Alhamdulillah udah lama banget nggak posting. Ada yg kangen sama cerita-ceritanya? Haha pasti nggak ada lah :D
Apa kabar teman semuanya? Semoga Allah selalu memberikan kesehatan lahir dan batin untuk semuanya. Nggak banyak ngomong lagi, langsung aja kali ini saya mau posting cerita tentang ... ya pasti semuanya udah pada tau dong :D
Secara mungkin udah banyak banget yg berpengalaman tentang cinta. Udah langsung aja dibaca, awas jangan senyum-senyum sendiri bacanya ckck
Happy reading guys and thank you for reading this story :)
Apa kabar teman semuanya? Semoga Allah selalu memberikan kesehatan lahir dan batin untuk semuanya. Nggak banyak ngomong lagi, langsung aja kali ini saya mau posting cerita tentang ... ya pasti semuanya udah pada tau dong :D
Secara mungkin udah banyak banget yg berpengalaman tentang cinta. Udah langsung aja dibaca, awas jangan senyum-senyum sendiri bacanya ckck
Happy reading guys and thank you for reading this story :)
Listen
(Karena
cinta akan tetap terdengar meski tidak di katakan)
Adzra mendengus pelan. Memijit-mijit
pelipisnya dengan jemari. Sesekali hanya menatap kosong di hadapannya. Pusing
memikirkan ini itu yang mengganggu pikirannya. Suara meja dan kursi yang di
dekatnya membuat pikirannya tambah kacau. Setelah mendapatkan kelompok drama
yang tidak membuat hatinya senang. Kini ia sedang berpikir keras apa yang harus
di lakukannya. Jam istirahat yang ia habiskan hanya untuk berpikir ternyata
tidak membuahkan hasil sama sekali. Kedua orang itu membuat pikirannya kacau
balau. Akhirnya ia mengambil inisiatif untuk mengirimkan pesan untuk kedua
orang itu.
Sepulang
sekolah tunggu aku di ruang drama. Ada hal yang ingin aku bicarakan. Hanya
kalimat itu yang terpikir olehnya. Ia menjejalkan ponselnya kembali. Belum
pernah ia merasa kacau seperti hari ini. Pembagian kelompok yang menurutnya
tidak adil itu yang menyebabkan semua kekacauan yang ada dalam dirinya.
Lagi-lagi ia hanya mendengus pelan. Menatap kedua orang itu bergantian. Kanan.
Kiri. Kanan. Kiri. Tidak ada reaksi apapun. Mereka hanya menatap ponselnya.
Mengetahui nama yang muncul di layar ponsel membuat mereka kembali memasukan
ponselnya ke dalam saku.
Sial!
dengusnya pelan. Reaksi seperti apa itu,
benar-benar tidak peduli. Tambahnya dengan cepat. Bel tanda berakhirnya
pelajaran telah berdering sejak 10 menit yang lalu. Tapi ia masih duduk di
bangkunya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruang drama. Kedua orang
itu mengikuti dari belakang. Menjaga jarak dari Adzra. Ia berbalik menatap
tajam kedua temannya. Sedikit memiringkan kepala dengan matanya yang bulat.
Kedua temannya masih tetap santai. Alfa yang bersikap tidak peduli lebih ke
cuek. Walaupun harus ia akui permainan basketnya membuatnya tercengang. Tetap
saja ia tidak tertarik dengan teman yang tidak mempunyai kemauan untuk belajar
dan terlebih bersikap kasar. Sementara Prakas tidak jauh berbeda dengan Alfa.
Hanya saja ia lebih menyukai dunianya sendiri. Sosok misterius yang selama ini
membuat Adzra merinding setiap kali ia menatapnya dengan tatapan seperti saat
ini.
“Kalau begini caranya bagaimana
hasil drama minggu depan! Ah sial! Aku sama sekali tidak menyukai kelompok
drama ini!” Adzra bercekat pinggang. Mendengus sebal terlebih saat melihat kedua
temannya yang saat ini berjalan berjauhan. Prakas melapaskan earphone yang melekat di telinganya.
Mendongak menatap Adzra. “Kalau kau ingin aku mengikuti latihan drama dengan
benar setiap hari maka kau harus bersiap mengikuti semua aturanku.” Ucapnya sambil
melepaskan tas lalu melemparkan pada Adzra. “Aduh! Hei!” sesaat wajahnya
tertutupi tas Alfa. Prakas hanya memerhatikan. Tidak sedikitpun membantu. Alfa
berjalan melewati Adzra membuka pintu ruang drama. Prakas mengangkat sebelah
alisnya lalu memasang earphonenya kembali.
