Alhamdulillah masih dikasih kesempatan buat ngepost lg hehe
Apa kabar temen-temen semuanya?? Semoga selalu diberi kesehatan. Amiin...
Wah pasti pada sibuk nih :D Buat yang lg pada kerja tetep semangat kerjanya yang lg nunggu akhir bulan atau yg lg nunggu awal bulan buat nerima uang gajian semangat ya :D
Buat kamu yang lg sekolah. Bete karna pelajarannya yang susah atau gurunya yg gak kamu suka, sabar aja ya tetep dijalanin semoga dapet berkah walaupun gak mudeng apa yg dijelasin gurunya wkwk
Buat yg lg ngampus. Dateng ke kampus cuma buat setor muka doang atau sebatas dapet uang jajan. Wah wah wah jangan begitu ya semoga dapet hidayah biar cepet lulus hahaha
Langsung aja deh gak usah banyak omong *kyak gue --" #plakkk
Ini lanjutan cerita dari listen part 1 yg waktu itu udah di post. Semoga suka dan jangan lupa buat ninggalin jejak yang berkesan :)
Happy reading guys ...
Apa kabar temen-temen semuanya?? Semoga selalu diberi kesehatan. Amiin...
Wah pasti pada sibuk nih :D Buat yang lg pada kerja tetep semangat kerjanya yang lg nunggu akhir bulan atau yg lg nunggu awal bulan buat nerima uang gajian semangat ya :D
Buat kamu yang lg sekolah. Bete karna pelajarannya yang susah atau gurunya yg gak kamu suka, sabar aja ya tetep dijalanin semoga dapet berkah walaupun gak mudeng apa yg dijelasin gurunya wkwk
Buat yg lg ngampus. Dateng ke kampus cuma buat setor muka doang atau sebatas dapet uang jajan. Wah wah wah jangan begitu ya semoga dapet hidayah biar cepet lulus hahaha
Langsung aja deh gak usah banyak omong *kyak gue --" #plakkk
Ini lanjutan cerita dari listen part 1 yg waktu itu udah di post. Semoga suka dan jangan lupa buat ninggalin jejak yang berkesan :)
Happy reading guys ...
Listen
(Karena
cinta akan tetap terdengar meski tidak di katakan)
Suara tepuk tangan membuat ruangan
drama ramai. Beberapa teman yang bersiulan. Belum lagi yang sedang
menabuh-nabuh botol hasil buatan sendiri. Sementara guru hanya menatap kasihan.
Memasang wajah muram karena suara yang mengganggu pembicaraannya. Akhirnya
Adzra bisa menghela napas panjang setelah apa yang di takutinya selama seminggu
terakhir. Membuatnya tidak nyaman untuk tidur. Memikirkan
kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan di lakukan oleh kedua temannya itu.
Sungguh menyebalkan.
“Wah kau hebat sekali! Penampilan
aktingmu tadi membuat semua yang melihat tercengang begitu saja!” celoteh Mia
dari belakang. Memasang wajah bahagia. Seolah-olah pujian dari guru itu
untuknya. “Alfa tampan sekali! Benar kan?” ia menepuk-nepuk pipinya dengan
kedua tangan. Apa yang baru saja ia katakan? Apa telinganya tidak salah dengar?
Reaksi yang diberikan teman-temannya membuat Adzra tercengang. Tidak percaya.
“Wah tadi ku kira Alfa tidak akan
hadir ternyata ia membuat seisi ruangan terkagum-kagum melihatnya! Aku suka
sekali!”
“Prakas juga tidak kalah tampan
dengan Alfa. Tapi kali ini harus kuakui Adzra bisa membuat Alfa dan Prakas
tunduk padanya. Hebat bukan?”
Adzra ingin membuka mulut membantah
semua reaksi yang di berikan teman-temannya, tetapi tidak jadi. Memilih
mengganti pakaian. Sungguh hari ini
membuatku gila! Gerutunya dalam hati. Berusaha melepas kostum yang
menurutnya sungguh panas dan menggelikan itu. Ia memandang kaca besar di
hadapannya. Kembali mengingat reaksi yang di dengarnya tadi. Wah tadi ku kira Alfa tidak akan hadir
ternyata ia membuat seisi ruangan terkagum-kagum melihatnya! Aku suka sekali! Adzra
menggeleng-gelengkan kepalanya. Kembali menatap kaca. Prakas juga tidak kalah tampan dengan Alfa. Tapi kali ini harus kuakui
Adzra bisa membuat Alfa dan Prakas tunduk padanya. Hebat bukan?
