Masih terbayang dalam benakku
sebuah awal hadirmu bersama mentari pagi. Masih tergambar jelas di kanfas
batinku. Terlukis indah serangkaian perjalanan persahabatan kita. Kau pelangi
bagiku dan aku rintik hujannya, temani mentari. Warna kita menjadi hiasan pertiwi,
meski masih ada kata-kata yang tak sempat angin sampaikan padamu. Saat embun
menetes dari kelopak mataku mengharap rentang waktu tak memisahkan kita. Kau
laksana angin dan aku hijau daunnya di taman surga. Ceritakan semua kisah
kesejukan jiwa yang kita punya. Di hati teramat dalam sejumput harapan
menyelinap perlahan inginkan kau menjadi bintang yang terus bersinar terang
membahana di gelapnya langit malam tak akan redup meski awan kan menyapu
hamparan langit dan kita terbang melayang membawa kisah persahabatan.
Aku dan Joe menunggu hingga sunset
terbenam. Ya sudah terbenam. Joe memelukku sebelum kita pulang. Dia mengatakan
bahwa jangan pernah pergi dari hidupnya, tetaplah seperti ini. Sesampainya di
rumah. Ayah dan ibu sedang membereskan pakaianku untuk ku bawa besok. Terlebih
Sebastian sangat mencemaskanku disana nanti.
“Kak
kalau sudah sampai cepat tulis email untukku atau chat aku disini, aku akan
membalas email dari kakak.”
“Iya
abas, kalau kakak sampai kakak akan tuliskan email untukmu. Jangan internetan
terus kamu, belajar yang rajin selama kakak disana. Jangan sering main. Kakak
mau kamu masuk 10 besar.”
“Siap
kak! Berarti nanti kelulusan aku kakak tidak datang?”
“Bagaimana
nanti saja, nanti kakak tulis email kalau kakak bisa datang atau tidak.”
“Sudahlah
kakak mau istirahat, cepat kau keluar.”
Selama ini Sebastian sangat
mencemaskanku, dia memang adik yang baik. Walau terkadang sikapnya membuatku
kesal dan marah. Sebastian mengibaskan tangan dan tersenyum masam “Tidak
penting sama sekali, tapi akan kuceritakan padamu nanti. Janji. Aku masih ingat
kau orang yang gampang penasaran.” Katanya cepat keluar dari kamarku.
* * *
Jogyakarta, 16 Juni 2008
Mobil yang di kendarai ayah berjalan
begitu cepat menuju bandara. Aku akan meninggalkan semuanya. sampainya di
bandara, ibu memelukku dengan erat. Sebastian memberikanku sepucuk surat. Ayah
menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ya, perlahan bayangan itu jauh dari pelupuk
mataku. Saat aku akan menaiki pesawat terlihat Joe yang sedang berjalan. Dia sendiri.
Aku mencoba mengalihkan pandanganku untuk tidak melihatnya terlalu lama. Ini
perjalananku, lagi pula pesawat yang akan aku taiki berbeda dengan pesawatnya.
Seakan aku baru naik sekitar sejam yang lalu. Kini aku menginjakan kakiku di
bandara Narita Kokusai Kuko. Aku akan tinggal bersama teman dari ibuku dulu dan
kebetulan salah satu dosen di Universitas Osaka. Aku akan mengambil jurusan
sains.
Hidup di Negara lain bukan hal yang
mudah seperti apa yang dilihat. Aku harus mempelajari bahasa jepang dengan baik
dan sopan yang pastinya halus. Setelah beberapa hari di jepang aku sangat suka
dengan Negara ini, karna lingkungannya yang bersih dan jarang sekali mobil yang
berlalu lalang. Hampir setiap orang jalan kaki. Negara yang begitu bersih dan
sesekali aku berjalan-jalan untuk melihat keindahan kota jepang. Saat ini
sedang musim gugur.
Lebih keren dari Bruno mars : hey kau lupa
atau bagaimana tidak mengirimkan email untukku..
Action : maaf
aku lupa, bagaimana keadaan ayah dan ibu ? sehat semua kan ? baru beberapa hari
aku sudah kangen sekali. Disini sedang musim gugur. Kau tau ? lebih indah dari
apa yang aku bayangkan..
