Langit sore menutup warna
jingganya yang indah, Aku berjalan menyusuri setapak jalan yang licin karena
baru saja terguyur derasnya hujan. Terlihat sosok pemuda yang sedang duduk
terpaku di bawah rindangnya pohon. Sedang apakah ia, apa yang ia lakukan
disana. Duduk menyendiri sementara langit mulai gelap. Kuhampiri dengan sedikit
rasa cemas…
“sedang apakah kau disini?”
Pemuda itu tak menjawab apa-apa,
hanya diam melihat hamparan langit yang luas dengan warna jingganya yang indah
Tak ada balasan, tak lama datang
seorang pemuda yang menghampiri pemuda itu. Membawakannya kursi roda. Astaga
pemuda itu ternyata tidak bisa berjalan. Kasihan sekali..
“apa kau temannya?”
Tanya teman dari pemuda itu, Aku
serontak diam. Wajahku mulai memerah. Aku takut, cemas bukan main..
“bukan, Aku hanya melihat ia
sedang duduk dari tadi di bawah pohon ini. Apa kau temannya?”
Akhirnya teman dari pemuda itu
menceritakan padaku. Sangat tragis sekali mendengarnya. Aku tak dapat menahan
air mata. Pemuda itu mengalami kecelakaan sebulan yang lalu. Kedua kakinya
mengalami patah. Tulang punggungnya retak sehingga harus di Operasi saat itu.
Mungkin saat ini pemuda itu masih belum menerima kenyataan bahwa ia harus tetap
menjalani hidupnya. Apapun yang terjadi dan dengan kondisi apapun ia harus
tetap menjalani hidupnya..
Pemuda itu di tuntun oleh
temannya untuk duduk di kursi roda. Seperti orang yang stress. Hanya diam saja.
Satu kata pun tak keluar dari mulutnya. Ya tuhan kasian sekali ia..
“kau dari mana? Dimana rumahmu?”
Tanya teman dari pemuda itu
sambil berjabat memperkenalkan namanya
“namaku Raisya El-Zikry. Rumahku
di dekat kebun teh di sebelah sana” ucapku sambil menunjuk arah Rumahku
“salam kenal, namaku Fathur
Azhar. Temanku yang di kursi roda ini namanya Yusuf Al-Ghifari”
Aku menyunggingkan senyuman.
Fathur membawa pulang Yusuf untuk beristirahat. Sementara aku tetap berjalan menuju rumah. Ayah sudah
menungguku di rumah. Ku bawa langkah kaki menuju Rumah tercinta. Tempat ku dilahirkan
dan dibesarkan oleh Ayah, Ibu, dan Kakak-Kakakku dengan penuh kasih sayang..
Benar saja Ayah telah menanti
kedatanganku di depan pintu. Dan kejutan yang paling ku tunggu adalah kehadiran
Kakakku yang baru saja pulang setelah menyelesaikan S1 nya di Amerika.
“Raisya..?”
Kakak memelukku dengan erat dan Aku
berharap tak akan melepaskan pelukannya itu setelah sekian lama Kakak tidak
pulang. Hanya mengabarkan lewat telfon atau mengirim email melaluiku.
“Kakak.. Aku rindu sekali dengan
Kakak. Kakak sehat kan disana?”
“seperti yang kau lihat. Kakak
sehat bukan?”
Ayah tertawa melihatku dengan Kak
Fajri. Di dalam Ibu sudah menyiapkan makan malam untuk kami. Keluargaku kembali
lengkap karna kehadiran Kakak. Tetapi kebahagiaan ini tak sampai lama karna Kakak
akan melanjutkan program S2 nya kembali di Amerika. Tak lama lagi rumah ini
akan sepi kembali. Kakak hanya berlibur 2 minggu saja lalu akan berangkat
kembali meninggalkan Aku, Ibu, dan Ayah..
“kamu libur berapa lama?” Tanya Ayah
sambil menyantap makan malam
“hanya dua minggu yah, insya
Allah Aku akan melanjutkan program S2 ku disana”
“Fajri, kau kan tau Ayah sudah
semakin menua, Raisya sudah kelas dua SMA, dan Ibumu sudah sering
sakit-sakitan. Untuk kerja saja Ayah sudah tak mampu lagi. Bagaimana membiayai
program S2 mu ?”
Aku terdiam, merenungkan
kenyataan bahwa umur manusia tak ada yang tau. Karna itu semua sudah menjadi
rahasia Alah swt. Aku bertekad untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Membuat
mereka semua bangga padaku..
