Langsung ke konten utama

Karna Kamu Dia


Langit sore menutup warna jingganya yang indah, Aku berjalan menyusuri setapak jalan yang licin karena baru saja terguyur derasnya hujan. Terlihat sosok pemuda yang sedang duduk terpaku di bawah rindangnya pohon. Sedang apakah ia, apa yang ia lakukan disana. Duduk menyendiri sementara langit mulai gelap. Kuhampiri dengan sedikit rasa cemas…

“sedang apakah kau disini?”

Pemuda itu tak menjawab apa-apa, hanya diam melihat hamparan langit yang luas dengan warna jingganya yang indah

“apa kau sedang menunggu seseorang?”



Tak ada balasan, tak lama datang seorang pemuda yang menghampiri pemuda itu. Membawakannya kursi roda. Astaga pemuda itu ternyata tidak bisa berjalan. Kasihan sekali..

“apa kau temannya?”

Tanya teman dari pemuda itu, Aku serontak diam. Wajahku mulai memerah. Aku takut, cemas bukan main..

“bukan, Aku hanya melihat ia sedang duduk dari tadi di bawah pohon ini. Apa kau temannya?”

Akhirnya teman dari pemuda itu menceritakan padaku. Sangat tragis sekali mendengarnya. Aku tak dapat menahan air mata. Pemuda itu mengalami kecelakaan sebulan yang lalu. Kedua kakinya mengalami patah. Tulang punggungnya retak sehingga harus di Operasi saat itu. Mungkin saat ini pemuda itu masih belum menerima kenyataan bahwa ia harus tetap menjalani hidupnya. Apapun yang terjadi dan dengan kondisi apapun ia harus tetap menjalani hidupnya..
Pemuda itu di tuntun oleh temannya untuk duduk di kursi roda. Seperti orang yang stress. Hanya diam saja. Satu kata pun tak keluar dari mulutnya. Ya tuhan kasian sekali ia..

“kau dari mana? Dimana rumahmu?”

Tanya teman dari pemuda itu sambil berjabat memperkenalkan namanya

“namaku Raisya El-Zikry. Rumahku di dekat kebun teh di sebelah sana” ucapku sambil menunjuk arah Rumahku

“salam kenal, namaku Fathur Azhar. Temanku yang di kursi roda ini namanya Yusuf Al-Ghifari”

Aku menyunggingkan senyuman. Fathur membawa pulang Yusuf untuk beristirahat. Sementara aku  tetap berjalan menuju rumah. Ayah sudah menungguku di rumah. Ku bawa langkah kaki menuju Rumah tercinta. Tempat ku dilahirkan dan dibesarkan oleh Ayah, Ibu, dan Kakak-Kakakku dengan penuh kasih sayang..

Benar saja Ayah telah menanti kedatanganku di depan pintu. Dan kejutan yang paling ku tunggu adalah kehadiran Kakakku yang baru saja pulang setelah menyelesaikan S1 nya di Amerika.
“Raisya..?”

Kakak memelukku dengan erat dan Aku berharap tak akan melepaskan pelukannya itu setelah sekian lama Kakak tidak pulang. Hanya mengabarkan lewat telfon atau mengirim email melaluiku.

“Kakak.. Aku rindu sekali dengan Kakak. Kakak sehat kan disana?”

“seperti yang kau lihat. Kakak sehat bukan?”

Ayah tertawa melihatku dengan Kak Fajri. Di dalam Ibu sudah menyiapkan makan malam untuk kami. Keluargaku kembali lengkap karna kehadiran Kakak. Tetapi kebahagiaan ini tak sampai lama karna Kakak akan melanjutkan program S2 nya kembali di Amerika. Tak lama lagi rumah ini akan sepi kembali. Kakak hanya berlibur 2 minggu saja lalu akan berangkat kembali meninggalkan Aku, Ibu, dan Ayah..