Lebih keren dari Bruno mars : ya aku tau. Aku
sudah pernah kesana. Apa kau sudah baca surat yang aku berikan ?
Action :
aku lupa menaruhnya dimana. Maaf. Paling dalam mimpi. Ya kan ?? :D
Lebih keren dari Bruno mars : kau ini asal
saja. Aku tidak mau tau. Kau harus baca isi surat itu.. :/
Action :
iya nanti aku cari. Aku sedang ada kerjaan. Kau jangan internetan terus abas.
Belajar!
Off..
Aku mencari surat yang diberikan
abas padaku dan lupa kutaruh dimana surat itu. Dengan malas aku bongkar laci
dan meja belajarku. Akhirnya ku temukan dalam selipan Novelku. Ku buka, tak ada
nama di amplopnya. Ya aku sangat penasaran dengan hal apapun. Termasuk surat
itu.
“aku
baru tiba di jogyakarta hari itu.”
“ini
adalah bukan sekedar kunjungan ke rumah nenek atau apapun melainkan pindahanku
untuk menjalani hari-hariku disini. ya jogyakarta. Disebut sebagai kota
terpelajar dan sejarah. Biasanya setiap kali pesawatku mendarat di bandara aku
melakukan hal-hal yang sudah biasa rutin aku lakukan. Aku turun dari pesawat,
mengurus semua keperluanku, dengan sabar menunggu bagasiku muncul di ban
berjalan, setelah itu langsung keluar dari bandara tanpa melihat kanan-kiri.
“tapi
hari itu berbeda. Ketika aku akan keluar dari bandara aku melewati sebuah café
dan mencium aroma kopi yang enak. Ku luangkan untuk kesana. Duduk dan menikmati
kopi hangat. Untuk pertama kalinya aku tergoda untuk ke café. Tapi aku tidak
tau, apa yang membuatku ingin sekali kesini.
“café
itu memberiku rasa nyaman. Dengan beberapa meja kecil dan kursi yang lucu dan
aku mencium aroma kopi ekspreso dengan krim. Dan ketika aku menunggu disitulah
sesuatu itu terjadi.
“aku
mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan mulai melihat jadwal selama disini,
seseorang menyenggol koperku yang kuletakkan di lantai.
“maaf.
“aku
mendongak dan melihat sosok seorang gadis muda sedang membetulkan roda
kopernya. Ia tersenyum sekilas untuk meminta maaf padaku. Sebelum aku membalas
senyumnya gadis tersebut telah berbalik dan berjalan jauh dariku. Kulihat gadis
itu berjalan menuju meja kecil tepat di sudut kaca café.
“gadis
itu.. posisi duduknya.. kaca besar dekat jendela. Sinar matanya menyinari.. aku
terpesona. Untuk yang pertama kalinya. Aku bisa saja terus memandangi gadis itu
kalau saja aku tidak menerima telfon dari nenek.
“kupikir
aku tidak akan pernah bertemu kembali dengan gadis itu. Dan ternyata, entah ini
suatu kebetulan atau apalah sebutannya. Yang pasti aku bertemu dengan gadis itu
lagi.
“aku
bertemu kembali dengan gadis itu sore hari, di dekat pantai. Ia sedang duduk di
bawah teduhnya pohon kelapa. Aku menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya.
Dia tersenyum. Entah aku yang terlalu antusias atau dia lupa denganku. Padahal
kejadian saat dia menyenggol tasku itu bebrapa hari yang lalu.
“aku
mulai dekat dengannya. Dia berbagi cerita dan menceritakan tentang kejadian
saat itu. Aku merasa lega, dia masih ingat denganku. Terkadang aku sering
menyindirnya dengan godaan karna dia telah menyenggol tasku saat itu. Aku
dekat. Bahkan sangat dekat. Tapi sungguh disayangkan, saat itu aku hanya
menganggapnya sebagai sahabat dan tidak lebih. Karna aku sadar, hubungan
persahabatan kami sangat dekat dan aku tidak ingin menghancurkannya demi sebuah
cinta yang datang seperti angin.