“disana Aku bekerja yah,
Alhamdulillah Aku diangkat menjadi Dosen di Fakultas tempat belajarku dahulu.
Alhamdulillah hasilnya Aku tabung untuk keperluanku disana dan untuk
melanjutkan studiku”
Ibu terlihat berkali-kali batuk.
Sesekali mengeluarkan darah. Terkadang Ayah tak sanggup untuk membawa Ibu ke
Puskesmas dekat dengan Rumahku.
“Ayah, Aku tau hal itu. Aku juga
paham dengan kondisi yang seperti ini. Maka dari itu Aku ingin merubah keadaan.
Aku ingin membalas semua yang telah Ayah dan Ibu berikan padaku. Aku ingin
mewujudkan cita-cita Raisya yang ingin ke perguruan tinggi”
Aku pergi meninggalkan Ruang
Makan untuk menemui Ibu di dapur. Tak tega melihat Ibu sakit seperti ini. Ibu
seperti ini sejak Kakak pertamaku meninggal. Malam itu Ibu meminta Kak Fitri
untuk pergi mencarikan Ayah. Dahulu Ayah sering mabuk-mabukkan. Meminum-minuman
keras, pulang malam bahkan pernah sampai tak pulang. Ibu menunggu cemas di depan
pintu menunggu kehadiran Ayah. Betapa setianya Ibu terhadap Ayah. Betapa
sayangnya Ibu terhadap Ayah. Tetapi Ayah seperti itu, bersikap acuh tak acuh.
Bahkan saat meninggalnya Kak Fitri Ayah tak ada. Saat itu Kak Fajri masih
menyelesaikan Skripsinya di Amerika. Betapa terpukulnya Ibu pada saat itu.
Tetapi Ibu tetap berdoa di sepanjang malamnya. Meminta kepada yang maha kuasa
untuk memberikan hidayah kepada Ayah agar Ayah sadar bahwa Ibu inginkan Ayah
untuk menjadi Imam dan penuntunnya di Surga kelak.
Saat itu Ayah sadar. Ayah tak
lagi mabuk-mabukkan, tak lagi pulang larut malam, Ayah sudah berubah menjadi Ayah
yang baik. Karna pada saat itu Ayah sadar kalau Ibu sering sakit-sakitan.
Aku bawa Ibu untuk beristirahat
di kamar. Sementara Kak Fajri masih berbincang dengan Ayah tentang
keberangkatannya minggu depan ke Amerika untuk melanjutkan program S2 nya
disana..
“Raisya?”
Ayah memanggilku untuk
membereskan meja makan dan mencuci tumpukan piring yang kotor. Kak Fajri
menemani Ibu di kamar.
“Fajri kalau ibu sudah tak ada,
maafkan ibu ya nak. Ibu minta jaga adikmu Raisya. Jaga Ayahmu nak. Jangan
sampai seperti dahulu lagi. Kalau ibu tak ada Ibu mau kalian merelakan
kepergian Ibu. Jangan ada tangisan di rumah ini. Biarkan Ibu pergi dengan
tenang”
Kak Fajri marah karna perkataan
Ibu yang seperti itu..
“Ibu tidak boleh bicara seperti
itu. Kalau Aku sampai sana nanti Aku akan carikan uang yang banyak untuk
berobat Ibu. Aku mau melihat Ibu sembuh. Dan kita akan kumpul bersama lagi
seperti dahulu. Aku, Raisya, Ayah, dan Ibu”
Kak Fajri memeluk Ibu dengan erat
seperti saat memelukku saat kedatangannya sore tadi. seakan malam ini semua
larut dalam keheningan dan kesedihan. Waktu semakin larut. Hingga membawaku
pada mimpi yang indah. Ketika semua Keluargaku bersatu kembali dalam
kebahagiaan yang abadi
*
* *
Kicauan burung diluar sana
membangunkanku pada mimpi indahku semlam. Kubuka kamar Kak Fajri dan ternyata
sudah tak ada. Ibu sudah kembali pulih. Mungkin Ibu kurang istirahat.
Kutanyakan pada Ayah. Hanya mengatakan bahwa Kak Fajri sedang di kebun teh. Aku
pun menyusul kesana kembali menyusuri jalanan yang licin. Berharap bertemu
kembali dengan teman baruku itu.
Benar saja ia sudah duduk disana
tapi kali ini ia tidak sendiri melainkan ada Fathur yang menemaninya.
“kamu?” Tanya Fathur padaku
dengan wajah bingung
“kamu Fathur kan yang kemarin,
dan ini Yusuf temanmu itu..”
