Hey hey hey akhirnya setelah sekian lama disibukan dengan tugas sekolah dan sidang ane balik lagi nih bawa cerita buat ente semua yang udah pada nunggu postingan dari ane. jangan lupa di baca sampe akhir dan tinggalkan jejk komentar supaya ane tau dan belajar dari kesalahan :D haha
Langsung aja dah buat semuanya ini cerpen terbaru dari ane yang berjudul A Golden Memories :)
Happy Reading Guys :D
A Golden Memories
Aku percaya akan ada senyum dibalik rasa dinginmu, aku
percaya bahwa akan ada bahagia dalam cuekmu, aku yakin akan ada benih cinta
meski kau coba hilangkan rasa itu. Jika kau tau aku tercipta memang untuk
melindungimu, menjadi teman untukmu. Namun, memang kau belum tau ada seseorang
disana yang menunggumu, menanti akan rasa itu. Bahwa dia datang masuk dalam
pikiranmu. Aku tak menyerah meski orang lain yang akan menjadi orang terakhir
untukmu. Karna hati ini untukmu, jiwa ini milikmu. Memang aku tak punya materi
yang bisa buat bahagiakanmu. Tapi percayalah, aku punya cinta yang lebih bisa
buatmu bahagia
Segelas teh hangat menemaniku dalam balutan cuaca yang
penuh air hujan. Seminggu dalam kurun waktu liburan telah ku habiskan untuk diam
dirumah. Teringat sosok wanita itu, apa kabar dia selama liburan ?? ingin
sekali rasanya mengatakan perasaan yang sesungguhnya. Selama 2 tahun
memendamnya sendiri, menunggu semuanya mengalir dan berjalan begitu saja tanpa
harus terburu-buru. Karena persabahatan yang telah kujalin dengannya sudah
cukup lama dan aku tidak ingin menghancurkan semuanya dalam beberapa detik
karena ucapanku. Karena aku percaya semua akan indah pada waktunya. Jika dia
benar-benar yang kucari selama ini, sejauh apapun dia pergi karena semuanya
akan berakhir di diriku.
“Hey apa kabar selama liburan
? ku dengar kau sedang berada di Bandung ya ? kenapa kau tidak bilang ?”
Ponselku berdering, satu pesan kuterima. Dan dari dia.
Kubaca perlahan, aku menyunggingkan senyuman saat membaca pesan darinya.
“Kau sedang di Bandung juga ?
atau dirumah ?”
Kubalas pesan darinya, teh hangat pas sekali menjadi
temanku pagi ini dan sepiring makanan tradisional yang disediakan bibi untukku.
Maklum cuaca dingin seperti di Bandung ini lebih pas jika dihabiskan untuk
makan dan istirahat. Untuk urusan jalan-jalan sudah ku urus sebelumnya.
“Aku juga sedang berada di
Bandung, tempat kakekku. Lain waktu kau harus berkunjung kesini. Tempatnya
asri, dekat dengan kebun teh dan danau. Aku jamin ini tidak akan membosankan.”
Dia membalasnya. Dan mengatakan sedang berada di Bandung
juga. Senang bukan main saat membaca pesan yang satu ini. jarang sekali dia
menghubungiku atau mengajakku main untuk berkunjung ke tempat kakeknya, selama
ini yang sering mengajak main diriku, itupun hanya ke rumah teman saja. Dan
entah kenapa aku lebih suka dengan dia yang cuek, tidak banyak omong, padahal
kalau dia cuek aku pun tidak suka karena dia terlalu serius untuk diajak
berbicara tentang perasaan. Karena baginya saat ini cinta itu bohong. Mungkin
karena dia telah kecewa atas kejadian di masa lalunya.
Dia itu berbeda dari yang lain. Dia tak sungkan untuk
mengajarkan teman-temannya ketika dalam kesusahan mengerjakan tugas sekolah.
Dia juga tak sungkan untuk menawarkan diri jika aku diberi tugas numpuk oleh
pak guru. Walau hanya sebatas seorang sahabat tapi menurutku selama ini hanya
dia dan bersama dia aku mengerti arti kenangan dan sejati dalam menjalani
hidup. Pernah suatu ketika aku memergokinya dalam kelas, dia menaruh surat dalam
tasku. Setelah sepulang sekolah, saat kubuka tasku surat dengan amplop berwarna
biru yang berisikan tentang rasa kehilangannya.
Hati ini terasa sunyi tanpa
nafas cintamu
Hidup ini terasa sepi tanpa
senyuman darimu
Diri ini senyap tanpa jiwa
kasihmu
Ruang hati ini gelap tanpa
arah untuk melangkah…
Cinta, mengapa semua itu harus
terjadi ??
Mengapa disaat terang dunia
kalbuku kau berlalu ??
Kau tinggalkan sepenggal dusta
dalam rasa…
Cinta, aku hanya mampu memeluk
rasa
Memeluk mimpi senja yang kelabu
Meniti harapan fajar kelana…
Cinta, kau buat aku tak yakin
untuk melangkah
Kau beri aku segenggam luka
Mengapa cahaya pelangi menjadi
api ??