“semakin
hari semakin menggebu-gebu rasa di hatiku. Aku tidak bisa menahan. Ya, sudah
terlalu lama aku menunggu. Tapi saat ini, saat aku dan dirinya telah jauh dan
bahkan sangat jauh. Aku memutuskan untuk jujur. Ini sebuah pengakuan, aku
mencintaimu. Ya, saat itu juga aku mencintaimu. Cinta pada pandangan pertama ?
ya mungkin saja. Maaf aku terlalu malu dan takut akan sebuah kehancuran yang
menghampiri persahabatan kita. Maafkan aku.
“saat
ini mungkin kau sedang menjalani aktivitasmu di kampus. Dulu aku salah, aku
terlalu takut untuk mengungkapkan semuanya. tapi saat ini, aku berjanji akan
tetap mencintaimu. Sampai aku kembali padamu dan sampai angin membawakan kabar
tentangmu kepadaku. Setelah beberapa tahun aku menunggu lama untuk memastikan
apa ini benar-benar cinta atau hanya sekedar rasa ?
“ya
ini cinta. Cinta yang tidak pernah tersesat. Cinta yang tau kemana dan dimana
dia akan melabuhkan hatinya. Cinta yang indah. Mulai detik ini aku mengakui
bahwa aku mencintaimu Lucy..
Ceritanya berhenti sampai disitu,
entah apakah ada kelanjutan atau mungkin memang harus berhenti. Aku tertegun
membaca surat yang diberikan Sebastian padaku. Ternyata ini surat dari Joe. Aku mencintaimu Joe. Saat ini aku sedang
memfokuskan studiku. Aku tidak ingin hanya karna sebuah rasa perjuanganku
hancur begitu saja tanpa mendapatkan hasil apa pun. Karna kalau aku dan dirinya
berjodoh kita akan dipertemukan kembali dalam suatu ikatan suci. Ya,
pernikahan. Janji suci seumur sehidup. Akan ku abdikan rasa itu untuk
pasanganku kelak.
Aku membuka laptop. Inginku kirimkan
chat pada Sebastian. Tapi sayangnya dia sedang tidak On. Dengan malas aku
menutup kembali laptop dan sesaat aku ingin mematikannya. Ya, aku beruntung
Sebastian tiba-tiba On.
Zara Mahfudoh Al-Insani : apa kau sudah temukan surat itu ?
Action :
sudah, kau membuatku menangis saja.
Zara Mahfudoh Al-Insani : kau ini seperti anak kecil saja. Katanya
kau dewasa ?
Action : kapan Joe
memberikan surat ini untukmu ?
Zara Mahfudoh Al-Insani : sudah lama, sebenarnya dari awal aku tau
semuanya. tapi karna kau orangnya penasaran dengan hal apa pun, jadi aku malas
menceritakannya kepadamu.
Action :
dasar kau ini! Heh kenapa namamu jadi wanita begitu ? kau punya pacar ? kau
tidak bilang padaku ? wanita mana yang mau denganmu ?
Zara Mahfudoh Al-Insani : sial! Aku ini lebih pandai dari pada
dirimu. Buktinya kau saja belum punya pacar. Aku lebih dulu dewasa kak.
Action :
siapa yang bilang ? wanita itu sungguh tidak melihat dirimu yang pemalas
begitu!
Zara Mahfudoh Al-Insani : sudah, pacarku menghubungiku. Nanti lagi
kak. Bye.
Tak kubalas dengan sangat kesal dia
mengatakan kalau dirinya jauh lebih pandai dariku. Dasar dari dulu tidak
berubah. Aku tersenyum saat melihat sebingkai fotoku bersama abas adikku. Ya
saat ini aku mengijinkannya untuk pacaran asal tidak mengganggu belajarnya. Aku
lupa tidak menanyakan kapan dia akan wisuda.
*
* *
Hari
ini aku ada jam pelajaran. Ny. Fujisawa memanggilku menuju ruangannya. Aku
tidak menyangka baru seminggu aku di jepang. Ny. Fujisawa memintaku untuk
menjadi asistennya. Aku benar-benar sangat senang sekali. Sesaat aku teringat Joe,
apa kabar dia ? aku kangen sekali dengannya. Hari ini aku hanya ada satu
pelajaran. Bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Tapi rasa malas mendekatiku.
