Mungkin saat saya menuliskan sesuatu ini saya sedang merasa senang bahwa dunia masih memberikanku banyak kesempatan untuk terus belajar, mungkin juga saat saya menuliskan sesuatu ini saya merasakan sesaknya hati yang mendalam. bukan karena apapun yang datang bukan karena apapun juga yang pergi. Bilakah ia bermula dan bila juga ia berakhir. Untuk apa datang lalu pergi??
Datang Untuk Pergi
Ketika jarak memisahkan apakah kesimpulan juga akan menyatakan
bahwa kita juga berpisah ?? ketika jarak berada diantara kita apakah itu suatu
hambatan ?? ketika aku, kamu dan jarak menjadi penengah, ketika membentang
indah bagaikan lautan luas dengan seribu bahkan jutaan keindahan warnanya. Aku
tidak menyelesaikan semuanya, karna cepat atau lambat kau akan kembali.
Sejak saat itu aku memutuskan untuk berpisah, berpisah
sekolah denganmu. Bukan hanya jarak yang menjadi penengahnya tetapi waktu yang
panjang untuk menanti dan memastikan bahwa jika memang cepat atau lambat kau
akan kembali lagi. Bukankah kau yang mengatakannya bahwa “jika benar itu cinta
dia akan kembali sejauh apapun kau pergi”.
Masih membekas dalam ingatan tak kala kau mengejekku
karna aku selalu ambisi dalam mendapatkan segala sesuatu, kau bilang aku orang
yang tak pandai bersosialisasi. Entah sudah berapa banyak aku memikirkan
kenangan itu. Rasanya sulit untuk kulupa. Dan mulai saat ini aku akan
menitipkan impian kecilku melalui pesan botol ini.
Kenangan terindah yang tak bisa kulupakan saat bunyi bel
sepedamu berdering tepat di depan rumahku. Kau mengajakku untuk berangkat
sekolah bersama. Melewati sesaknya jalanan ibu kota. Berdesak-desakan hanya
untuk memperebutkan jalan. Tapi aku sangat senang karena semua itu dilakukan
bersamamu.
“Hey kau ini, cepatlah
nanti kita telat. Kau ini lama sekali,” katamu ketus.
“Iya sebentar, tali
sepatuku lepas. Terinjak salah seorang pekerja saat di parkiran sepeda.”
Jawabku dengan wajah cemberut.
Dengan kesal dia memutuskan untuk menghampiriku dan
membantu mengikatkan tali sepatuku yang lepas. Ini hal yang tidak bisa kulupa
sampai kapanpun. Kau begitu dingin, cuek, tak lebih kau sering mengejekku
dengan alasan yang sama. Aku ingin sekali canda tawa denganmu seperti aku
tertawa saat berbicara dengan teman-teman yang lain. Kau begitu kaku, kau
terlalu serius tapi walaupun begitu aku tetap suka padamu.
“Aku belum sarapan, ke
kantin sebentar ya?” pintaku.
“Sudah lima menit
menjelang bel masuk, kenapa tidak bilang dari tadi?”
“Maaf, aku lupa.”
“Tidak perlu ke kantin,
aku bawa bekal. Ini untukmu,” katanya sambil memberikan tempat makan berwarna
biru muda padaku.
Bel berbunyi, pelajaranpun dimulai. Aku berbeda kelas
dengannya. Dia jauh lebih pintar dan memang pantas dapat kelas Ipa 1. Entah apa
yang membuatnya suka padaku dan menyatakannya perasaannya waktu itu. Diluar
dugaan seorang murid yang pintar menyukaiku yang tidak terlalu pintar dan susah
bersosialisasi. Kata temanku, aku sangat beruntung punya pacar seperti dirinya.
Tapi menurutku ini sangatlah aneh. Bagaimana mungkin dia benar-benar menyukaiku
? sedangkan sekelas saja tidak, berbincang saja tidak. Aku lebih suka pergi ke
kantin. Sementara dia jauh lebih suka baca buku di perpustakaan. Dua
kepribadian yang jauh berbeda tapi bisa menyatukan satu sama lain. Apakah ini
benar-benar cinta ? atau aku yang salah mengartikan rasa nyaman menjadi cinta ?
ah, entahlah.
Lamunanku terbuyar saat Ostuka memanggilku,
“Kau diminta Prof.Reza
ke ruangannya.” Ucap temanku yang sedang asik melahap es cream.
“Aku?” Tanyaku kembali.
“Iya kau dipanggil,”
“Untuk apa?”
“Mana kutau, kau
hampiri saja ke ruangannya.”
Sesampainya diruang Prof.Reza, jantungku seolah berdetak
dua kali lebih cepat. Melihat wajahnya yang serius dan menegangkan. “Ah sial
kenapa wajah Prof.Reza mirip sekali dengan dia sih?” tanyaku dalam hati dengan
sedikit kesal. Aku menggelengkan kepala untuk menahan semua pertanyaanku.
“Kamu baik-baik saja?”
tanyanya.
Aku masih terus bertanya-tanya, kemana saja dia? Sudah
lama sekali tidak ada kabar semenjak acara perpisahan itu, dia hilang bagai
ditelan bumi. Status hubunganku saja tidak jelas apa.
“Rini? Kamu baik-baik
saja?” Tanya Prof.Reza kembali.
Aku mendongak ke arah wajah Prof.Reza.