Selamat jalan cinta,
Selamat berbahagia diatas
lukaku
Biarlah kata merangkai
Hati serupa darah dibalik
tirai…
Dari situ aku mencoba untuk menyakinkannya bahwa cinta
tidak sejahat yang dia kira. Aku mencoba untuk membuka hati, mencoba mengerti
akan kondisinya saat itu. Hingga dia tetap berada di sampingku. Walaupun entah
yang diharapkannya siapa. Tapi hari ini, detik ini aku berjanji pada diriku
untuk menyatakan semua perasaan itu, agar dia tau bahwa orang yang dia cari
selama ini ada di dekatnya.
Setelah seminggu berada dirumah, hari ini aku meminta
ijin kepada bibi untuk main dan bibi mengijinkanku untuk pergi. Ku coba
menghubungi dia, dan benar saja dia mengangkat dan memberikan alamat lengkap
padaku. Setelah hampir kurang lebih sejam perjalanan aku tiba di sebuah rumah
dekat dengan danau. Benar saja ini pemandangan yang sangat indah. Kutanyakan
pada saudaranya dan ternyata dia sedang berada di danau.
Dia, ya dia Rana Puspita. Gadis cantik yang membuatku
kagum dan suka padanya. Menyakinkan hati untuk berbicara jujur hari ini agar
semuanya jelas dan tidak semu seperti apa yang kubayangkan.
“Hey ? sendiri aja ?” sapaku
dari arah belakang, dia menoleh kebingungan.
“Kau sudah sampai ? kenapa
tidak bilang ?” tanyanya.
“Tadi aku langsung berangkat,
dan sempat bertanya tentang alamatmu. Ah sudahlah yang penting sudah sampai
disini.” jelasku pada Rana.
“Baiklah jika benar begitu,”
“Rana ?”
“Iya apa ?”
Aku terdiam, bingung bagaimana cara mengatakannya. Aku
mencoba menguatkan dan menyakinkan diriku sendiri agar tetap tenang.
“Sebenarnya selama ini aku
suka padamu, dari awal kita bertemu dan saling sapa. Berawal dari buku dan
pulpen yang kau pinjamkan saat aku tidak masuk sekolah. Dari handuk yang kau
bawakan saat aku olahraga. Dari pertama kalinya aku makan bersama dengan
perempuan selain ibuku. Dari hal-hal yang tidak bisa aku lupakan selama kita
bersama. Dan panggilan darimu yang sampai saat ini melekat untukku. Entah apa
yang membuatku suka padamu, tapi percayalah aku benar-benar suka padamu.”
Rana terdiam, matanya berbinar seolah ingin meneteskan
air mata. Entah apa yang saat ini ada dalam pikirannya. Apakah dia terkejut
atau dia marah karna ucapanku tadi.
“Adrian ?” panggilnya, aku
menoleh ke arahnya.
Hening seketika.
“Aku juga menyukaimu Adrian.
Kau mampu membuatku bahagia setiap detiknya. Kau mampu mengubah gelapnya malam
menjadi terang seperti siang. Kau mampu menghadirkan pelangi setelah hujan. Dan
kini ku yakin dalam hatiku, kau takkan terganti dan tak akan ku berpaling.”
Kata orang cinta itu ajaib, kau tak akan pernah tau kapan
ia datang juga tak pernah mengerti.
Mungkin itu benar, aku tidak
pernah menyangka sebelumnya jika akhirnya ini menjadi kenangan termanis
untukku. Dan akupun tidak pernah menyangka jika dia memiliki rasa yang sama
pula sepertiku. Cinta memang sungguh ajaib menyatukan dua orang yang berbeda.
Menyatukan perbedaan diantara aku dan dia. Karena sesungguhnya aku menyukainya
karena Allah. Dan atas ijin Allah lah aku dapat dipersatukan dengannya.
Mulai saat ini aku akan lebih menghargai cinta. Setelah
liburan berakhir aku kembali sekolah dan kembali melanjutkan perjalanan
hidupku. Cinta tidak membuat aku lupa dimana aku berpijak. Dan Rana adalah
orang yang mampu membuat semua kenangan hidupku manis seperti coklat. Terasa
seperti pelangi dalam satu kotak.
Tetapi aku dan Rana tidak berlangsung lama. Rana
memutuskan untuk mengakhiri semuanya karna ingin focus untuk ujian. Dan apa
boleh buat aku dan Rana tetap menjadi seorang sahabat yang memiliki sebuah rasa
satu sama lain. Tetap saling menjaga dan melindungi, karna itu gunanya sahabat.
Tapi atas kejadian ini aku tersadar bahwa aku mampu mengatakan perasaan yang
sesungguhnya setelah lama memendamnya untuk diriku sendiri. Aku tetap
menganggap Rana sebagai sahabat terbaikku. Dan kejadian itu akan tetap menjadi
kenangan terindah untukku.
Gelapnya terang kurindu akan bintang. Saat kau tak ada
matahari tak terasa petang. Gejolak rasa dijiwa ini tak kunjung habis. Kuhapus
rasa curiga tuk cintaimu tak tipis. Kau satu hanya kaulah yang aku butuh. Aku
tercipta hanya untukmu, memang begitu. Ini nyata bukan gombalan yang buatmu
haru. Tiap detiknya waktuku hanya ingin kau ragu. Butiran pasir berterbangan
saat kau sendiri. Hanya ada rasa gundah tak sanggup sendiri. Yakinkan hati
bahwa kita selalu bersama.

Komentar
Posting Komentar