Aku menfaatkan untuk internetan di depan kampus. Ya, sendiri. Teman-temanku
sibuk dengan pekerjaannya. Aku ingin sekali mengirimkan email untuk Joe dan
Gisela. Apa mereka sudah ? ah mengapa aku jadi berfikir seperti itu. Tiba-tiba
saja aku takut jika Joe benar-benar menjalani hubungan yang serius dengan
Gisela. Tapi aku tetap senang walau sering kali aku menangis tidak jelas karna
memikirkannya.
Rabu,
23 Juni 2008
From :
Joe Mahabrata Iskandar
To :
Lucy Angella F
Subject :
bagaimana keadaanmu ?
Lucy, apa kabar ? kau sehat kan ?
bagaimana dengan kuliahmu ?
Satu
email datang untukku, tak di sangka dari Joe. Aku senang. Bahkan sangat senang.
Aku pura-pura tidak mengetahui tentang surat yang dititipkannya pada Sebastian
yang di tujukan untukku. Dan saatku ingin membalas email darinya baterai
laptopku mendadak habis. Rasanya seperti baru saja makan durian tidak lama
tertimpa durian dari atas. Ku buka tas mengambil casan. Dan aku lupa untuk
membawanya. Tabiat burukku marah-marah tidak jelas muncul tiba-tiba ke
permukaan. Tiba-tiba seorang menghampiriku dan memberikan casan laptop untukku.
Dengan wajah bingung aku lihat dan perhatikan dengan seksama. Aku belum melihat
orang itu sebelumnya. Aku juga tidak sekelas dengannya. Mungkin dia berbeda
jurusan denganku.
“Kau
butuh ini kan?”
Aku semakin bingung. Diluar yang ku
kira. Dia lancar berbahasa Indonesia. Wajahnya orang jepang tapi cara dia
mengucapkan kata dalam bahasa Indonesia tidak begitu buruk.
“Kau
kuliah disini? jurusan apa?”
“Seperti
yang kau lihat sekarang. Pendidikan kedokteran.”
“Sedang
ada jam pelajaran atau bagaimana?”
“Dosenku
memintaku untuk memberikan tugas untuk teman-temanku yang lain.”
Darahku seolah mengalir
kembali dengan lancar. Melihat sosok pria tampan di depanku. Rasanya aku tidak
ingin kembali ke Indonesia. Aku suka disini. di musim gugur seperti ini. Ini
kisah baruku. Tapi fikiranku tetap saja ke Joe yang sedang berada di jerman.
“Namamu?”
Dia mengulurkan tangan ke
arahku, dengan ragu. Aku menjabat dengan membalas senyumnya.
“Lucy
Angella F. Panggil saja Lucy. Namamu?”
“Rafa
Tanubrata.”
Ia menyebutkan namanya dengan
singkat. Tanpa embel-embel apa pun. Aku berkenalan dengannya. Teman baruku. Ya,
Rafa Tanubrata. Hampir sama dengan Joe. Kalau Joe namanya Joe Mahabrata.
Ternyata ia berasal dari Indonesia. Ayah dan ibunya berasal dari Jogyakarta. Ia
mengatakan bahwa ia lebih senang berada di Indonesia dari pada jepang. Aku
semakin tertarik dengannya. Mulai dari cara dia merespon pembicaraanku,
menemaniku pergi ke toko buku, makan siang bersama di kantin, dll. Aku dan Rafa
bertemu seminggu hanya dua kali. Selasa dan Sabtu. Karna dua hari itu aku ada
jam pagi. Aku dan Rafa bertukar nomer ponsel. Ia juga tidak bosan menghubungiku
walau hanya menanyakan kabar atau mengajakku berjalan-jalan untuk menikmati
musim gugur di malam hari.
*
* *
Banyak yang berubah dariku.