* * *
Di mana dia?
Alfa melemparkan pandangan ke
sekeliling ruangan drama. Mencari sosok Adzra tanpa hasil. Setengah jam yang
lalu ia masih melihat temannya itu sedang berbincang dengan beberapa temannya.
Kemudian ia melihat Adzra menghampiri teman-teman yang lainnya. Ia membiarkan
Adzra mengobrol dengan teman-temannya sementara ia masih berdiri dengan salah
satu temannya. Hanya beberapa detik ia memalingkan wajah dan melihat sosok
Adzra sudah tidak ada.
Tetapi di mana dia sekarang?
Terkutuklah dirinya! Sungguh ini benar-benar aneh. Belum pernah ia menjadi
orang yang cemas memikirkan orang lain. Tapi hari ini ia mencemaskan Adzra?
Untuk apa? Apa alasannya? Jangan tanya. Karena ia pun tidak tau. Ia memutuskan
untuk keluar ruangan. Melepas kostum yang dikenakannya. Dan saat yang
bersamaaan juga ia menangkap sosok Adzra keluar dari kamar ganti lalu tidak
lama Prakas menghampirinya. Entah kenapa ia merasa tubuhnya panas seperti
terbakar. Matanya menatap tajam sosok kedua temannya itu. Sebentar, apa yang
baru saja ia katakan? Teman? Tidak! Ia membantah pikirannya sendiri. Baginya
Adzra hanya orang yang membantunya mendapatkan nilai di ujian drama. Hanya itu.
Sementara Prakas? Sejak kapan ia mengatakan bahwa Prakas adalah temannya.
Sampai kapan pun ia tidak akan pernah mau menganggapnya teman.
Dengan cepat ia membawa kostum yang
di kenakannya tadi. Lalu membuang ke tempat sampah di sampingnya. Apa yang
membuatnya kesal? Adzra tersenyum pada Prakas? Sejak kapan ia bisa mengobrol
seperti itu. Seolah sudah berteman sejak lama. Aduh! Dasar bangku sialan! Desisnya sambil meringis memegangi
kakinya. Alfa menyipitkan matanya menatap Adzra dan Prakas bergantian. Sebelum
ia berbalik dan memutuskan untuk pergi Adzra memanggilnya. Ia otomatis menoleh
ke arah Adzra.
“Apa!” tanya Alfa ketus. Masih
memegangi kakinya yang tertabrak bangku tadi. Sebenarnya bukan tertabrak tapi
ia sendiri yang menabrakan kakinya ke bangku.
Adzra menatap tidak mengerti.
Matanya masih memerhatikan tangan Alfa yang memegangi kaki. “Apa yang kau
lihat!” kali ini Alfa benar-benar meninggikan suaranya. Menyipitkan mata
menatap Adzra. “Mana kostumnya?” tanya Adzra dengan wajah yang berubah. Tadinya
ia mau bersikap baik pada temannya itu tapi karena reaksi pertama yang di
dapatnya membuatnya takut akhirnya ia memutuskan untuk meninggikan suaranya
kembali. Alfa menunjuk salah satu tempat sampah di dekatnya. “Ambil! Sebelum
aku kembali menendang kakimu.”
Alfa terkekeh mendengar ucapan
temannya itu. Apa? ia harus mengambil dari tempat sampah? Seumur-umur ia belum
pernah mengaduk-aduk tempat sampah seperti itu. Dan baginya itu hal yang bodoh
dan menjijikan. “Kau memintaku untuk mengambil? Baiklah kau saja yang
mengambilnya!” Alfa berbalik meninggalkan Adzra sendiri. Sejak kapan ia bisa
diperintahkan ini itu sama orang lain. Dengan kesal Adzra mengambil kostum yang
dibuang Alfa tadi lalu melemparkan pada wajah Alfa. “Hei! Kau tidak tau sopan
santun! Apa ibumu tidak pernah mengajarimu etika! Bersihkan!” Alfa berteriak
keras membuat semua orang yang sedang sibuk terhenti sejenak. Menatap
lamat-lamat. Adzra memutuskan untuk pergi begitu saja.
“Benar-benar gila dia! Berani sekali
melemparkan pakaian kotor ini padaku! Lihat saja aku akan buat perhitungan dan
membuatnya tunduk akan aturanku.”
Alfa kembali melemparkan kostum
dramanya ke tempat sampah. Masuk ke ruang kelas.
