Langsung ke konten utama

Listen 1

Alhamdulillah udah lama banget nggak posting. Ada yg kangen sama cerita-ceritanya? Haha pasti nggak ada lah :D
Apa kabar teman semuanya? Semoga Allah selalu memberikan kesehatan lahir dan batin untuk semuanya. Nggak banyak ngomong lagi, langsung aja kali ini saya mau posting cerita tentang ... ya pasti semuanya udah pada tau dong :D
Secara mungkin udah banyak banget yg berpengalaman tentang cinta. Udah langsung aja dibaca, awas jangan senyum-senyum sendiri bacanya ckck 
Happy reading guys and thank you for reading this story :) 
 
Listen
(Karena cinta akan tetap terdengar meski tidak di katakan)
            Adzra mendengus pelan. Memijit-mijit pelipisnya dengan jemari. Sesekali hanya menatap kosong di hadapannya. Pusing memikirkan ini itu yang mengganggu pikirannya. Suara meja dan kursi yang di dekatnya membuat pikirannya tambah kacau. Setelah mendapatkan kelompok drama yang tidak membuat hatinya senang. Kini ia sedang berpikir keras apa yang harus di lakukannya. Jam istirahat yang ia habiskan hanya untuk berpikir ternyata tidak membuahkan hasil sama sekali. Kedua orang itu membuat pikirannya kacau balau. Akhirnya ia mengambil inisiatif untuk mengirimkan pesan untuk kedua orang itu.
            Sepulang sekolah tunggu aku di ruang drama. Ada hal yang ingin aku bicarakan. Hanya kalimat itu yang terpikir olehnya. Ia menjejalkan ponselnya kembali. Belum pernah ia merasa kacau seperti hari ini. Pembagian kelompok yang menurutnya tidak adil itu yang menyebabkan semua kekacauan yang ada dalam dirinya. Lagi-lagi ia hanya mendengus pelan. Menatap kedua orang itu bergantian. Kanan. Kiri. Kanan. Kiri. Tidak ada reaksi apapun. Mereka hanya menatap ponselnya. Mengetahui nama yang muncul di layar ponsel membuat mereka kembali memasukan ponselnya ke dalam saku.

            Sial! dengusnya pelan. Reaksi seperti apa itu, benar-benar tidak peduli. Tambahnya dengan cepat. Bel tanda berakhirnya pelajaran telah berdering sejak 10 menit yang lalu. Tapi ia masih duduk di bangkunya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruang drama. Kedua orang itu mengikuti dari belakang. Menjaga jarak dari Adzra. Ia berbalik menatap tajam kedua temannya. Sedikit memiringkan kepala dengan matanya yang bulat. Kedua temannya masih tetap santai. Alfa yang bersikap tidak peduli lebih ke cuek. Walaupun harus ia akui permainan basketnya membuatnya tercengang. Tetap saja ia tidak tertarik dengan teman yang tidak mempunyai kemauan untuk belajar dan terlebih bersikap kasar. Sementara Prakas tidak jauh berbeda dengan Alfa. Hanya saja ia lebih menyukai dunianya sendiri. Sosok misterius yang selama ini membuat Adzra merinding setiap kali ia menatapnya dengan tatapan seperti saat ini.
            “Kalau begini caranya bagaimana hasil drama minggu depan! Ah sial! Aku sama sekali tidak menyukai kelompok drama ini!” Adzra bercekat pinggang. Mendengus sebal terlebih saat melihat kedua temannya yang saat ini berjalan berjauhan. Prakas melapaskan earphone yang melekat di telinganya. Mendongak menatap Adzra. “Kalau kau ingin aku mengikuti latihan drama dengan benar setiap hari maka kau harus bersiap mengikuti semua aturanku.” Ucapnya sambil melepaskan tas lalu melemparkan pada Adzra. “Aduh! Hei!” sesaat wajahnya tertutupi tas Alfa. Prakas hanya memerhatikan. Tidak sedikitpun membantu. Alfa berjalan melewati Adzra membuka pintu ruang drama. Prakas mengangkat sebelah alisnya lalu memasang earphonenya kembali. Mengikuti langkah Alfa yang masuk lebih dulu.