Mulai dari penampilanku yang tidak biasa dari sebelumnya atau ponsel yang akan
sering aku gunakan untuk internetan jika modemku sudah habis dan belum sempat
ku isi. Mungkin ini caraku. Banyak yang berubah juga dalam kehidupanku. Mulai
dari adikku abas yang masuk SMA dan mulai serius dengan Zara. Perubahan aku
yang jarang sekali membuka email. Sudah dua tahun aku disini. dan aku belum
pulang ke Indonesia. Karna banyak sekali tugas untuk ku kerjakan. Aku juga
jarang sekali mengirimkan email untuk Gisela. Aku hanya sering chat sama abas
untuk menanyakan kabar ayah dan ibu disana. Mungkin aku yang salah dan telah
berubah. Tapi percayalah, ini bukan situasi yang membuatku nyaman. Tapi
kehadiran Rafa merubah semuanya. ya, kau sudah tau bukan apa saja perubahan
dalam diriku. Tapi tetap saja walau sudah dua tahun aku disini aku belum pernah
bisa untuk melupakan Joe. Bagaimana pun dia adalah orang yang berarti untukku
dan hidupku. Saatku membuka email banyak sekali email masuk. Terlebih dari Joe.
Selasa,
30 November 2009
From : Joe Mahabrata Iskandar
To : Lucy Angella F
Subject : bagaimana keadaanmu ?
Lucy, bagaimana keadaanmu ?
kau marah padaku ? tentang surat itu ? aku minta maaf. Aku benar-benar minta
maaf telah mengatakan semuanya padamu. Aku sudah terlalu sering membohongi
perasaanku. Memaksa tiap kali rindu ini hadir. Aku minta maaf.
Selasa, 2 Desember 2009
From : Joe Mahabrata Iskandar
To : Lucy Angella F
Subject : (none)
Sahabatku yang baik, bagaimana
keadaanmu sekarang ? ngomong-ngomong kau tidak pernah membalas emailku. Ada apa
denganmu ?
Selasa, 10 Desember 2010
From : Joe Mahabrata Iskandar
To : Lucy Angella F
Subject : (none)
Kau tau betapa susahnya aku
untuk merahasiakan tentang perasaanku padamu ? tapi kau tenang saja. Apa kau
tidak ingin menanyakan kabarku ? aku sedang sakit. Aku sendiri di apartement.
Tak ada yang menyiapkanku sarapan. Aku sudah semingu berbaring di tempat tidur. Apa kau baik-baik
saja ? aku akan sehat. Aku akan cepat sembuh lucy. Kau percaya padaku bukan ?
Minggu, 15 Desember 2010
From : Joe Mahabrata Iskandar
To : Lucy Angella F
Subject : Trims
Maafkan aku lucy, apa kau
tidak ingin membalas emailku walau hanya sekali ? aku menunggu balasan emailmu
lucy. Terima kasih lucy. Aku sangat senang mempunyai sahabat sepertimu.
Jumat, 3 Januari 2011
From : Joe Mahabrata Iskandar
To : Lucy Angella F
Subject : -
Aku merindukanmu lucy, aku
mencintaimu ..
Saat ini sudah tanggal 15
Juli. Terakhir Joe mengirimkan email untukku tanggal 3 Januari. Cukup lama
sekali aku tidak membalas email Joe. Hari ini sudah kembali musim gugur. Masih
sama seperti dua tahun kemarin. Masih tetap sama. Tak sadar air mata terjatuh
dan ..
“Apa
kau kenal dengan Joe Mahabrata? Jangan menangis. Kau ini kan gadis cantik.”
Aku mendongak ke arah Rafa
yang sedang menyentuhkan sapu tangannya pada mataku. Dengan sigap aku menyentuh
tangannya dan meletakkan di atas tas yang ia kenakan. Aku bingung dengan
pertanyaan Rafa yang tadi.
“Dia
sahabatku sejak SMA.Dia sangat baik padaku dan peduli terhadapku.”
“Apa
kau tau dia sekarang dimana?”
“Dia
melanjutkan studinya di Jerman. Tapi aku belum sempat balas email yang dia
kirimkan padaku dua tahun yang lalu.”
“Dia
sudah kembali ke Indonesia.”
“Dari
mana kau tau? Kau kenal dengannya?”
“Dia
adikku. Kami berbeda setahun dan dia memutuskan untuk meneruskan pendidikan
kedokteran di Jerman. Dia sangat mencintaimu. Dia sedang sakit, keadaannya
kritis. Dia sempat mendapatkan perawatan di Jerman tapi hanya seminggu dan dia
memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku akan pulang seminggu lagi. Apa kau
ingin ikut?”