*
* *
“Kau sudah
selesai? Lama sekali. Prakas mencarimu.”
Apa yang di katakan Mia? Prakas mencariku? Untuk apa dan ada apa?
ia tidak mau memikirkan hal yang bukan urusannya. Walaupun harus ia akui sikap
Prakas seminggu terakhir ini memang sedikit membaik. Ia juga tidak bersikap
cuek lagi pada siapapun. Lagi pula Adzra menyukai sikapnya yang baik. Prakas
juga tidak sungkan untuk menawarkan tumpangan untuknya. Sebenarnya ia khawatir
jika sikap Prakas yang berubah baik seperti itu. Membuatnya takut.
“Kau
mendengarkanku tidak? Prakas menunggumu.” Mia mengulangi ucapannya sekali lagi.
“Ya? Apa?” hanya itu kata balasan yang keluar dari mulut Adzra. Ia masih
memandangi wajah temannya. “Astaga, kau ini kenapa? Membuatku kesal saja.” Ia
hanya mengangkat bahu tidak peduli. Matanya beralih ke Prakas yang dari tadi
berdiri di sampingnya.
Prakas mengangkat
sebelah alis. “Ada apa?”
Ia tersenyum
kecil. “Tidak ada apa-apa. Kau mencariku?”
Apa lagi yang
bisa ia lakukan selain menanyakan pertanyaan bodoh seperti barusan yang ia
tanyakan pada Prakas. Selama ini ia hanya memikirkan hal-hal yang seharusnya ia
pikirkan. Seperti masa depannya dan semua hal yang membuatnya penasaran,
kecuali cinta.
“Mau makan siang
denganku?” pinta Prakas. Masih menunggu jawaban Adzra. Ia menyadari Alfa
menatapnya dengan tatapan curiga. Kenapa dia menatapnya dengan seperti itu?
Seolah-olah tidak percaya kalau Prakas sudah jauh lebih baik darinya. “Mia kau
juga mau makan bersama kami?” tanya Prakas pendek.
Adzra dan Mia
masih terlihat ragu, lalu akhirnya menjawab. “Boleh.”
“Alfa masih
menatapmu,” bisik Mia pelan.
Adzra melirik
sedikit ke arahnya. Benar apa yang di katakan Mia. Alfa menatapnya dengan
tatapan curiga dan aneh.
“Kau mau pesan
apa?” tanya Prakas.
“Terserah kau
saja.” Adzra hanya menjawab singkat. Matanya terhenti di salah satu kursi
kantin. Alfa. Orang yang menyebalkan yang pernah di kenalnya dan sejarah baru
baginya karena ia pernah sekelompok dengan orang itu.
“Aku tidak pesan
makan. Minum saja.” Mia menimpali. Lalu ia mencodongkan tubuh ke depan saat
Prakas sudah pergi. “Kurasa dia mengikutimu. Lihat sekarang dia ada di kursi
belakangmu. Aku tidak menyangka sepertinya dia menyukaimu.”
Mata Adzra
melebar, “Benarkah? Dia benar-benar aneh.”
Mia terkekeh
pelan. “Tapi aku tetap menyukainya. Kalau kau tidak menyukainya. Kau boleh
memberinya padaku.” Katanya. “Tapi, yang kutau dia itu terkenal,”
Adzra
mengangguk-angguk pelan, “Benarkah? Terkenal apanya? Jago basketnya atau
kebodohannya? Atau mungkin sikapnya yang kekanak-kanakan?”
Tepat pada saat
Adzra menghentikan ucapannya. Prakas sudah kembali membawa makan dan minum.
Meletakan ke atas meja.
“Apa yang sedang
kalian bicarakan?” tanya Prakas.
Mia meraih
segelas minuman yang di pesannya tadi. Sementara Adzra masih tertegun menatap
minumannya. Tanpa sadar sedari tadi ia sedang menahan napas. Ia hanya menyesap
minumannya sekali. “Ah! Bukankah itu Alfa!”
Mia menunjuk Alfa
yang sedang duduk dari arah yang berlawanan. Berpura-pura baru menyadari
kehadiran Alfa. “Alfa! Bergabunglah bersama kami.” Mata Prakas langsung berubah
menjadi mengerikan. Menatap tajam Adzra yang saat ini di depannya. “Bagaimana
menurutmu?”
Adzra tersentak
dan mengerjap. “Apa? tidak. Aku tidak keberatan.”
Mata Prakas
menyipit, “Tidak perlu mengajaknya lagi pula bukankah ia lebih suka menyendiri?