“kamu libur berapa lama?” Tanya Ayah sambil menyantap makan malam

“hanya dua minggu yah, insya Allah Aku akan melanjutkan program S2 ku disana”

“Fajri, kau kan tau Ayah sudah semakin menua, Raisya sudah kelas dua SMA, dan Ibumu sudah sering sakit-sakitan. Untuk kerja saja Ayah sudah tak mampu lagi. Bagaimana membiayai program S2 mu ?”

Aku terdiam, merenungkan kenyataan bahwa umur manusia tak ada yang tau. Karna itu semua sudah menjadi rahasia Alah swt. Aku bertekad untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Membuat mereka semua bangga padaku..

“disana Aku bekerja yah, Alhamdulillah Aku diangkat menjadi Dosen di Fakultas tempat belajarku dahulu. Alhamdulillah hasilnya Aku tabung untuk keperluanku disana dan untuk melanjutkan studiku”

Ibu terlihat berkali-kali batuk. Sesekali mengeluarkan darah. Terkadang Ayah tak sanggup untuk membawa Ibu ke Puskesmas dekat dengan Rumahku.

“Ayah, Aku tau hal itu. Aku juga paham dengan kondisi yang seperti ini. Maka dari itu Aku ingin merubah keadaan. Aku ingin membalas semua yang telah Ayah dan Ibu berikan padaku. Aku ingin mewujudkan cita-cita Raisya yang ingin ke perguruan tinggi”

Aku pergi meninggalkan Ruang Makan untuk menemui Ibu di dapur. Tak tega melihat Ibu sakit seperti ini. Ibu seperti ini sejak Kakak pertamaku meninggal. Malam itu Ibu meminta Kak Fitri untuk pergi mencarikan Ayah. Dahulu Ayah sering mabuk-mabukkan. Meminum-minuman keras, pulang malam bahkan pernah sampai tak pulang. Ibu menunggu cemas di depan pintu menunggu kehadiran Ayah. Betapa setianya Ibu terhadap Ayah. Betapa sayangnya Ibu terhadap Ayah. Tetapi Ayah seperti itu, bersikap acuh tak acuh. Bahkan saat meninggalnya Kak Fitri Ayah tak ada. Saat itu Kak Fajri masih menyelesaikan Skripsinya di Amerika. Betapa terpukulnya Ibu pada saat itu. Tetapi Ibu tetap berdoa di sepanjang malamnya. Meminta kepada yang maha kuasa untuk memberikan hidayah kepada Ayah agar Ayah sadar bahwa Ibu inginkan Ayah untuk menjadi Imam dan penuntunnya di Surga kelak.

Saat itu Ayah sadar. Ayah tak lagi mabuk-mabukkan, tak lagi pulang larut malam, Ayah sudah berubah menjadi Ayah yang baik. Karna pada saat itu Ayah sadar kalau Ibu sering sakit-sakitan.
Aku bawa Ibu untuk beristirahat di kamar. Sementara Kak Fajri masih berbincang dengan Ayah tentang keberangkatannya minggu depan ke Amerika untuk melanjutkan program S2 nya disana..
“Raisya?”

Ayah memanggilku untuk membereskan meja makan dan mencuci tumpukan piring yang kotor. Kak Fajri menemani Ibu di kamar.

“Fajri kalau ibu sudah tak ada, maafkan ibu ya nak. Ibu minta jaga adikmu Raisya. Jaga Ayahmu nak. Jangan sampai seperti dahulu lagi. Kalau ibu tak ada Ibu mau kalian merelakan kepergian Ibu. Jangan ada tangisan di rumah ini. Biarkan Ibu pergi dengan tenang”

Kak Fajri marah karna perkataan Ibu yang seperti itu..