Aku terdiam mendengar semua
ini. Apa aku yang salah mendengar atau memang ini kenyataan yang pahit. Aku
kesal dengan diriku sendiri. Aku marah. Ya aku marah pada diriku sendiri. Aku
benar-benar bodoh sekali tidak membalas email dari Joe..
*
* *
Seminggu berlalu. Aku pulang
untuk bertemu dengan Joe. Aku pulang dengan Rafa. Sekarang Joe berada di Jogyakarta.
Neneknya yang merawat dia selama disana. Tiba di bandara aku ingat kejadian
beberapa tahun lalu saat aku baru pulang dari Jepang untuk prepare kuliah
bersama ayah. Tapi saat itu ayah sedang menuju toilet. Dan aku menyempatkan ke
café untuk menikmati kopi hangat. Dan sesuatu terjadi, aku bertemu Joe disana.
Dan yang tidak disangka sampai saat ini aku dan Joe menjadi Sahabat.
Aku tiba di rumah. Abas sudah
sangat dewasa. Tingginya melebihiku. Ayah dan ibu panik melihat kepulanganku
tanpa bilang. Aku istirahat dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan
ternyata ayah dan ibu sudah mengetahuinya lebih dulu dariku. Ibu memberikanku
kotak dari Joe. Tapi belum sempat ku buka dan ku lihat apa isinya.
Aku melihat Joe berbaring
lemah dengan selang infuse dimana-mana. Sungguh menyedihkan. Rafa menjelaskan
bahwa adiknya itu jarang sekali istirahat. Joe benar-benar mengerjakan tugas
yang cukup banyak dari Dosennya. Dan hal yang membuatku senang Joe belum lulus
tapi sudah mengabdi untuk kampusnya. Dia benar-benar tidak berubah. Masih sama.
Ya masih seperti itu. Dia melirik ke arahku. Aku tersenyum dan mendekatinya. Meminta maaf atas semuanya.
terutama email yang dikirimkannya untukku tapi tak kubalas. Dia hanya
mengatakan tidak masalah. Dia membuatku menangis bahagia karenanya.
Dia memintaku untuk membawanya
ke Pantai. Dia ingin sekali kesana. Sudah lama sekali dia tidak kesana. Dengan
terpaksa aku mengiyakan. Rafa menempatkannya di kursi roda. Rafa tersenyum
padaku. Dan aku membalasnya. Aku membawanya ke tempat biasa. Dengan sadar aku
menyandarkan tubuhku di pundaknya. Dia mengusap rambutku dengan lembut.
“Aku
akan rindu sekali dengan suasana seperti ini.”
“Kau
cepat sembuh. Nanti kita akan sering kesini.”
“Lucy,
aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu. Apa kau mau menjadi pendampingku
kelak?”
Dengan wajah yang memerah aku
mengatakan iya padanya. Dia tersenyum. Dan memintaku untuk berada di
pelukannya. Cukup lama aku dan joe berada disana. Menikmati ombak yang mengenai
kakiku. Pasir pantai yang putih yang menutupi celah-celah jariku. Dan desisan
angin yang sesekali membawa debu halus ke arah wajahku. Aku menikmatinya. Ya
menikmati semuanya. saat ini aku sedang menikmati kebahagiaan yang tengah
menjemputku. Membawaku pada ruang luas untukku merasakannya. Tidak lama Rafa
menjemputku, membawakan obat untuk Joe. Dan ..
“Joe
kau harus minum obat dulu.”
Aku memutar pelan kepalanya,
dia tertidur dengan senyuman yang manis. Rafa cemas, aku gugup. Tanganku
berkeringat, wajahku memerah. Rafa membawa Joe dengan cepat ke rumah. Dan Joe
tidak bisa diselamatkan. Aku menangis dalam pelukannya. Semuanya menangis. Ya
kesedihan ini membuatku terpuruk saat itu. Joe pergi saat sunset telah terbenam
untuk yang terakhir kalinya. Setelah Joe di makamkan dan aku harus kembali ke
jepang untuk menyelesaikan S1 dengan cepat.