Mengikuti langkah Alfa yang masuk lebih dulu.
Kini kedua temannya masih larut
dengan dunianya sendiri. Ingin sekali rasanya meninju wajah keduanya. Kalau
perlu hingga membuat lingkaran hitam di matanya seperti panda. 10 menit berlalu
tanpa adanya pembicaraan. Alfa angkat bicara. “Naskah seperti apa yang harus
aku hapalkan?” tanyanya seolah membuat Adzra tambah kesal dengan wajahnya yang
sok tampan itu. “Aku yang akan membuat naskahnya dan kalian berdua hanya perlu
berlatih dengan rajin. Hanya itu. Tidak susah bukan?” jawabnya sambil menunjuk
kedua temannya. Kedua temannya hanya mengangguk kecil. Tidak berkomentar.
Sebenarnya ia tau kalau kedua temannya tidak sama sekali menyukai pelajaran
seperti ini. Ia sudah bisa menebak tanpa harus bertanya. “Kalau sudah selesai.
Apa aku sudah bisa pergi sekarang?” tanya Prakas dengan tatapan misteriusnya
itu membuat Adzra memalingkan wajahnya ke kaca besar di hadapannya.
Ia masih menimang sebelum akhirnya
mengangguk kecil. Prakas keluar dari ruang terlebih dahulu. Meninggalkan Adzra
dan Alfa di dalam. Temannya itu membuatnya tidak nyaman karena tatapan aneh.
“Ada apa kau menatapku seperti itu?” ia mendongakkan wajah. Menggigit bibir.
“Ya?” tanyanya. “Kembalikan tasku. Aku ingin pulang. Dan dari tadi kau masih
memegangi tasku. Kau sadar?” Adzra memalingkan wajahnya. Bodoh. Dari tadi ia
masih memegangi tas Alfa. Ada apa dengannya hari ini? Benar-benar kacau
pikirannya. Dengan kesal ia melemparkan tas Alfa. “Hei! Kau tidak punya sopan
santun! Ambil lagi!” tukasnya saat ia mengetahui tasnya tergeletak di bawah.
Adzra memasang wajah sebal. segera keluar dari ruangan tanpa berkata apa-apa.
“Hei! Kau! Kubilang ambilkan tasku!” Alfa masih teriak-teriak di dalam. Jelas
saja ia meninggalkan temannya itu. Karena menurutnya ia hanya membuang-buang
waktu berbicara dengan temannya yang sangat bodoh itu.
* * *
Matanya
terkejut saat melihat Prakas yang berdiri di tengah lapangan basket yang sedang
memegangi bola. Sesaat ia menggiring bola ke dekat ring. Berlari sebelum
akhirnya melompat memasukan bola ke dalam ring. Dan Alfa yang baru saja
mengganti pakaian basketnya datang menghampiri Prakas. Melihat kedua temannya
yang mempunyai sikap yang hampir sama serta hobby yang sama juga membuatnya
tercengang. Terlebih saat Alfa berhasil memasukkan bola ke dalam ring dari
jarak jauh membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang baru saja ia
pikirkan? Benar-benar sepertinya hari ini pikirannya telah rusak. Ia memutuskan
untuk pulang. Baginya masa depannya adalah hal yang pasti harus ia dapatkan.
Dan baginya rasa penasaran akan segala hal membuatnya terbantu untuk masa
depannya. Kecuali cinta. Ia tidak percaya akan cinta yang ada.
Setelah
melewati hari yang cukup sulit kemarin. Ia sudah memikirkan beberapa
kemungkinan hal yang lebih buruk lagi dalam seminggu ini sebelum akhirnya
tugasnya akan selesai setelah pertunjukkan drama. Ia juga harus menyita waktu
istirahatnya untuk membuat naskah. Ia selalu seperti itu sejak memasuki
sekolah. Tapi menurutnya hanya sekali ia benar-benar merasa kacau. Kemarin.
Hari ini. Dan mungkin besok. Baginya memiliki masa depan yang cerah adalah
mimpinya. Hari ini latihan pertama. Bisa lihat sendiri bagaimana kedua temannya
saling menjauh. Tidak saling memedulikan. Sikap Alfa semakin hari membuatnya
terganggu. Dan sikap Prakas yang tidak peduli membuatnya juga sedikit
terganggu. Ini adalah mimpi buruk baginya. Melihat teman-temannya yang lain
berlatih kerasa untuk ujian sementara dirinya sibuk mengiyakan ini itu karena
aturan Alfa.