            Kini kedua temannya masih larut dengan dunianya sendiri. Ingin sekali rasanya meninju wajah keduanya. Kalau perlu hingga membuat lingkaran hitam di matanya seperti panda. 10 menit berlalu tanpa adanya pembicaraan. Alfa angkat bicara. “Naskah seperti apa yang harus aku hapalkan?” tanyanya seolah membuat Adzra tambah kesal dengan wajahnya yang sok tampan itu. “Aku yang akan membuat naskahnya dan kalian berdua hanya perlu berlatih dengan rajin. Hanya itu. Tidak susah bukan?” jawabnya sambil menunjuk kedua temannya. Kedua temannya hanya mengangguk kecil. Tidak berkomentar. Sebenarnya ia tau kalau kedua temannya tidak sama sekali menyukai pelajaran seperti ini. Ia sudah bisa menebak tanpa harus bertanya. “Kalau sudah selesai. Apa aku sudah bisa pergi sekarang?” tanya Prakas dengan tatapan misteriusnya itu membuat Adzra memalingkan wajahnya ke kaca besar di hadapannya.
            Ia masih menimang sebelum akhirnya mengangguk kecil. Prakas keluar dari ruang terlebih dahulu. Meninggalkan Adzra dan Alfa di dalam. Temannya itu membuatnya tidak nyaman karena tatapan aneh. “Ada apa kau menatapku seperti itu?” ia mendongakkan wajah. Menggigit bibir. “Ya?” tanyanya. “Kembalikan tasku. Aku ingin pulang. Dan dari tadi kau masih memegangi tasku. Kau sadar?” Adzra memalingkan wajahnya. Bodoh. Dari tadi ia masih memegangi tas Alfa. Ada apa dengannya hari ini? Benar-benar kacau pikirannya. Dengan kesal ia melemparkan tas Alfa. “Hei! Kau tidak punya sopan santun! Ambil lagi!” tukasnya saat ia mengetahui tasnya tergeletak di bawah. Adzra memasang wajah sebal. segera keluar dari ruangan tanpa berkata apa-apa. “Hei! Kau! Kubilang ambilkan tasku!” Alfa masih teriak-teriak di dalam. Jelas saja ia meninggalkan temannya itu. Karena menurutnya ia hanya membuang-buang waktu berbicara dengan temannya yang sangat bodoh itu.
* * *
Matanya terkejut saat melihat Prakas yang berdiri di tengah lapangan basket yang sedang memegangi bola. Sesaat ia menggiring bola ke dekat ring. Berlari sebelum akhirnya melompat memasukan bola ke dalam ring. Dan Alfa yang baru saja mengganti pakaian basketnya datang menghampiri Prakas. Melihat kedua temannya yang mempunyai sikap yang hampir sama serta hobby yang sama juga membuatnya tercengang. Terlebih saat Alfa berhasil memasukkan bola ke dalam ring dari jarak jauh membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang baru saja ia pikirkan? Benar-benar sepertinya hari ini pikirannya telah rusak. Ia memutuskan untuk pulang. Baginya masa depannya adalah hal yang pasti harus ia dapatkan. Dan baginya rasa penasaran akan segala hal membuatnya terbantu untuk masa depannya. Kecuali cinta. Ia tidak percaya akan cinta yang ada.
Setelah melewati hari yang cukup sulit kemarin. Ia sudah memikirkan beberapa kemungkinan hal yang lebih buruk lagi dalam seminggu ini sebelum akhirnya tugasnya akan selesai setelah pertunjukkan drama. Ia juga harus menyita waktu istirahatnya untuk membuat naskah. Ia selalu seperti itu sejak memasuki sekolah. Tapi menurutnya hanya sekali ia benar-benar merasa kacau. Kemarin. Hari ini. Dan mungkin besok. Baginya memiliki masa depan yang cerah adalah mimpinya. Hari ini latihan pertama. Bisa lihat sendiri bagaimana kedua temannya saling menjauh. Tidak saling memedulikan. Sikap Alfa semakin hari membuatnya terganggu. Dan sikap Prakas yang tidak peduli membuatnya juga sedikit terganggu. Ini adalah mimpi buruk baginya. Melihat teman-temannya yang lain berlatih kerasa untuk ujian sementara dirinya sibuk mengiyakan ini itu karena aturan Alfa.