Aku membuka kotak yang diberikan ibu untukku. Banyak sekali batu karang.
Dan pasir pantai. Aku tidak mengerti. Ada surat yang diikat dengan pita biru di
sampingnya..
From : Joe Mahabrata Iskandar
To : Lucy Angella F
Hey, apa kabarmu sahabatku ? kau baik-baik saja kan? Bagaimana dengan
kuliahmu. Kau harus berjanji padaku harus menyelesaikan sarjanamu dengan cepat.
Aku ingin melihatmu saat kau wisuda nanti. Maafkan aku pergi meninggalkanmu
begitu cepat. Kau mengerti kan maksudku memberimu batu karang dan pasir pantai?
Atau jangan-jangan kau tidak mengerti. Dasar kau ini, seorang sarjana masa
tidak mengerti apa maksudnya. Aku tau selama di jepang kau jarang sekali
berlibur bahkan tidak pernah. Itu yang ku tau dari Rafa. Saat kau menggenggam
pasir pantai ini anggap saja kau sedang berada di pantai bersamaku dan bersama
kenangan kita. Aku tau ini bukan yang terbaik untukmu tapi hanya ini yang aku
bisa berikan untukmu. Berjanjilah padaku kau harus selalu tersenyum dan bahagia
karna aku akan melihatmu jauh lebih bahagia. Aku mencintaimu. Sampai kini
ragaku telah pergi aku akan tetap mencintaimu..
25 Desember 2013
Aku lulus. Ayah, ibu, dan abas
datang. Abas membawa pacarnya ke jepang untuk ikut menghadiri wisuda
kelulusanku. Rafa juga sama denganku. Dia telah lama kuliah disini untuk
mendapatkan gelar Doktor. Melihatnya sama dengan melihat Joe. Setelah acara
selesai. Aku dan keluargaku mengabadikannya dalam sebuah foto bersama. Aku
tersenyum melihat adikku abas terlihat gagah dengan jas hitam yang
dikenakannya. Begitu pula dengan pacarnya. Zara. Terlihat anggun dengan
sentuhan warna biru yang menutupi tubuhnya. Tidak tertinggal ayah dan ibu
sangat tampan dan cantik.
Rafa datang menghampiriku.
Ayah dan ibu tersenyum. Aku dan Rafa foto bersama. Kita lulus bersama. Dan akan
kembali ke Indonesia. Tetapi tidak dengan Rafa. Dia akan bekerja di salah satu
Rumas Sakit di jepang. Tiba-tiba saja, Rafa menyentuh tanganku dan memasangkan
cincin di jemariku. Aku kaget melihatnya. Sempat menolak tetapi ayah dan ibu
menganggukan. Mengisyaratkan bahwa aku terima itu. Dengan wajah tersipu malu
aku mengiyakan. Akhirnya aku dan semuanya mengabadikan kembali dengan sebuah
foto bersama.
Ayah dan ibu tidak langsung
pulang. Melainkan menginap untuk beberapa hari untuk menikmati musim gugur di
jepang. Rafa mengajakku untuk menikmati sentuhan bunga sakura yang sedang
berguguran. Aku seolah melihat Joe berdiri di arah sebelah sana sambil
tersenyum kepadaku. Aku tersenyum padanya. Kebahagiaan ini tidak berakhir saat
aku tau bahwa Rafa akan mempersuntingku tahun di depan di Jepang. Aku sangat
senang..
Cinta itu ajaib, kau tak akan
pernah tau kapan ia akan datang juga tak akan pernah mengerti kapan ia akan
melabuhkan hatinya untukmu. Cinta itu datang tak terduga. Tak kenal waktu dan
usia. Jangan berharap jika ia datang saat kau panggil karna ia pun tak akan
pernah menghampirimu. Saat ia mendekat padamu, kau pun tak mampu untuk
mengusirnya ataupun membuangnya begitu saja. Karna cinta itu anugerah bukan
pilihan. Cinta datang untuk membuatmu tersenyum dan menangis. Hargailah orang
yang mencintaimu saat ini. Biarkan ia berjalan begitu apa adanya. Tanpa
paksaan..

Komentar
Posting Komentar