“kamu Raisya kan?”
Kami seperti sudah saling
mengenal lama bahkan lebih lama. Saat itu Aku mulai memperhatikan Yusuf.
Wajahnya seperti Kak Fajri. Hampir sama. Aku mencoba berbicara dengan Yusuf.
Berharap dia akan meresponnya. Karna mendengar cerita dari Fathur , Yusuf tidak
pernah berbicara semenjak kecelakaan itu.
“namaku Raisya, namamu Yusuf kan?
Nama yang indah, setampan orangnya.. apakah kamu tau? Bahwa hidup itu indah
jika kita mensyukurinya. Terasa menyenangkan jika kita senantiasa selalu meminta kepadaNya. Terkadang ada saatnya
dimana seseorang akan mengalami kejenuhan yang luar biasa. Dimana ia tidak mau
menerima kenyataan hidup. Yusuf, ini hidupmu bukan hidupku atau siapa pun.
Cobalah kamu bangkit dari keterpurukan ini. Jangan biarkan dirimu terjatuh dan
terjatuh. Cobalah untuk menerima kenyataan ini meskipun pahit”
Fathur menoleh ke arah ku.
Beberapa detik kemudian Yusuf merespon pembicaraanku
“untukmu mudah berkata seperti
itu tetapi tidak untukku”
Aku dan Fathur kaget mendengar
perkataan Yusuf. Setelah sekian lama ia tidak berbicara dan sekarang ia mau
mengatakannya
“tidak, itu tidak benar. Hidup
ini indah. Percayalah padaku. Kau akan mengecap dan merasakan kenikmatan hidup
ini”
“benar apa yang dikatakan Raisya,
kamu pasti bisa Yusuf”
Aku hampir lupa kalau Aku akan
menyusul Kakak ke kebun teh. Aku segera bergegas meninggalkan Fathur dan Yusuf.
Kembali menyusuri jalanan kecil di tengah-tengah kebun teh. Terlihat Kak Fajri
sedang duduk termenung di batu besar..
“Kakak”
“ada apa?”
“Kakak sedang apa disini? mari
kita pulang.. bukankah Kakak pulang untuk berlibur. Kasian Ayah tak ada teman
berbincang”
“Kakak ingin sendiri dulu untuk
sekarang”
“Kakak akan tetap berangkat ke
Amerika?”
Kak Fajri hanya diam, tertegun.
Mungkin saat ini ia sedang dilema. Memilih untuk tetap tinggal bersama kami
disini atau kembali ke Amerika untuk mengejar impiannya lalu pulang dan kami
akan berkumpul bersama seperti mimpiku semalam
“Kakak akan tetap pergi, dan Kakak
janji padamu. Bahwa Kakak akan kembali pulang dan kita akan berkumpul bersama
kembali. Kakak janji. Kakak akan membawa uang banyak untuk menyembuhkan Ibu.
Kakak janji Raisya”
Kak Fajri memelukku dengan erat
sambil menangis. Ya tuhan sakit sekali rasanya. Mampukah aku bertahan untuk dua
tahun lagi, ataukah semua ini akan berakhir dan tidak akan terjadi kebahagiaan
yang sesungguhnya.
“Kakak harus janji padaku akan
kembali pulang jika S2 Kakak telah usai”
“Kakak janji Raisya, Kakak janji
padamu. Kakak tepatkan janji Kakak ini padamu”
*
* *
Aku dan Kak Fajri pulang. Waktu
berjalan begitu cepat. Tak terasa hari ini Kak Fajri kembali berangkat ke
Amerika. Berharap waktu akan berjalan dengan cepat agar Kakak dapat pulang dengan
cepat. Ayah hanya diam melihat kepergian Kak Fajri. Ibu terlihat sangat sehat
bahkan jauh lebih sehat. Kak Fajri mencium punggung tangan Ayah dan Ibu.
Mencium pipiku dan memelukku erat. Mungkin kalau Kak Fitri ada disini akan
terasa lengkap. Kak Fitri sudah di Surga bersama-Nya sudah bahagia bersama-Nya.
Mungkin juga Kak Fitri sedang melihat Kak Fajri yang akan berpamitan untuk
kembali ke Amerika…
Waktu bagaikan pedang, sudah
setahun dari kepergian Kak Fajri. Rumah sudah berubah. Ayah semakin menua, Ibu
kembali sakit-sakitan. Aku sudah lulus SMA dan mendapat Beasiswa untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, tidak bersama Kak Fajri cukup disini
dekat dengan rumah. Dan Yusuf sudah sembuh dan dapat berjalan bahkan sudah
sering mengunjungi Rumahku. Terlebih Fathur, banyak sekali perubahan pada
dirinya. Mulai dari penampilan dan rambut barunya yang terlihat lebih rapih.
