Langsung ke konten utama

Listen 2

Alhamdulillah masih dikasih kesempatan buat ngepost lg hehe
Apa kabar temen-temen semuanya?? Semoga selalu diberi kesehatan. Amiin...
Wah pasti pada sibuk nih :D Buat yang lg pada kerja tetep semangat kerjanya yang lg nunggu akhir bulan atau yg lg nunggu awal bulan buat nerima uang gajian semangat ya :D
Buat kamu yang lg sekolah. Bete karna pelajarannya yang susah atau gurunya yg gak kamu suka, sabar aja ya tetep dijalanin semoga dapet berkah walaupun gak mudeng apa yg dijelasin gurunya wkwk
Buat yg lg ngampus. Dateng ke kampus cuma buat setor muka doang atau sebatas dapet uang jajan. Wah wah wah jangan begitu ya semoga dapet hidayah biar cepet lulus hahaha
Langsung aja deh gak usah banyak omong *kyak gue --" #plakkk
Ini lanjutan cerita dari listen part 1 yg waktu itu udah di post. Semoga suka dan jangan lupa buat ninggalin jejak yang berkesan :)
Happy reading guys ...



Listen
(Karena cinta akan tetap terdengar meski tidak di katakan)
            Suara tepuk tangan membuat ruangan drama ramai. Beberapa teman yang bersiulan. Belum lagi yang sedang menabuh-nabuh botol hasil buatan sendiri. Sementara guru hanya menatap kasihan. Memasang wajah muram karena suara yang mengganggu pembicaraannya. Akhirnya Adzra bisa menghela napas panjang setelah apa yang di takutinya selama seminggu terakhir. Membuatnya tidak nyaman untuk tidur. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan di lakukan oleh kedua temannya itu. Sungguh menyebalkan.
            “Wah kau hebat sekali! Penampilan aktingmu tadi membuat semua yang melihat tercengang begitu saja!” celoteh Mia dari belakang. Memasang wajah bahagia. Seolah-olah pujian dari guru itu untuknya. “Alfa tampan sekali! Benar kan?” ia menepuk-nepuk pipinya dengan kedua tangan. Apa yang baru saja ia katakan? Apa telinganya tidak salah dengar? Reaksi yang diberikan teman-temannya membuat Adzra tercengang. Tidak percaya.
            “Wah tadi ku kira Alfa tidak akan hadir ternyata ia membuat seisi ruangan terkagum-kagum melihatnya! Aku suka sekali!”
            “Prakas juga tidak kalah tampan dengan Alfa. Tapi kali ini harus kuakui Adzra bisa membuat Alfa dan Prakas tunduk padanya. Hebat bukan?”
            Adzra ingin membuka mulut membantah semua reaksi yang di berikan teman-temannya, tetapi tidak jadi. Memilih mengganti pakaian. Sungguh hari ini membuatku gila! Gerutunya dalam hati. Berusaha melepas kostum yang menurutnya sungguh panas dan menggelikan itu. Ia memandang kaca besar di hadapannya. Kembali mengingat reaksi yang di dengarnya tadi. Wah tadi ku kira Alfa tidak akan hadir ternyata ia membuat seisi ruangan terkagum-kagum melihatnya! Aku suka sekali! Adzra menggeleng-gelengkan kepalanya. Kembali menatap kaca. Prakas juga tidak kalah tampan dengan Alfa. Tapi kali ini harus kuakui Adzra bisa membuat Alfa dan Prakas tunduk padanya. Hebat bukan?
* * *
            Di mana dia?
            Alfa melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan drama. Mencari sosok Adzra tanpa hasil. Setengah jam yang lalu ia masih melihat temannya itu sedang berbincang dengan beberapa temannya. Kemudian ia melihat Adzra menghampiri teman-teman yang lainnya. Ia membiarkan Adzra mengobrol dengan teman-temannya sementara ia masih berdiri dengan salah satu temannya. Hanya beberapa detik ia memalingkan wajah dan melihat sosok Adzra sudah tidak ada.