“Aku tidak
akan memaksa kalian untuk harus bermain bagus dalam ujian nanti. Tapi aku
memaksa kalian untuk terus berlatih. Aku tidak tau apa yang kalian pikirkan.
Apa yang kalian inginkan. Dan apa yang kalian lakukan. Aku tau kalian tidak
menyukai ini. Dan aku juga..” belum sempat Adzra melanjutkan perkataannya. Alfa
sudah angkat bicara. “Dan aku juga tidak ingin mendengar ocehanmu yang panjang
itu.” Lanjutnya. Ia mengangguk. Langsung membagikan naskah kepada kedua
temannya. Alfa dan Prakas saling bersitatap. Baru kali ini ia saling menatap
dan duduk berdekatan. Entah apa masalahnya tapi Alfa merasa terganggu setiap
kali Prakas duduk di sampingnya. Dan Prakas juga merasa tidak nyaman berada di
dekat Alfa. Sungguh konyol bukan?
“Kenapa
harus dia yang menjadi pemeran utamanya?” ucap Prakas dengan nada sinis. Alfa
terkekeh. Memasang wajah sok tampannya itu. Mengangkat bahu lalu berkata,
“Jelas saja. Apa kau masih belum mengerti? Aku lebih tampan darimu.” Akunya.
Apa yang baru saja ia katakan? Sungguh percaya diri sekali dia. Adzra
memutuskan untuk duduk di antara Alfa dan Prakas. Saling sibuk satu sama lain
membaca naskah. Berkomentar ini itu karena tidak bagus atau merasa kata-katanya
tidak tepat. Latihan dimulai seperti biasa. Adzra dan Alfa mengambil latar
pertama. Ia salah besar saat menilai kalau Alfa tidak pandai berakting. Bahkan
aktingnya sungguh bagus dan mendalami karakter. Prakas tidak mau kalah dengan
Alfa. Entah apa yang membuat kedua temannya terlihat begitu bersemangat
berlatih. Tapi ia sungguh menikmati latihan seperti ini.
“Bagaimana
dengan aktingku?” tanya Alfa setelah meneguk air putih. Keringat yang mengalir
di wajahnya seakan seperti bermain basket. “Lumayan,” jawabnya sambil membuka
tas yang di letakkan di meja. Prakas terkekeh. Hendak tertawa saat mendengar
jawaban Adzra untuk Alfa. “Hanya lumayan? Kau ini bodoh atau apa! jelas-jelas
aktingku bagus begitu!” gerutu Alfa memasang wajah kesal. Alis Adzra berkerut
tidak mengerti. “Memang lumayan menurutku. Belum terlalu bagus. Kau harus terus
belajar jika ingin mendengar kata sempurna dariku.” Prakas tiba-tiba tersenyum.
Senyum untuk pertama kali pada Adzra. Membuatnya tercengang sekali lagi. “Kalau
aktingku bagaimana?” tanyanya penasaran
ingin mendengar jawaban dari Adzra. “Ah, kau? Kau juga lumayan.”
“Aduh!” kata
Alfa pura-pura kecewa. Ia senang sekali saat mendengar jawaban yang di terima
Prakas sama dengan dirinya. “Aku pulang duluan. Jangan lupa besok ujian
penilaian. Jangan coba-coba untuk tidak datang.” Adzra memberi peringatan untuk
kedua temannya itu. Menunjuk kedua temannya dengan tatapan tajam. Lalu berjalan
keluar membuka pintu ruang drama. Kedua temannya masih saling bersitatap satu
sama lain. Sibuk dalam pikiran masing-masing.
* * *
Alfa dan Prakas masih tenggelam
pada pikiran masing-masing. Hanya bersitatap satu sama lain. Entah apa yang
dipikiran mereka. Hingga akhirnya Prakas memecahkan keheningan selama 5 menit.
“Jangan coba-coba dekati Adzra atau kau akan berurusan denganku.” Katanya
dengan nada seolah mengancam. Alfa mengerutkan kening tidak mengerti. “Kau
bodoh atau tidak tau! Sepertinya aku mulai menyukainya.” Lanjutnya dengan
tegas. Kali ini ia hanya berbicara 5cm dari wajah Alfa. Sialan! gerutu Alfa dalam hati. Terkutuklah dirinya. Begitu
mendengar kata-kata yang meluncur dari Prakas. Sepertinya kali ini ia tidak
main-main dengan ucapannya barusan. Ia sadar kalau selama ini ia memperlakukan
Adzra dengan buruk. Meminta aturan saat berlatih. Menyuruh membawakan tasnya.