“Sehat Prof, sehat.”
Jawabku terbata-bata. “Ada apa Prof memanggil saya?” tanyaku.
“Skripsimu sudah bagus,
kau bisa langsung sidang minggu depan.” Jawabnya santai.
“Prof serius?” tanyaku
dengan heran.
“Iya, kamu boleh keluar
dari ruangan saya,”
“Terima kasih Prof,”
Rasanya aku ingin mengatakan padanya bahwa aku sekarang
jauh lebih pintar dan mudah bersosialisasi, aku sudah berubah sejak keluar dari
SMA. Aku rindu sekali padanya. Sudah lebih dari 4th kita tidak tegur
sapa. Padahal kalaupun bertemu yang ada hanyalah keributan. Tapi kejadian
itulah yang membuatku rindu sekali ingin bertemu dengannya. Jika waktu bisa
diputr kembali, aku ingin mengucapkan padanya kalau aku bangga karena pernah
menjadi orang yang spesial untuk hidupnya. Tapi sayang rasanya itu tidak
mungkin. Semua kenangan yang telah terjadi padaku takkan pernah aku lupakan
sekecil apapun itu.
Aku duduk tepat di bawah pohon yang rindang, kubuka
ponselku dan berharap akan ada pesan masuk untukku. Terlebih dari dia yang ku
harapkan.
“Sendiri aja mba?
Temannya mana?” Tanya seorang pria yang berada di sampingku.
“Lagi ke kantin,”
jawabku singkat.”
“Lagi nunggu siapa mba?
Pacarnya yah?”
“Pacar saya tidak tau
kemana,” jawabku kesal.
“Mau saya temenin
tidak?”
“Tidak usah, saya lebih
baik sendiri saja.”
“Yakin?”
“Situ bawel banget sih!
Nanya-nanya terus. Kalau saya bilang tidak ya tidak!” jawabku sambil menoleh ke
arah pria tersebut.
Jantungku seolah berhenti melihat pria yang sedari tadi
berada di sampingku. Mataku tidak berkedip sekalipun, berkali-kali kucubit
lenganku hanya ingin memastikan bahwa ini tidak mimpi. Pria itu tersenyum
melihat wajahku, sepertinya aku terlihat seperti orang bodoh saat melihatnya.
“Pacarnya mana mba?”
godanya padaku.
“Kau kemana saja? Tidak
ada kabar, menghilang bagai ditelan bumi.” Tanyaku.
“Maaf, aku terlalu
sibuk menyelesaikan pendidikanku. Apa kabar setelah hampir kurang lebih 4th
tidak bertemu?”
“Baik, kau sendiri?
Sebentar, kau tau dari mana kalau aku kuliah disini? jangan-jangan?” tanyaku
dengan heran.
“Kau ingin tau? Tidak
penting tau dari mana yang penting kita bertemu lagi,”
“Jawab, atau aku pergi
dari sini.” Jawabku ketus.
“Ternyata kau cerewet
ya keluar dari SMA, tapi kau sedikit lebih cantik sih,”
“Apa kau bilang? Aku
cerewet? Kau juga sama. Kalau mau muji yang banyak dong masa sedikit,”
“Ikut aku.”
Tanganku di genggam erat olehnya, entah akan di bawa
kemana. Mataku ditutup dengan sapu tangannya. Sepertinya aku dimasukan dalam
mobil, dan terdengar lagu favoritku dan dia sewaktu SMA. Ah semakin penasaran
aku dengan semua ini. Mesin mobil mati seketika, dia membawaku turun dan duduk.
Dilepaskan penutup mata dan kulihat danau yang sangat indah sekali. Dia
memberikan kotak entah berisikan apa.
Ini benar-benar pemandangan yang sangat indah, dan ini
untuk pertama kalinya dia mengajakku untuk pergi ke tempat ini setelah 4th
tidak bertemu. Dia, ya dia yang kutunggu selama ini. dia datang untuk kembali.
Menepati janjinya.
“Aku tidak bisa
mengatakan apa-apa.”
“Maksudmu?”
“Sebenarnya aku ingin
membicarakan masalah ini padamu,”
“Apa yang ingin kau
bicarakan?”
“Aku sudah tunangan,”
Seakan darahku berhenti, jantungku lepas, fikiranku
melayang saat mendengar perkataannya.
“Aku ingin
memberitahumu, tapi aku tidak sempat,” ucapnya kembali.
Aku tersenyum “Aku turut bahagia,”
Ku genggam tangannya seakan menguatkan hatiku sendiri.
Kupeluk dia untuk terakhir kalinya dan mengucapkan terima kasih atas segala
pelajaran hidup yang sangat berarti. Dan disini, di saat matahari terbenam akan
menjadi saksi betapa kuatnya persahabatan kita yang telah kita lalui. Karena jika
benar itu cinta dia akan kembali sejauh apapun kau pergi, karena jika benar itu
rasa yang teramat berarti, biarkan cukup aku melihat dirimu bahagia.
Mengingat semua masa lalu, membuatku paham dan mengerti
bahwa hidup akan terus berjalan. Sejauh apapun kau melangkah hidup akan terus
berjalan. Selama apapun kau menunggu hidup akan terus berjalan. Hadapilah,
karena pelajaran hidup takkan ada di sekolah tetapi berguna untuk hidupmu
sendiri…
Serang, 6
November 2014

Komentar
Posting Komentar