            Tetapi di mana dia sekarang? Terkutuklah dirinya! Sungguh ini benar-benar aneh. Belum pernah ia menjadi orang yang cemas memikirkan orang lain. Tapi hari ini ia mencemaskan Adzra? Untuk apa? Apa alasannya? Jangan tanya. Karena ia pun tidak tau. Ia memutuskan untuk keluar ruangan. Melepas kostum yang dikenakannya. Dan saat yang bersamaaan juga ia menangkap sosok Adzra keluar dari kamar ganti lalu tidak lama Prakas menghampirinya. Entah kenapa ia merasa tubuhnya panas seperti terbakar. Matanya menatap tajam sosok kedua temannya itu. Sebentar, apa yang baru saja ia katakan? Teman? Tidak! Ia membantah pikirannya sendiri. Baginya Adzra hanya orang yang membantunya mendapatkan nilai di ujian drama. Hanya itu. Sementara Prakas? Sejak kapan ia mengatakan bahwa Prakas adalah temannya. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah mau menganggapnya teman.
            Dengan cepat ia membawa kostum yang di kenakannya tadi. Lalu membuang ke tempat sampah di sampingnya. Apa yang membuatnya kesal? Adzra tersenyum pada Prakas? Sejak kapan ia bisa mengobrol seperti itu. Seolah sudah berteman sejak lama. Aduh! Dasar bangku sialan! Desisnya sambil meringis memegangi kakinya. Alfa menyipitkan matanya menatap Adzra dan Prakas bergantian. Sebelum ia berbalik dan memutuskan untuk pergi Adzra memanggilnya. Ia otomatis menoleh ke arah Adzra.
            “Apa!” tanya Alfa ketus. Masih memegangi kakinya yang tertabrak bangku tadi. Sebenarnya bukan tertabrak tapi ia sendiri yang menabrakan kakinya ke bangku.
            Adzra menatap tidak mengerti. Matanya masih memerhatikan tangan Alfa yang memegangi kaki. “Apa yang kau lihat!” kali ini Alfa benar-benar meninggikan suaranya. Menyipitkan mata menatap Adzra. “Mana kostumnya?” tanya Adzra dengan wajah yang berubah. Tadinya ia mau bersikap baik pada temannya itu tapi karena reaksi pertama yang di dapatnya membuatnya takut akhirnya ia memutuskan untuk meninggikan suaranya kembali. Alfa menunjuk salah satu tempat sampah di dekatnya. “Ambil! Sebelum aku kembali menendang kakimu.”
            Alfa terkekeh mendengar ucapan temannya itu. Apa? ia harus mengambil dari tempat sampah? Seumur-umur ia belum pernah mengaduk-aduk tempat sampah seperti itu. Dan baginya itu hal yang bodoh dan menjijikan. “Kau memintaku untuk mengambil? Baiklah kau saja yang mengambilnya!” Alfa berbalik meninggalkan Adzra sendiri. Sejak kapan ia bisa diperintahkan ini itu sama orang lain. Dengan kesal Adzra mengambil kostum yang dibuang Alfa tadi lalu melemparkan pada wajah Alfa. “Hei! Kau tidak tau sopan santun! Apa ibumu tidak pernah mengajarimu etika! Bersihkan!” Alfa berteriak keras membuat semua orang yang sedang sibuk terhenti sejenak. Menatap lamat-lamat. Adzra memutuskan untuk pergi begitu saja.
            “Benar-benar gila dia! Berani sekali melemparkan pakaian kotor ini padaku! Lihat saja aku akan buat perhitungan dan membuatnya tunduk akan aturanku.”
            Alfa kembali melemparkan kostum dramanya ke tempat sampah. Masuk ke ruang kelas.
* * *
“Kau sudah selesai? Lama sekali. Prakas mencarimu.”
Apa yang di katakan Mia? Prakas mencariku? Untuk apa dan ada apa? ia tidak mau memikirkan hal yang bukan urusannya. Walaupun harus ia akui sikap Prakas seminggu terakhir ini memang sedikit membaik. Ia juga tidak bersikap cuek lagi pada siapapun. Lagi pula Adzra menyukai sikapnya yang baik. Prakas juga tidak sungkan untuk menawarkan tumpangan untuknya. Sebenarnya ia khawatir jika sikap Prakas yang berubah baik seperti itu. Membuatnya takut.