Menyuruhnya membelikan minum. Atau memaksanya untuk menonton basket. Alfa terkekeh
lalu menepuk bahu Prakas. “Kau yakin hanya kau yang menyukainya?” tanyanya
sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Perlukah ku ingatkan bahwa aku
juga mulai menyukainya?” tanyanya sekali lagi. Kali ini Alfa sudah berdiri di
hadapan Prakas. Menenteng tas di tangan kirinya. Prakas mengangkat wajah
menatap Alfa. Tatapan tajam yang biasa ia lakukan pada Adzra. “Wah! Kebetulan
sekali bukan? Ini benar-benar hebat teman! Ini permainan yang unik bukan? Dua
orang yang tidak pandai dalam belajar bisa menyukai gadis yang sama.” Alfa
menepuk bahu Prakas sekali lagi. Melihat wajah temannya yang seperti itu
membuatnya senang. “Aku suka caramu mengatakan hal seperti itu. Terlihat
gemetar dan menakutkan!” sahut Prakas sambil keluar meninggalkan ruangan. Sial! Kenapa dia begitu yakin sekali! Gerutunya
dalam hati. Kesal mendengar ucapan Prakas. Alfa menendang meja dan membuat
kakinya sendiri kesakitan. Bodoh! Terkutuklah dirinya!
* * *
Hari ini hari ujian drama. Setiap
kelompok sudah menyiapkan pertunjukkan terbaiknya. Tidak terkecuali kelompoknya
yang menjelang 5 menit penilaian dimulai belum juga datang. Semua
teman-temannya saling bertanya. Sial! Apa
lagi yang dilakukan mereka! Kekanak-kanakan! Gerutunya dalam hati. Berusaha
tenang tetapi tetap saja tidak akan bisa. Ini ujian dramanya. Dan terlihat
kedua temannya memasuki ruang ujian drama. Akhirnya ia bisa bernapas lega.
Setelah namanya terdengar ia memutuskan untuk masuk.
“Kenapa kau tidak bisa
mencintaiku putri? Kenapa? Apa ada seseorang yang kau cinta selain aku?” kata-kata
yang di ucapkan Prakas terdengar nyata. Sebenarnya ia kaget saat Prakas
menyentuh tangannya. Tatapan yang membuatnya nyaman. Tiba-tiba saja Alfa
menarik Adzra. “Lepaskan tangannya! Sebelum aku membunuhmu.” Ucap Alfa sambil
menarik pedang dari sakunya. Menarik Adzra masuk dalam pelukannya. Astaga apa
yang dilakukannya. Konyol sekali! Ini bahkan tidak ada di bagian naskah. Tapi
ia tetap menurut. Hingga akhirnya Prakas mengeluarkan pedang ke arah Adzra dan
tiba-tiba..
“Pangeran! Pangeran! Sadarlah..”
sahutnya dengan keras. Suaranya terdengar gemetar. Namun tetap jelas. Prakas
tertunduk saat mengetahui Pangeran lah yang terbunuh olehnya. Dengan perasaan
kesal ia menancapkan pedang ke dalam tubuhnya. Hingga terdengar suara serak
dari pangeran. “Putri, dengarkan aku..” suaranya benar-benar terdengar seolah
sungguhan. Dan sentuhan tangan Alfa membuat sekujur tubuh Adzra menghangat.
Tatapan yang hari ini tidak pernah dilihatnya membuatnya yakin. “Aku mencitaimu
putri. A..ku sung..guuh men..cintai..mu..” lanjutnya sekali lagi. Adzra
menyentuh pipi Alfa. Menarik Alfa dalam pelukannya. Seolah drama yang
dimainkannya benar-benar sungguhan. Hingga akhirnya Alfa tewas dalam pelukan
Adzra. Dan pertunjukkan drama pun usai. Teman-temannya menatap heran Alfa dan
Prakas bergantian. Saling berbisik tidak percaya dengan kedua temannya itu.
“Karena cinta akan tetap tumbuh
di dalam hati seseorang, tidak peduli dengan alam yang berbeda sekalipun.” Ucap
Adzra. “Karena cinta akan tetap ada di dalam jiwa seseorang meskipun dalam
ruang sempit sekalipun,” lanjut Alfa. “Dan karena cinta akan selalu berada di
mana pun ia berada.” Prakas melanjutkan. Dan mereka saling bersitatap satu sama
lain. Sepertinya ini nyata. Pikirnya.

Komentar
Posting Komentar