“Ibu tidak boleh bicara seperti itu. Kalau Aku sampai sana nanti Aku akan carikan uang yang banyak untuk berobat Ibu. Aku mau melihat Ibu sembuh. Dan kita akan kumpul bersama lagi seperti dahulu. Aku, Raisya, Ayah, dan Ibu”

Kak Fajri memeluk Ibu dengan erat seperti saat memelukku saat kedatangannya sore tadi. seakan malam ini semua larut dalam keheningan dan kesedihan. Waktu semakin larut. Hingga membawaku pada mimpi yang indah. Ketika semua Keluargaku bersatu kembali dalam kebahagiaan yang abadi

* * *
Kicauan burung diluar sana membangunkanku pada mimpi indahku semlam. Kubuka kamar Kak Fajri dan ternyata sudah tak ada. Ibu sudah kembali pulih. Mungkin Ibu kurang istirahat. Kutanyakan pada Ayah. Hanya mengatakan bahwa Kak Fajri sedang di kebun teh. Aku pun menyusul kesana kembali menyusuri jalanan yang licin. Berharap bertemu kembali dengan teman baruku itu.

Benar saja ia sudah duduk disana tapi kali ini ia tidak sendiri melainkan ada Fathur yang menemaninya.

“kamu?” Tanya Fathur padaku dengan wajah bingung

“kamu Fathur kan yang kemarin, dan ini Yusuf temanmu itu..”

“kamu Raisya kan?”

Kami seperti sudah saling mengenal lama bahkan lebih lama. Saat itu Aku mulai memperhatikan Yusuf. Wajahnya seperti Kak Fajri. Hampir sama. Aku mencoba berbicara dengan Yusuf. Berharap dia akan meresponnya. Karna mendengar cerita dari Fathur , Yusuf tidak pernah berbicara semenjak kecelakaan itu.

“namaku Raisya, namamu Yusuf kan? Nama yang indah, setampan orangnya.. apakah kamu tau? Bahwa hidup itu indah jika kita mensyukurinya. Terasa menyenangkan jika kita senantiasa selalu  meminta kepadaNya. Terkadang ada saatnya dimana seseorang akan mengalami kejenuhan yang luar biasa. Dimana ia tidak mau menerima kenyataan hidup. Yusuf, ini hidupmu bukan hidupku atau siapa pun. Cobalah kamu bangkit dari keterpurukan ini. Jangan biarkan dirimu terjatuh dan terjatuh. Cobalah untuk menerima kenyataan ini meskipun pahit”

Fathur menoleh ke arah ku. Beberapa detik kemudian Yusuf merespon pembicaraanku
“untukmu mudah berkata seperti itu tetapi tidak untukku”

Aku dan Fathur kaget mendengar perkataan Yusuf. Setelah sekian lama ia tidak berbicara dan sekarang ia mau mengatakannya

“tidak, itu tidak benar. Hidup ini indah. Percayalah padaku. Kau akan mengecap dan merasakan kenikmatan hidup ini”

“benar apa yang dikatakan Raisya, kamu pasti bisa Yusuf”

Aku hampir lupa kalau Aku akan menyusul Kakak ke kebun teh. Aku segera bergegas meninggalkan Fathur dan Yusuf. Kembali menyusuri jalanan kecil di tengah-tengah kebun teh. Terlihat Kak Fajri sedang duduk termenung di batu besar..

“Kakak”

“ada apa?”

“Kakak sedang apa disini? mari kita pulang.. bukankah Kakak pulang untuk berlibur. Kasian Ayah tak ada teman berbincang”

“Kakak ingin sendiri dulu untuk sekarang”

“Kakak akan tetap berangkat ke Amerika?”

Kak Fajri hanya diam, tertegun. Mungkin saat ini ia sedang dilema. Memilih untuk tetap tinggal bersama kami disini atau kembali ke Amerika untuk mengejar impiannya lalu pulang dan kami akan berkumpul bersama seperti mimpiku semalam

“Kakak akan tetap pergi, dan Kakak janji padamu. Bahwa Kakak akan kembali pulang dan kita akan berkumpul bersama kembali. Kakak janji. Kakak akan membawa uang banyak untuk menyembuhkan Ibu. Kakak janji Raisya”

Kak Fajri memelukku dengan erat sambil menangis. Ya tuhan sakit sekali rasanya. Mampukah aku bertahan untuk dua tahun lagi, ataukah semua ini akan berakhir dan tidak akan terjadi kebahagiaan yang sesungguhnya.