            “Kau mendengarkanku tidak? Prakas menunggumu.” Mia mengulangi ucapannya sekali lagi. “Ya? Apa?” hanya itu kata balasan yang keluar dari mulut Adzra. Ia masih memandangi wajah temannya. “Astaga, kau ini kenapa? Membuatku kesal saja.” Ia hanya mengangkat bahu tidak peduli. Matanya beralih ke Prakas yang dari tadi berdiri di sampingnya.
            Prakas mengangkat sebelah alis. “Ada apa?”
            Ia tersenyum kecil. “Tidak ada apa-apa. Kau mencariku?”
            Apa lagi yang bisa ia lakukan selain menanyakan pertanyaan bodoh seperti barusan yang ia tanyakan pada Prakas. Selama ini ia hanya memikirkan hal-hal yang seharusnya ia pikirkan. Seperti masa depannya dan semua hal yang membuatnya penasaran, kecuali cinta.
            “Mau makan siang denganku?” pinta Prakas. Masih menunggu jawaban Adzra. Ia menyadari Alfa menatapnya dengan tatapan curiga. Kenapa dia menatapnya dengan seperti itu? Seolah-olah tidak percaya kalau Prakas sudah jauh lebih baik darinya. “Mia kau juga mau makan bersama kami?” tanya Prakas pendek.
            Adzra dan Mia masih terlihat ragu, lalu akhirnya menjawab. “Boleh.”
            “Alfa masih menatapmu,” bisik Mia pelan.
            Adzra melirik sedikit ke arahnya. Benar apa yang di katakan Mia. Alfa menatapnya dengan tatapan curiga dan aneh.
            “Kau mau pesan apa?” tanya Prakas.
            “Terserah kau saja.” Adzra hanya menjawab singkat. Matanya terhenti di salah satu kursi kantin. Alfa. Orang yang menyebalkan yang pernah di kenalnya dan sejarah baru baginya karena ia pernah sekelompok dengan orang itu.
            “Aku tidak pesan makan. Minum saja.” Mia menimpali. Lalu ia mencodongkan tubuh ke depan saat Prakas sudah pergi. “Kurasa dia mengikutimu. Lihat sekarang dia ada di kursi belakangmu. Aku tidak menyangka sepertinya dia menyukaimu.”
            Mata Adzra melebar, “Benarkah? Dia benar-benar aneh.”
            Mia terkekeh pelan. “Tapi aku tetap menyukainya. Kalau kau tidak menyukainya. Kau boleh memberinya padaku.” Katanya. “Tapi, yang kutau dia itu terkenal,”
            Adzra mengangguk-angguk pelan, “Benarkah? Terkenal apanya? Jago basketnya atau kebodohannya? Atau mungkin sikapnya yang kekanak-kanakan?”
            Tepat pada saat Adzra menghentikan ucapannya. Prakas sudah kembali membawa makan dan minum. Meletakan ke atas meja.
            “Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Prakas.
            Mia meraih segelas minuman yang di pesannya tadi. Sementara Adzra masih tertegun menatap minumannya. Tanpa sadar sedari tadi ia sedang menahan napas. Ia hanya menyesap minumannya sekali. “Ah! Bukankah itu Alfa!”
            Mia menunjuk Alfa yang sedang duduk dari arah yang berlawanan. Berpura-pura baru menyadari kehadiran Alfa. “Alfa! Bergabunglah bersama kami.” Mata Prakas langsung berubah menjadi mengerikan. Menatap tajam Adzra yang saat ini di depannya. “Bagaimana menurutmu?”
            Adzra tersentak dan mengerjap. “Apa? tidak. Aku tidak keberatan.”
            Mata Prakas menyipit, “Tidak perlu mengajaknya lagi pula bukankah ia lebih suka menyendiri? Bukankah begitu Alfa?”
