka aku akan bersedia
menemanimu sampai kapanpun.”
Tanpa berpikir
panjang Bram langsung mengangguk semangat.
“Fira aku
menyukaimu!” Bram berteriak keras seakan jembatan ini hanya dilalui olehnya
saja. Fira tertawa. Dan saat itulah orang yang ingin kutemui adalah Erin. Ia
masih dengan setia menungguku dari sana. Menantiku. Seperti rumah yang kapanpun
pulang ia selalu terbuka.
Seperti itulah
kisah kami. tidak ada yang mengetahui bahwa ada seseorang yang menantimu,
menunggumu dengan setianya, berharap kau akan datang, berharap kau akan
kembali, kau akan pulang, dan kini ia telah menemukan rumahnya. Rumah yang ia
rindukan. Rumah yang selalu ia nantikan kapanpun ia merasa lelah dan butuh
manjaan. Dan kini rumah itu kembali terang dan dia telah menerangkannya
_Bramantyo

Komentar
Posting Komentar