“Kakak harus janji padaku akan kembali pulang jika S2 Kakak telah usai”
“Kakak janji Raisya, Kakak janji padamu. Kakak tepatkan janji Kakak ini padamu”

* * *
Aku dan Kak Fajri pulang. Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa hari ini Kak Fajri kembali berangkat ke Amerika. Berharap waktu akan berjalan dengan cepat agar Kakak dapat pulang dengan cepat. Ayah hanya diam melihat kepergian Kak Fajri. Ibu terlihat sangat sehat bahkan jauh lebih sehat. Kak Fajri mencium punggung tangan Ayah dan Ibu. Mencium pipiku dan memelukku erat. Mungkin kalau Kak Fitri ada disini akan terasa lengkap. Kak Fitri sudah di Surga bersama-Nya sudah bahagia bersama-Nya. Mungkin juga Kak Fitri sedang melihat Kak Fajri yang akan berpamitan untuk kembali ke Amerika…

Waktu bagaikan pedang, sudah setahun dari kepergian Kak Fajri. Rumah sudah berubah. Ayah semakin menua, Ibu kembali sakit-sakitan. Aku sudah lulus SMA dan mendapat Beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, tidak bersama Kak Fajri cukup disini dekat dengan rumah. Dan Yusuf sudah sembuh dan dapat berjalan bahkan sudah sering mengunjungi Rumahku. Terlebih Fathur, banyak sekali perubahan pada dirinya. Mulai dari penampilan dan rambut barunya yang terlihat lebih rapih. Kalau Yusuf sudah dari awal terlihat rapih. Aku sangat senang mereka sering mengunjungi Rumahku. Berbincang dengan Ayah dan Ibuku.

Sebulan dari kesembuhan Yusuf..

Aku mendapat kabar dari Fathur kalau Yusuf koma karna kecelakaan yang di alami nya. Dia koma hampir dua minggu. Dan yang lebih menyakitkan dia tidak akan bertahan lama karna jantung Yusuf mengalami kebocoran karna tertindas oleh mobil yang mengangkut penumpang. Hatiku seperti tertusuk oleh puluhan pedang. Sakit sekali. Saat itu Fathur berbicara padaku dan mengatakan bahwa ia suka padaku. Dia menginginkanku untuk menjadi pacarnya. Dan saat itu pula aku memiliki perasaan terhadap Yusuf. Saat pertama kali bertemu, saat ia kembali berbicara setelah sekian lama tak berbicara, dan saat ia kembali pulih, sering mengunjungi Rumahku, mengajakku ke kebun teh untuk bermain, dan saat itu perasaan itu hadir begitu saja. Tanpa ku undang. Ia hadir dengan sendirinya dan tumbuh dengan sendirinya..
Sudah hampir tiga minggu Yusuf terbaring koma di Rumah Sakit..

“Raisya?”

“ada apa Fathur?”

“bagaimana dengan…..?”

Ponselku berdering, dan ………………………

Aku mendapat kabar bahwa Ibuku meninggal, aku panik, cemas, tak kuasa menahan air mata. Aku pun langsung meninggalkan Rumah Sakit untuk pulang ke Rumah. Fathur yang mengantarkanku. Sesampainya dirumah. Bendera kuning terpasang di depan Rumahku. Terlihat banyak sekali orang yang sedang mengaji. Ayahku termenung di samping jenazah Ibuku. Terlihat Ibu seperti tertidur dengan senyum yang manis. Aku teringat Kak Fajri, apakah ia sudah tau tentang kepergian ibu ini, Aku tidak mau membuat Kuliahnya terganggu. Lebih baik Kak Fajri tau sewaktu pulang nanti..
Aku duduk di samping jenazah Ibu, seperti dahulu Ibu menemaniku sebelum tidur, membacakan dongeng untukku, membuatkanku susu, hingga aku tertidur lelap. Aku harus mengikhlaskan Ibu menghadap kepada-Nya..