“Aku tidak akan memaksa kalian untuk harus bermain bagus dalam ujian nanti. Tapi aku memaksa kalian untuk terus berlatih. Aku tidak tau apa yang kalian pikirkan. Apa yang kalian inginkan. Dan apa yang kalian lakukan. Aku tau kalian tidak menyukai ini. Dan aku juga..” belum sempat Adzra melanjutkan perkataannya. Alfa sudah angkat bicara. “Dan aku juga tidak ingin mendengar ocehanmu yang panjang itu.” Lanjutnya. Ia mengangguk. Langsung membagikan naskah kepada kedua temannya. Alfa dan Prakas saling bersitatap. Baru kali ini ia saling menatap dan duduk berdekatan. Entah apa masalahnya tapi Alfa merasa terganggu setiap kali Prakas duduk di sampingnya. Dan Prakas juga merasa tidak nyaman berada di dekat Alfa. Sungguh konyol bukan?
“Kenapa harus dia yang menjadi pemeran utamanya?” ucap Prakas dengan nada sinis. Alfa terkekeh. Memasang wajah sok tampannya itu. Mengangkat bahu lalu berkata, “Jelas saja. Apa kau masih belum mengerti? Aku lebih tampan darimu.” Akunya. Apa yang baru saja ia katakan? Sungguh percaya diri sekali dia. Adzra memutuskan untuk duduk di antara Alfa dan Prakas. Saling sibuk satu sama lain membaca naskah. Berkomentar ini itu karena tidak bagus atau merasa kata-katanya tidak tepat. Latihan dimulai seperti biasa. Adzra dan Alfa mengambil latar pertama. Ia salah besar saat menilai kalau Alfa tidak pandai berakting. Bahkan aktingnya sungguh bagus dan mendalami karakter. Prakas tidak mau kalah dengan Alfa. Entah apa yang membuat kedua temannya terlihat begitu bersemangat berlatih. Tapi ia sungguh menikmati latihan seperti ini.
“Bagaimana dengan aktingku?” tanya Alfa setelah meneguk air putih. Keringat yang mengalir di wajahnya seakan seperti bermain basket. “Lumayan,” jawabnya sambil membuka tas yang di letakkan di meja. Prakas terkekeh. Hendak tertawa saat mendengar jawaban Adzra untuk Alfa. “Hanya lumayan? Kau ini bodoh atau apa! jelas-jelas aktingku bagus begitu!” gerutu Alfa memasang wajah kesal. Alis Adzra berkerut tidak mengerti. “Memang lumayan menurutku. Belum terlalu bagus. Kau harus terus belajar jika ingin mendengar kata sempurna dariku.” Prakas tiba-tiba tersenyum. Senyum untuk pertama kali pada Adzra. Membuatnya tercengang sekali lagi. “Kalau aktingku bagaimana?” tanyanya penasaran  ingin mendengar jawaban dari Adzra. “Ah, kau? Kau juga lumayan.”
“Aduh!” kata Alfa pura-pura kecewa. Ia senang sekali saat mendengar jawaban yang di terima Prakas sama dengan dirinya. “Aku pulang duluan. Jangan lupa besok ujian penilaian. Jangan coba-coba untuk tidak datang.” Adzra memberi peringatan untuk kedua temannya itu. Menunjuk kedua temannya dengan tatapan tajam. Lalu berjalan keluar membuka pintu ruang drama. Kedua temannya masih saling bersitatap satu sama lain. Sibuk dalam pikiran masing-masing.