Bukankah begitu Alfa?”
Sepertinya ia
menyadari kalau sedang di bicarakan oleh teman-temannya. Ia menoleh lalu
tersenyum sinis. “Wah kebetulan sekali. Aku juga sendiri dan ada baiknya jika
aku bergabung bersama kalian. Bukankah menyenangkan? Benarkan Adzra?”
Oh, dia benar-benar.. Adzra menggigit
bibir dan berusaha menahan diri tidak bersikap kesal padanya. Alfa berdiri
membawa makan serta minumannya. Memilih duduk di samping Adzra. “Aku harus
pergi.”
Prakas melotot ke
arah Alfa.
Sebenarnya ia
kurang nyaman jika harus makan bersama dengan kedua temannya itu. Sungguh
membuatnya tidak nyaman. Ia mendesah dalam hati. Aneh sekali. Bagaimana bisa
Alfa membuatnya bodoh jika berada di dekatnya.
“Kau ada latihan
basket hari ini?” tanyanya pada Prakas yang masih tertegun. Hanya anggukan yang
di terimanya. Beberapa langkah setelah Prakas pergi, “Apakah kau ingin aku
datang lagi untuk melihatmu bermain?”
Mata Mia melotot
memerhatikan temannya itu. Baru kali ini ia mendengar Adzra menawarkan diri
untuk Prakas. Gila. Ya, Mia gila bila berada di dekat ketiga temannya itu.
“Boleh jika kau
ingin.” Sahutnya.
Adzra tersenyum
malu. Bodoh bodoh bodoh! Kali ini ia
mendumel kesal karna ucapannya yang akan
terdengar aneh. Belum lagi tatapan tajam Mia yang mengarah tepat
didepannya. Ia hanya bisa memasang wajah bodohnya. Menyunggingkan barisan
giginya yang rapi. Mia sudah siap memukul kepala Adzra.
“Aish!
Benar-benar..”
Ia tidak
melanjutkan ucapannya. Hanya senyuman yang terpancar di wajah Adzra saat itu.
Tiba-tiba saja sorotan mata dari Alfa membuatnya tercengang. Ia dan Alfa saling
bertatap beberapa menit sebelum Mia menggebrak meja yang membuat keduanya
kaget.
“Hei! Kau gila?
Membuat jantungku kaget!” Alfa membentak Mia dengan tatapan matanya yang tajam
itu. Mengerikan. Mengerikan bukan main. “Kau gila? Berani sekali membentaknya
begitu? Kau tidak punya sopan santun apa kau tidak pernah diajari orang tuamu?”
balas Adzra membentak Alfa. Kali ini ia
tidak membalas ucapan Adzra. Memilih untuk meninggalkan Adzra dan Mia.
“Kau tidak
apa-apa?”
“Hmm. Tidak
apa-apa. Aish! Dia benar-benar membuatku gila! Apa kau tahan selama ini satu
kelompok dengannya? Hah. Kalau aku jadi dirimu aku akan lebih memilih tidak
mendapatkan nilai dari pada harus satu kelompok dengan orang seperti itu.”
Mia terus
berceloteh tentang Alfa. Temannya yang satu itu juga membuat Adzra bingung
setengah mati. Bagaimana mungkin hari ini ia mengatakan bahwa ia menyukai Alfa.
Besoknya ia teriak-teriak seperti orang gila karena membencinya. Hari
berikutnya tetep angkuh mengatakan bahwa masih menyukainya. Kehidupannya
bagaikan drama-drama di sinetron.
Satu hal yang
terpikir olehnya kini. Setiap kali ia menyebut kata orang tua. Perubahan wajah
Alfa seperti melemah. Bagaikan tidak punya kekuatan sama sekali. Ada apa
dengannya? Adzra mengeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha membuang pikiran aneh
seperti itu. Saat ini keduanya telah melupakan kejadian sepuluh menit yang
lalu. Memilih santai sambil mendengarkan lagu. Terlihat raut wajah keduanya
yang tampak bahagia. Hingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang
memperhatikannya sedari tadi. Hingga cerita dimulai saat ini. Saat semuanya
berubah menjadi abu-abu. Tidak jelas. Tidak mengerti. Bagaimana bisa ia jatuh
cinta untuk yang pertama?? Siapakah dia?? Siapa yang berhasil membuat
kehidupannya berantakan seperti ini?? Dan kini ia jatuh cinta …

Komentar
Posting Komentar