Seminggu berlalu dari kepergian Ibu, sudah sebulan Yusuf koma..

Ya tuhan jangan ambil dia dariku, Aku ingin mendengar bahwa ia menyayangiku dan berjanji untuk menjadi Imam dalam keluargaku kelak. Menjadi seorang Ayah untuk anak-anakku kelak..
“Raisya?”

“iya ada apa Fathur?”

“Aku mau dengar jawaban kamu, kamu mau atau tidak menjadi pacarku?”

Aku terdiam, memikirkan apa Aku harus memaksa perasaan yang bukan tercipta dariku sendiri. Mencintai dan dicintai. Dua pilihan yang sulit. Tetapi Aku tetap memilih dicintai. Dokter yang menjaga Yusuf selama dia koma, berlari menuju ruang kamar Yusuf. Aku panik, cemas, dan benar-benar ketakutan. Fathur mendekapku dengan kehangatan yang tulus. Orang tua Yusuf menangis sewaktu mendengar bahwa Yusuf kritis dan jantungnya tak lagi mampu bertahan. Dokter menyarankan untuk segera mencari pendonor jantung untuk Yusuf. Kalau tidak Yusuf akan meninggalkan karna tak terselamatkan.

“pak Yusuf pak, Yusuf…”

Jerit tangis kedua orang tua Yusuf melihat anaknya terbaring kembali untuk kedua kalinya

“dok, apakah saya boleh mendonorkan jantung saya untuk teman saya ini?” Tanya Fathur yang membuatku kesal padanya

“tidak bisa, hanya orang yang meninggal yang bisa mendonorkan jantungnya untuk orang lain”

“Raisya, Aku benar-benar mencintaimu, menyayangimu, tak perlu kau balas cintaku. Karna Aku hanya ingin tetap tinggal denganmu” ucap Fathur padaku, Aku memeluknya erat seakan tak akan pernah Aku lepaskan kembali pelukan itu.

Pukul 22.00

“dok saya pendonor jantung untuk pasien yang bernama Yusuf, 5 menit lagi saya tunggu di belakang Rumah Sakit karna jantung ini tidak akan bertahan lama”

Telfon terputus dengan sigap Dokter yang menjaga Yusuf lari menuju halaman belakang Rumah Sakit. Dan terlihat Fathur terbaring penuh darah karna menabrakan dirinya ke Truk yang melintas. Dengan sigap Dokter menyuruh asistennya untuk membawa Fathur menuju ruang Operasi untuk mendonorkan jantungnya untuk Yusuf. Betapa kaget saatku melihat perjuangan Fathur untuk Yusuf. Dan ku ambil kertas yang di genggam Fathur…

          Yusuf sahabatku, maafkan aku karna aku tak bisa menjaga dirimu seperti janjiku saat itu. Yusuf sahabatku, berharap aku akan tinggal abadi bersama dengan jiwa dan ragamu. Yusuf sahabatku, ijinkan aku mencintai Raisya dalam diamku ini. Maafkan aku. Pesan untukmu, tetaplah menjadi sahabatku yang terbaik. Jagalah Raisya. Cintai dan sayangi ia seperti aku menyayangimu layaknya adikku sendiri. Saat ini kau sedang menjalani hidupmu yang baru, bahagialah bersamanya, karna aku akan tetap abadi bersamamu dan merasakan cinta darimu dan darinya..
Aku menangis saat membaca surat itu. Fathur benar-benar sahabat Yusuf yang terbaik..
Setahun kemudian …

Saat ini Aku menjalani lembaran baruku, Ayah kembali tersenyum dan Aku merasakan dicintai oleh dua orang dalam satu raga. Saat ini, saat Aku memeluknya seakan Aku memeluk dua orang sekaligus. Saat ini, saat Aku bertatap mata seakan ada dua orang yang berada di hadapanku. Dan saat ini, saat Aku menggenggam tangan seakan ada dua orang yang menggenggam erat tanganku..
Ya tuhan inilah hidupmu, inilah skenario terbaik yang pernah ku rasakan. Terima kasih Ya Tuhan engkau telah mengembalikan kembali senyum itu. Senyum yang dahulu hilang..