Kalau Yusuf sudah dari awal terlihat rapih. Aku sangat senang mereka sering
mengunjungi Rumahku. Berbincang dengan Ayah dan Ibuku.
Sebulan dari kesembuhan Yusuf..
Aku mendapat kabar dari Fathur
kalau Yusuf koma karna kecelakaan yang di alami nya. Dia koma hampir dua
minggu. Dan yang lebih menyakitkan dia tidak akan bertahan lama karna jantung
Yusuf mengalami kebocoran karna tertindas oleh mobil yang mengangkut penumpang.
Hatiku seperti tertusuk oleh puluhan pedang. Sakit sekali. Saat itu Fathur
berbicara padaku dan mengatakan bahwa ia suka padaku. Dia menginginkanku untuk
menjadi pacarnya. Dan saat itu pula aku memiliki perasaan terhadap Yusuf. Saat
pertama kali bertemu, saat ia kembali berbicara setelah sekian lama tak
berbicara, dan saat ia kembali pulih, sering mengunjungi Rumahku, mengajakku ke
kebun teh untuk bermain, dan saat itu perasaan itu hadir begitu saja. Tanpa ku
undang. Ia hadir dengan sendirinya dan tumbuh dengan sendirinya..
Sudah hampir tiga minggu Yusuf
terbaring koma di Rumah Sakit..
“Raisya?”
“ada apa Fathur?”
“bagaimana dengan…..?”
Ponselku berdering, dan ………………………
Aku mendapat kabar bahwa Ibuku
meninggal, aku panik, cemas, tak kuasa menahan air mata. Aku pun langsung
meninggalkan Rumah Sakit untuk pulang ke Rumah. Fathur yang mengantarkanku.
Sesampainya dirumah. Bendera kuning terpasang di depan Rumahku. Terlihat banyak
sekali orang yang sedang mengaji. Ayahku termenung di samping jenazah Ibuku.
Terlihat Ibu seperti tertidur dengan senyum yang manis. Aku teringat Kak Fajri,
apakah ia sudah tau tentang kepergian ibu ini, Aku tidak mau membuat Kuliahnya
terganggu. Lebih baik Kak Fajri tau sewaktu pulang nanti..
Aku duduk di samping jenazah Ibu,
seperti dahulu Ibu menemaniku sebelum tidur, membacakan dongeng untukku,
membuatkanku susu, hingga aku tertidur lelap. Aku harus mengikhlaskan Ibu menghadap
kepada-Nya..
Seminggu berlalu dari kepergian
Ibu, sudah sebulan Yusuf koma..
Ya tuhan jangan ambil dia dariku,
Aku ingin mendengar bahwa ia menyayangiku dan berjanji untuk menjadi Imam dalam
keluargaku kelak. Menjadi seorang Ayah untuk anak-anakku kelak..
“Raisya?”
“iya ada apa Fathur?”
“Aku mau dengar jawaban kamu,
kamu mau atau tidak menjadi pacarku?”
Aku terdiam, memikirkan apa Aku
harus memaksa perasaan yang bukan tercipta dariku sendiri. Mencintai dan
dicintai. Dua pilihan yang sulit. Tetapi Aku tetap memilih dicintai. Dokter
yang menjaga Yusuf selama dia koma, berlari menuju ruang kamar Yusuf. Aku panik,
cemas, dan benar-benar ketakutan. Fathur mendekapku dengan kehangatan yang
tulus. Orang tua Yusuf menangis sewaktu mendengar bahwa Yusuf kritis dan
jantungnya tak lagi mampu bertahan. Dokter menyarankan untuk segera mencari
pendonor jantung untuk Yusuf. Kalau tidak Yusuf akan meninggalkan karna tak
terselamatkan.
“pak Yusuf pak, Yusuf…”
Jerit tangis kedua orang tua
Yusuf melihat anaknya terbaring kembali untuk kedua kalinya
“dok, apakah saya boleh
mendonorkan jantung saya untuk teman saya ini?” Tanya Fathur yang membuatku
kesal padanya
“tidak bisa, hanya orang yang
meninggal yang bisa mendonorkan jantungnya untuk orang lain”
“Raisya, Aku benar-benar
mencintaimu, menyayangimu, tak perlu kau balas cintaku. Karna Aku hanya ingin
tetap tinggal denganmu” ucap Fathur padaku, Aku memeluknya erat seakan tak akan
pernah Aku lepaskan kembali pelukan itu.