* * *
Alfa dan Prakas masih tenggelam pada pikiran masing-masing. Hanya bersitatap satu sama lain. Entah apa yang dipikiran mereka. Hingga akhirnya Prakas memecahkan keheningan selama 5 menit. “Jangan coba-coba dekati Adzra atau kau akan berurusan denganku.” Katanya dengan nada seolah mengancam. Alfa mengerutkan kening tidak mengerti. “Kau bodoh atau tidak tau! Sepertinya aku mulai menyukainya.” Lanjutnya dengan tegas. Kali ini ia hanya berbicara 5cm dari wajah Alfa. Sialan! gerutu Alfa dalam hati. Terkutuklah dirinya. Begitu mendengar kata-kata yang meluncur dari Prakas. Sepertinya kali ini ia tidak main-main dengan ucapannya barusan. Ia sadar kalau selama ini ia memperlakukan Adzra dengan buruk. Meminta aturan saat berlatih. Menyuruh membawakan tasnya. Menyuruhnya membelikan minum. Atau memaksanya untuk menonton basket. Alfa terkekeh lalu menepuk bahu Prakas. “Kau yakin hanya kau yang menyukainya?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Perlukah ku ingatkan bahwa aku juga mulai menyukainya?” tanyanya sekali lagi. Kali ini Alfa sudah berdiri di hadapan Prakas. Menenteng tas di tangan kirinya. Prakas mengangkat wajah menatap Alfa. Tatapan tajam yang biasa ia lakukan pada Adzra. “Wah! Kebetulan sekali bukan? Ini benar-benar hebat teman! Ini permainan yang unik bukan? Dua orang yang tidak pandai dalam belajar bisa menyukai gadis yang sama.” Alfa menepuk bahu Prakas sekali lagi. Melihat wajah temannya yang seperti itu membuatnya senang. “Aku suka caramu mengatakan hal seperti itu. Terlihat gemetar dan menakutkan!” sahut Prakas sambil keluar meninggalkan ruangan. Sial! Kenapa dia begitu yakin sekali! Gerutunya dalam hati. Kesal mendengar ucapan Prakas. Alfa menendang meja dan membuat kakinya sendiri kesakitan. Bodoh! Terkutuklah dirinya!
* * *
Hari ini hari ujian drama. Setiap kelompok sudah menyiapkan pertunjukkan terbaiknya. Tidak terkecuali kelompoknya yang menjelang 5 menit penilaian dimulai belum juga datang. Semua teman-temannya saling bertanya. Sial! Apa lagi yang dilakukan mereka! Kekanak-kanakan! Gerutunya dalam hati. Berusaha tenang tetapi tetap saja tidak akan bisa. Ini ujian dramanya. Dan terlihat kedua temannya memasuki ruang ujian drama. Akhirnya ia bisa bernapas lega. Setelah namanya terdengar ia memutuskan untuk masuk.
“Kenapa kau tidak bisa mencintaiku putri? Kenapa? Apa ada seseorang yang kau cinta selain aku?” kata-kata yang di ucapkan Prakas terdengar nyata. Sebenarnya ia kaget saat Prakas menyentuh tangannya. Tatapan yang membuatnya nyaman. Tiba-tiba saja Alfa menarik Adzra. “Lepaskan tangannya! Sebelum aku membunuhmu.” Ucap Alfa sambil menarik pedang dari sakunya. Menarik Adzra masuk dalam pelukannya. Astaga apa yang dilakukannya. Konyol sekali! Ini bahkan tidak ada di bagian naskah. Tapi ia tetap menurut. Hingga akhirnya Prakas mengeluarkan pedang ke arah Adzra dan tiba-tiba..
“Pangeran! Pangeran! Sadarlah..” sahutnya dengan keras. Suaranya terdengar gemetar. Namun tetap jelas. Prakas tertunduk saat mengetahui Pangeran lah yang terbunuh olehnya. Dengan perasaan kesal ia menancapkan pedang ke dalam tubuhnya. Hingga terdengar suara serak dari pangeran. “Putri, dengarkan aku..” suaranya benar-benar terdengar seolah sungguhan. Dan sentuhan tangan Alfa membuat sekujur tubuh Adzra menghangat. Tatapan yang hari ini tidak pernah dilihatnya membuatnya yakin. “Aku mencitaimu putri. A..ku sung..guuh men..cintai..mu..” lanjutnya sekali lagi. Adzra menyentuh pipi Alfa. Menarik Alfa dalam pelukannya. Seolah drama yang dimainkannya benar-benar sungguhan. Hingga akhirnya Alfa tewas dalam pelukan Adzra. Dan pertunjukkan drama pun usai. Teman-temannya menatap heran Alfa dan Prakas bergantian. Saling berbisik tidak percaya dengan kedua temannya itu.
“Karena cinta akan tetap tumbuh di dalam hati seseorang, tidak peduli dengan alam yang berbeda sekalipun.” Ucap Adzra. “Karena cinta akan tetap ada di dalam jiwa seseorang meskipun dalam ruang sempit sekalipun,” lanjut Alfa. “Dan karena cinta akan selalu berada di mana pun ia berada.” Prakas melanjutkan. Dan mereka saling bersitatap satu sama lain. Sepertinya ini nyata. Pikirnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...