“assalamualaikum.. Ayah, Ibu, Raisya, Kakak pulang”

“waalaikumussalam. Kakak” Aku mendekap tubuh Kak Fajri dengan erat dan penuh tangisan

“Ayah sama Ibu mana?” Tanya Kak Fajri padaku “Raisya Kakak nanya, Ayah dan Ibu mana?”

“Ayah di makam Ibu, Ibu meninggal Kak setahun yang lalu” Aku menangis

“kamu bohong kan! Jawab jujur Raisya! Ibu mana!”

“Kakak, Ibu udah pergi sama Allah Kak, Kakak harus ikhlas”

Kak Fajri berlari menuju kebun teh, karena di dekat situlah Ibu di makamkan. Terlihat Ayah yang sedang mengusap batu nisan Ibu.

“Ibuuuuuuuuuu”

“sudah Fajri sudah, biarkan Ibu pergi dengan tenang”

“Ibu, Fajri membawa calon istri Fajri bu, Fajri minta restu dari Ibu”

“Ibumu pasti merestui pernikahanmu dengan calon istrimu kelak Fajri. Mari kita pulang”

Ayah dan Kak Fajri meninggalkan makam Ibu. Saat itu Kak Fajri menggelar pernikahan di masjid terdekat. Ayah tersenyum dan aku saat ini bersama dua orang yang menyayangiku dalam satu raga. Dan inilah kehidupan yang penuh dengan misteri. Karna kehidupan ini milik-Nya. Dari-Nya kita berasal. Karna-Nya kita bahagia. Biarkan kebahagiaan ini tetap disini. bersama kami. kepada sang pengatur kehidupan berikanlah kehidupan yang indah untuk kami disini. kepada sang pengatur hati. Karna hati-hati ini adalah milik-Mu dan akan kembali pada-Mu

“Hiduplah dengan Hidupmu seiring dengan lingkar waktu”

* * *



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA SECRET ADMIRER

Jatuh cinta? Bukankah itu sesuatu yang indah? Ya, benar sekali. Orang yang jatuh cinta sering kali terjebak oleh perasaannya sendiri, bagaimana bisa? Ya, bisa saja. Mereka cenderung berpikir kata ‘seandainya’ dan seringkali membuat mereka lupa apa sebenarnya cinta itu. Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta saat kau sendiri hanya bisa menjadi pengagum saja. Lebih tepatnya pengagum rahasia. Mungkin sebagian orang berpikir ‘ah kurang bagus, terlalu pecundang, atau itu tidak jaman banget’ ya beberapa orang mungkin akan berkata seperti itu. Lalu bagaimana dengan mereka yang memilih untuk jatuh cinta dengan cara menjadi pengagum rahasia saja. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Karena cinta tidak selamanya harus diungkapkan, bahkan bukankah cinta tetap ada meski tidak diungkapkan? Lalu untuk apa mereka bersusah payah menyatakan perasaannya jika pada akhirnya hanya meninggalkan luka.