Pukul 22.00
“dok saya pendonor jantung untuk
pasien yang bernama Yusuf, 5 menit lagi saya tunggu di belakang Rumah Sakit
karna jantung ini tidak akan bertahan lama”
Telfon terputus dengan sigap
Dokter yang menjaga Yusuf lari menuju halaman belakang Rumah Sakit. Dan
terlihat Fathur terbaring penuh darah karna menabrakan dirinya ke Truk yang
melintas. Dengan sigap Dokter menyuruh asistennya untuk membawa Fathur menuju
ruang Operasi untuk mendonorkan jantungnya untuk Yusuf. Betapa kaget saatku
melihat perjuangan Fathur untuk Yusuf. Dan ku ambil kertas yang di genggam
Fathur…
Yusuf sahabatku, maafkan aku karna aku tak
bisa menjaga dirimu seperti janjiku saat itu. Yusuf sahabatku, berharap aku
akan tinggal abadi bersama dengan jiwa dan ragamu. Yusuf sahabatku, ijinkan aku
mencintai Raisya dalam diamku ini. Maafkan aku. Pesan untukmu, tetaplah menjadi
sahabatku yang terbaik. Jagalah Raisya. Cintai dan sayangi ia seperti aku
menyayangimu layaknya adikku sendiri. Saat ini kau sedang menjalani hidupmu
yang baru, bahagialah bersamanya, karna aku akan tetap abadi bersamamu dan
merasakan cinta darimu dan darinya..
Aku menangis saat membaca surat
itu. Fathur benar-benar sahabat Yusuf yang terbaik..
Setahun kemudian …
Saat ini Aku menjalani lembaran
baruku, Ayah kembali tersenyum dan Aku merasakan dicintai oleh dua orang dalam
satu raga. Saat ini, saat Aku memeluknya seakan Aku memeluk dua orang
sekaligus. Saat ini, saat Aku bertatap mata seakan ada dua orang yang berada di
hadapanku. Dan saat ini, saat Aku menggenggam tangan seakan ada dua orang yang
menggenggam erat tanganku..
Ya tuhan inilah hidupmu, inilah skenario
terbaik yang pernah ku rasakan. Terima kasih Ya Tuhan engkau telah
mengembalikan kembali senyum itu. Senyum yang dahulu hilang..
“assalamualaikum.. Ayah, Ibu,
Raisya, Kakak pulang”
“waalaikumussalam. Kakak” Aku
mendekap tubuh Kak Fajri dengan erat dan penuh tangisan
“Ayah sama Ibu mana?” Tanya Kak
Fajri padaku “Raisya Kakak nanya, Ayah dan Ibu mana?”
“Ayah di makam Ibu, Ibu meninggal
Kak setahun yang lalu” Aku menangis
“kamu bohong kan! Jawab jujur
Raisya! Ibu mana!”
“Kakak, Ibu udah pergi sama Allah
Kak, Kakak harus ikhlas”
Kak Fajri berlari menuju kebun
teh, karena di dekat situlah Ibu di makamkan. Terlihat Ayah yang sedang
mengusap batu nisan Ibu.
“Ibuuuuuuuuuu”
“sudah Fajri sudah, biarkan Ibu
pergi dengan tenang”
“Ibu, Fajri membawa calon istri
Fajri bu, Fajri minta restu dari Ibu”
“Ibumu pasti merestui
pernikahanmu dengan calon istrimu kelak Fajri. Mari kita pulang”
Ayah dan Kak Fajri meninggalkan
makam Ibu. Saat itu Kak Fajri menggelar pernikahan di masjid terdekat. Ayah
tersenyum dan aku saat ini bersama dua orang yang menyayangiku dalam satu raga.
Dan inilah kehidupan yang penuh dengan misteri. Karna kehidupan ini milik-Nya.
Dari-Nya kita berasal. Karna-Nya kita bahagia. Biarkan kebahagiaan ini tetap
disini. bersama kami. kepada sang pengatur kehidupan berikanlah kehidupan yang
indah untuk kami disini. kepada sang pengatur hati. Karna hati-hati ini adalah
milik-Mu dan akan kembali pada-Mu
“Hiduplah
dengan Hidupmu seiring dengan lingkar waktu”

Komentar
Posting Komentar