            Sepertinya ia menyadari kalau sedang di bicarakan oleh teman-temannya. Ia menoleh lalu tersenyum sinis. “Wah kebetulan sekali. Aku juga sendiri dan ada baiknya jika aku bergabung bersama kalian. Bukankah menyenangkan? Benarkan Adzra?”
            Oh, dia benar-benar.. Adzra menggigit bibir dan berusaha menahan diri tidak bersikap kesal padanya. Alfa berdiri membawa makan serta minumannya. Memilih duduk di samping Adzra. “Aku harus pergi.”
            Prakas melotot ke arah Alfa.
            Sebenarnya ia kurang nyaman jika harus makan bersama dengan kedua temannya itu. Sungguh membuatnya tidak nyaman. Ia mendesah dalam hati. Aneh sekali. Bagaimana bisa Alfa membuatnya bodoh jika berada di dekatnya.
            “Kau ada latihan basket hari ini?” tanyanya pada Prakas yang masih tertegun. Hanya anggukan yang di terimanya. Beberapa langkah setelah Prakas pergi, “Apakah kau ingin aku datang lagi untuk melihatmu bermain?”
            Mata Mia melotot memerhatikan temannya itu. Baru kali ini ia mendengar Adzra menawarkan diri untuk Prakas. Gila. Ya, Mia gila bila berada di dekat ketiga temannya itu.
            “Boleh jika kau ingin.” Sahutnya.
            Adzra tersenyum malu. Bodoh bodoh bodoh! Kali ini ia mendumel kesal karna ucapannya yang akan  terdengar aneh. Belum lagi tatapan tajam Mia yang mengarah tepat didepannya. Ia hanya bisa memasang wajah bodohnya. Menyunggingkan barisan giginya yang rapi. Mia sudah siap memukul kepala Adzra.
            “Aish! Benar-benar..”
            Ia tidak melanjutkan ucapannya. Hanya senyuman yang terpancar di wajah Adzra saat itu. Tiba-tiba saja sorotan mata dari Alfa membuatnya tercengang. Ia dan Alfa saling bertatap beberapa menit sebelum Mia menggebrak meja yang membuat keduanya kaget.
            “Hei! Kau gila? Membuat jantungku kaget!” Alfa membentak Mia dengan tatapan matanya yang tajam itu. Mengerikan. Mengerikan bukan main. “Kau gila? Berani sekali membentaknya begitu? Kau tidak punya sopan santun apa kau tidak pernah diajari orang tuamu?” balas  Adzra membentak Alfa. Kali ini ia tidak membalas ucapan Adzra. Memilih untuk meninggalkan Adzra dan Mia.
            “Kau tidak apa-apa?”
            “Hmm. Tidak apa-apa. Aish! Dia benar-benar membuatku gila! Apa kau tahan selama ini satu kelompok dengannya? Hah. Kalau aku jadi dirimu aku akan lebih memilih tidak mendapatkan nilai dari pada harus satu kelompok dengan orang seperti itu.”
            Mia terus berceloteh tentang Alfa. Temannya yang satu itu juga membuat Adzra bingung setengah mati. Bagaimana mungkin hari ini ia mengatakan bahwa ia menyukai Alfa. Besoknya ia teriak-teriak seperti orang gila karena membencinya. Hari berikutnya tetep angkuh mengatakan bahwa masih menyukainya. Kehidupannya bagaikan drama-drama di sinetron.
            Satu hal yang terpikir olehnya kini. Setiap kali ia menyebut kata orang tua. Perubahan wajah Alfa seperti melemah. Bagaikan tidak punya kekuatan sama sekali. Ada apa dengannya? Adzra mengeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha membuang pikiran aneh seperti itu. Saat ini keduanya telah melupakan kejadian sepuluh menit yang lalu. Memilih santai sambil mendengarkan lagu. Terlihat raut wajah keduanya yang tampak bahagia. Hingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi. Hingga cerita dimulai saat ini. Saat semuanya berubah menjadi abu-abu. Tidak jelas. Tidak mengerti. Bagaimana bisa ia jatuh cinta untuk yang pertama?? Siapakah dia?? Siapa yang berhasil membuat kehidupannya berantakan seperti ini?? Dan kini ia jatuh cinta …



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...