Sunset Terakhir part 1

Jogyakarta, 2005 Pantai ini masih sama tetap ramai sejak satu tahun yang lalu. Ombak menggulung begitu indahnya. Angin berhembus seakan ikut dalam sebuah irama. Desisan daun kelapa yang terdengar begitu merdu seakan aku terbawa suasana. Ya, aku suka pantai. Bagiku pantai adalah keindahan, ketenangan jiwa, dan kelembutan. Kau tak percaya ?? cobalah kau berdiri di tepian pasir pantai yang begitu halus hingga kakimu terpenuhi oleh pasir yang masuk melalui celah-celah jari. Apa yang akan aku lakukan disana ? ya, bebas. Satu kata mewakili perasaanku. Aku suka pantai dan kebebasan. Menurutku dengan kebebasan aku bisa memainkan semua kata dan imajinasiku disana. Dan ketika itu hanya kenangan, kenangan, dan kenangan. Kenangan akan persahabatan. Aku dan dia. Aku mencoba menggenggam pasir pantai yang putih, yang halus. Mengingat janji yang terucap untuk saling mengasihi dan menyayangi. Akankah hanya terkubur dalam sebuah memori ?? atauhkah pergi jauh dari hati ?? entahlah, aku sendiri b...

Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita

Hai Hai Hai November .... Apa kabar semuanya? Gimana rasanya memasuki bulan November? Senangkah? Atau sedihkah? Apapun itu tetap semangat! Hehe Ada yg kangen sama saya? Haha *pede Dimanapun kalian berada jangan pernah lupa bahwa kalian pernah melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain :D Langsung aja deh, ada yg pernah merasakan hal seperti ini? Merasakan cinta yang sempurna dari orang tidak sesempurna itu. Terkadang ketidaksempurnaan menjadikan hambatan seseorang untuk bisa menyukai orang lain. Tapi tidak dengan mereka ini. Bagi mereka ketidaksempurnaanlah yang menjadikan mereka mempunyai hati dan cinta yang sempurna. Langsung aja dah, Tara....... Aku Kau Dan Ketidaksempurnaan Kita             Engkau adalah matahari bagiku, dimana aku membutuhkanmu..             Engkau adalah pelangi bagiku dan aku rintik hujan yang menemanimu..     ...

Waktu Tanpa Janji ( Part 4 )

Apa kabar semuanya? Nggak kerasa yah udah lewat dari hari lebaran. Saya pribadi mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga segala sesuatunya akan lebih bermanfaat lagi. Dan bukan ketika bahagia lantas kamu akan bersyukur, tapi bersyukurlah maka kau akan bahagia hehe Langsung aja buat yang udah nunggu-nunggu kelanjutan dari part sebelumnya, ini dia Waktu Tanpa Janji Part 4 ... Happy Reading guys :) Waktu Tanpa Janji (Duniapun mengetahuinya, kau dan aku) Aku tidak bisa menemanimu hari ini, kau bisa sendiri untuk wawancaranya? Aku akan meminta maaf pada seniormu. Pagi-pagi sudah mendapati pesan dari Nisa. Bahkan matanya saja belum terbuka sepenuhnya. Hari ini ia malas sekali untuk keluar. Bahkan ponselnya terus berdering sejak subuh tadi. Seniornya terus menghubunginya. Bahkan mengirimkan banyak pesan padanya. Membuatnya tidak ada pilihan untuk berkata ‘tidak’. Selamat pagi Haje.. kau tidak lupa untuk datang ke tempat siaranku bukan? Wah ku...

Sweet Seventeen Wiqqi

Sweet Seventeen Wiqqi             Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada akhirnya panggilan itu menetap dihati, ya begitu saja tanpa ku harapkan sebelumnya. Mengalir bagai air yang tenang bahkan tak ada gerakan yang terlihat. Tanggal 20 Agustus menjadi tanggal yang ku tunggu. Entah mengapa begitu karena aku pun tak tau. Di umurku yang menginjak 17 tahun aku berharap bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini tepat pukul 00.00 tanggal 20 Agustus umurku 17 tahun, sebagian orang mungkin sering mengatakan bahwa di usia yang ke 17 biasanya menyebut dengan sweet seventeen, entah mengapa bisa begitu karena aku pun tau dari mereka semua. Hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Ya mungkin akan sama seperti hari yang lainnya. Sebagian besar orang mengirimkan pesan bahkan ada juga yang mengucapkan melalui sosial media.   Teman-temanku, guru, keluarga bahkan sahabat karib. Tapi entah mengapa ...